Catatan Mamah Gaptek Mendampingi Anak Belajar Teknologi

(Helsinki, April 2021)

Ini bagian dari perjalanan setahun kemarin gara-gara pandemi.

Awalnya dipicu rasa kesal akibat terkunci di rumah. Jadi sandera Zoom, Netflix, Facebook, Instagram dan kawan‐kawannya. Alhasil penasaran. Gimana biar anak nggak hanya jadi konsumen pasif produk teknologi.

Masalahnya adalah si Mamah ini gaptek. Boro-boro paham teknologi. Bersihin memori HP yang kepenuhan gambar akibat WAG aja bingung. Apa bisa mendampingi anak belajar teknologi?

Pengalaman setahun ini bilang. Ternyata itu memungkinkan. Anak tidak wajib ikut kursus kok.

Catatan ini cuma pengalaman pribadi ya. Mungkin banyak yang nggak sreg karena punya pengalaman berbeda. Plus salim dulu sama Mamah-Mamah alumni kampus teknologi yang memang ahlinya.

Ceritanya memang rada panjang. Tapi secara garis besar poin-poinnya:

  • Berangkat konsep Remaking Literacy, alias mereka ulang makna literasi.
  • Mengumpulkan buku-buku anak bertema STEAM yang jadi inspirasi.
  • Belajar dasar logika berpikir komputasional (tanpa layar)
  • Mulai belajar pemrograman lewat game.
  • Mulai belajar pemrograman di Scratch.
  • Mulai masuk dunia physical computing.

Physical computing ini gampangnya mah ada benda nyata yang bisa dipegang tangan. Dioprek. Bukan cuma menatap pixel di layar komputer. Perjalanan kami sendiri meliputi:

  • Lego robotik sebagai media belajar
  • Mengeksplorasi ragam microcontroller ramah anak
  • Main Raspberry Pi bersama anak

Oh ya, sebelumnya, ada poin penting juga yang patut digarisbawahi:

Si Mamah memutuskan untuk tidak ‘beli’ narasi ala-ala disrupsi. “Anak harus belajar teknologi karena pekerjaan di masa depan akan diambil alih robot bla bla bla….”

Lah, ini si Mamah bukannya bikin catatan soal anak belajar teknologi. Jadi maksudnya kumaha? Boleh cek postingan berikut: https://livalearning.fi/2021/04/25/sebuah-cerita-tentang-oulu/

Baiklah, mari langsung saja kita elaborasi poin-poin di atas ya.

1. Berangkat dari konsep Remaking Literacy

Asal muasal kenapa sih Si Mamah memutuskan untuk mulai memasukkan aspek teknologi dalam pembelajaran anak. Lengkapnya bisa lihat di postingan berikut: https://livalearning.fi/2021/05/05/mereka-ulang-literasi/

2. Mengumpulkan buku-buku anak bertema STEAM yang bisa jadi inspirasi

Di luar sana rasanya banyak sekali buku anak yang bertema STEAM. Rata-rata kami mendapatkannya dengan meminjam ke perpustakaan. Ada beberapa judul buku yang jadi favorit anak-anak:

‐ serial Hello Ruby karangan Linda Liukas

‐ What Do You Do with an Idea? Karya Kobe Yamada

– seri buku karangan Andrea Beaty, antara lain: Iggy Peck Architect, Ada Twist Scientist, dan Rosie Revere Engineer

‐ seri novel grafis Secret Coders karya Gene Luen Yang

Intinya sih Si Mamah berusaha untuk tidak menjadikan ngoprek-ngoprek teknologi di era digital ini lawan dari membaca buku. Alhasil selalu berusaha mencari buku yang topiknya nyambung dengan apa yang sedang dilakukan, terlepas apa media yang digunakan.

3. Belajar logika komputasional tanpa layar

Kami memulainya dengan bantuan buku serial Hello Ruby dan aneka lembar aktivitas yang tersedia di situs helloruby.com.

Ulasan lengkap mengenai belajar berpikir komputasional melalui dongeng Hello Ruby bisa dilihat di tautan berikut: https://livalearning.fi/2021/04/14/mengajari-anak-logika-pemrograman-tanpa-layar/

4. Belajar pemrograman melalui game

Setelah anak mulai paham seperti apa sih berpikir komputasional, lewat bantuan dongeng di seri Hello Ruby, anak mulai dikenalkan pemrograman di layar lewat game. Aplikasi yang kami pilih waktu itu CodeSpark. Di luar sana memang banyak tersedia pilihan aplikasi gamifikasi untuk anak belajar pemrograman. Namun, setelah membanding-bandingkan, CodeSpark ini rasanya yang paling sreg buat kami.

Di dalam CodeSpark ini anak bisa bikin cerita, semacam animasi pendek gitu. Juga bisa bikin game. Nanti anak mengatur apa yang dilakukan tokoh dalam animasi, atau juga mengatur apa yang terjadi di game lewat pilihan ikon‐ikon yang tersedia untuk membentuk logika. Anak tidak perlu lancar membaca karena pilihan ikon-ikon ini bentuknya gambar. Dengan mengatur pilihan urutan ikon-ikon supaya membentuk cerita tertentu, ini anak sebenarnya sedang belajar logika pemrograman.

Terdengar seperti Scratch ya? Memang. Hanya versi lebih sederhananya saja. Bentuknya aplikasi seperti game di HP/Tablet. Rasanya ya seperti sedang main game saja. Tak ubahnya sedang main game Angry Birds atau AmongUs.

CodeSpark ini aplikasi berbayar. Untungnya adalah dia aman, bebas iklan. Tidak perlu lama berlangganan CodeSpark, sebulan atau dua bulan juga cukup. Karena ini gamenya sederhana, anak belajar dengan cepat. Kalau kelamaan juga malah bosan kurang tantangan. CodeSpark ini memang lebih cocok memang buat anak sekitar usia 5-8 tahun.

5. Mulai belajar Scratch

Aplikasi Scratch bisa dibilang aplikasi paling populer saat ini yang sering digunakan untuk anak mulai belajar pemgrograman. Nah, buat kami, Scratch ini jadi kelanjutan dari main-main dengan CodeSpark.

Apa yang dilakukan anak di CodeSpark sebenarnya bisa dibilang bentuk visual coding, bahasa pemrograman yang dipakai di Scratch. Alhasil, ketika mulai menyentuh Scratch, Si Mamah tidak perlu banyak menjelaskan lagi. Secara intuitif anak melihat kemiripan antara CodeSpark dengan Scratch. Anak pun jadi lebih mandiri untuk mengeksplorasi dunia Scratch ini.

Namun sayangnya, sebelum sempat mengeksplorasi Scratch lebih jauh, si bocah nampak bosan bermain dengan Scratch. Si Mamah mulai berpikir, bagaimana supaya bisa mengkombinasikan belajar pemrograman dengan kerja tangan bongkar pasang mainan yang memang disukai oleh anak. Alhasil, masuklah kami ke petualangan selanjutnya. Dunia physical computing.

Petualangan dari mulai berkenalan dengan Hello Ruby sampai Scratch sebetulnya sudah dilakukan sebelum pandemi. Namun untuk masuk physical computing dan mulai lebih jauh lagi belajar coding, ya baru dimulai saat pandemi.

6. Physical computing: Lego Robotic

Alasan utama memilih Lego Robotic sebetulnya ya karena anaknya sedari dulu memang suka sekali dengan Lego Technic. Lego Robotic sebetulnya bisa dibilang gabungan Lego Technic dan Coding. Kalau anaknya memang tertarik kedua hal itu, Lego Robotic bisa jadi pilihan.

Dari beberapa pilihan Lego Robotic Si Mamah memilih Lego Spike Prime. Alasannya cuma karena tampilan fisik Lego Spike lebih menarik dan berwarna-warni 😂. Mirip nuansa Lego Friends. Harapannya sih biar adiknya yang perempuan juga tertarik ikutan ngoprek. Pilihan lain, Lego Mindstorms, tampilannya robot dan cowok banget.

Kalau dari sisi spesifikasi sih sebetulnya tidak jauh berbeda. Lego Mindstorms memang menyesar usia yang lebih besar karena lebih bisa dioprek lebih kompleks. Namun kalau buat anak seusianya, Lego Spike juga sebetulnya cukup. Malah akhir‐akhir ini event FLL (First Lego League) resmi menggunakan Lego Spike sebagai mediumnya. Juga akhir-akhir ini Lego Education nampak lebih banyak menyediakan kurikulum untuk Lego Spike ketimbang produk lainnya. Mungkin memang produk inilah yang sedang digenjot pemasarannya.

Dari sisi pemrograman, Lego Spike menggunakan visual coding yang sangat mirip dengan Scratch. Anak yang sudah familiar dengan Scratch akan langsung bisa mengoperasikannya. Lego Spike juga punya modul untuk pemrograman dalam MicroPython, versi sederhananya dari Python. Enaknya, Lego Spike juga dilengkapi aplikasi yang menyimpan aneka tutorial untuk cara pemakaian dan untuk berbagai project. Termasuk di situ ada tutorial untuk MicroPython. Kalau anaknya tertarik mengeksplorasi, nanti dia akan belajar sendiri MicroPython lewat tutorial tersebut. Kita akan kaget karena lho kok tahu-tahu anaknya sudah bisa menulis line program di MicroPython.

Kekurangannya, dari sisi elektronika, tidak banyak yang bisa dilakukan. Komponen elektronik Lego Robotic ini tersimpan dalam kotak kecil yang disebut Hub. Semacam otaknya lah. Namun si komputer kecil ini tidak disarankan untuk dibuka. Sekalinya rusak, ya repot. Komponen Hub ini yang paling mahal harganya.

Jadi kalau anak penasaran, seperti apa dalamnya si Hub ini, seperti apa sih komponen elektronik di dalam otaknya Lego Robotik, ya sulit juga kita menunjukkannya.

7. Mulai bermain dengan Raspberry Pi

Asal muasal kenapa mulai menyentuh Raspberry Pi memang karena anaknya penasaran dengan komponen elektronika di dalam Hub si komputer kecil otaknya Lego Robotic.

Cerita lebih lengkapnya bisa dilihat di sini: https://livalearning.fi/2021/05/03/mendampingi-anak-belajar-physical-computing-dengan-raspberry-pi/

8. Aneka Microcontroller yang ramah anak

Seharusnya tahapan ini lebih duluan daripada langsung main dengan Raspberry Pi. Si Mamah baru sadar. Raspberry Pi itu powerful banget. Sebetulnya tidak teroptimalisasikan kalau buat anak seumur ini. Harus orang tuanya yang proaktif ikut ngoprek-ngoprek juga.

Mulailah penasaran dengan aneka ragam microcontroller. Beberapa di antaranya:

Arduino

Ini mungkin jenis microcontroller yang paling populer buat belajar robotik. Harganya bersahabat dan fungsinya bisa dari level pemula sampai level ahli. Tapi Si Mamah masih melihat Arduino terlalu kompleks bahkan buat mulai mencari tahu apa dan bagaimananya. Terlalu geeky gitu. Alhasil memang tidak sempat eksplorasi lebih jauh dan beralih ke pilihan lain.

Makey Makey

Bisa dibilang ini adalah microcontroller paling ramah anak. Dia terintegrasi dengan Scratch. Kita tidak perlu repot, dengan mengkoneksikan Makey Makey ke komputer melalui kabel USB, langsung bisa diprogram di Scratch. Lebih serunya, sudah banyak modul program di Scratch yang dibuat orang lain untuk aneka project Makey Makey. Jadi untuk pemula, Makey Makey ini sangat mudah digunakan.

Dari sisi rangkaian elektroniknya prinsip Makey Makey sangat sederhana. Intinya dia itu untuk mengubah benda-benda di sekitar kita buat jadi input ke komputer, layaknya keyboard atau mouse. Misal kita pingin bikin buah pisang jadi klik mouse untuk mengaktifkan ikon di dalam game tertentu. Atau bikin tombol keypad kanan kiri atas bawah dari playdough. Atau bikin poster yang kalau dipegang gambarnya bisa mengaktifkan bunyi-bunyian tertentu dari komputer. Syaratnya memang Makey Makey ini harus selalu terhubung ke komputer.

Biasanya, bahan utama yang dibutuhkan antara lain:

– Kabel USB untuk mengkoneksikan Makey Makey ke komputer/laptop

– Selotip konduktor atau alumnium foil. Ini biasanya digunakan untuk melapisi benda-benda yang sifatnya tidak mengalirkan listrik. Misal, buat melapisi kardus bekas yang ingin kita jadikan “touch screen” di project Makey Makey kita.

– Kabel atau alligator clip untuk mengkoneksikan benda-benda tadi dengan si Makey Makey

Membuat DIY Game Pad dengan Makey Makey

Microbit

Microbit ini jauh lebih canggih dan bisa dioprek macam-macam dibanding Makey Makey. Kebetulan kami pakai Microbit yang V2. Dia bahkan sudah dilengkapi aneka sensor di dalamnya. Ada sensor capacitive touch, juga temperatur loh. Dia juga punya speaker internal, jadi bisa mengeluarkan bunyi. Pun punya semacam display lampu LED 5 x 5, jadi bisa buat menayangkan sesuatu secara sederhana. Harganya juga cukup terjangkau. Hanya memang, kalau mau ngoprek bikin robot atau semacamnya, ya harus nambah kit terpisah buat badan robotnya. Kami sih coba bikin robot-robot kertas saja dengan Microbit. Lumayan lucu, hehe…

Microbit Ticklish Robot

Microbit dari sisi coding, dia pakai visual coding, bisa di Scratch atau di Microsoft Make Code. Tapi bahkan, kalau mau lebih kompleks, pakai Python juga bisa lho.

Kesimpulan:

Tidak perlu semua alat belajar dibeli. Memang sih, setiap medium punya kekhususan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sulit menentukan, mana yang paling direkomendasikan untuk digunakan anak. Semua tergantung kebutuhan, preferensi, juga anggaran dana.

Kalau punya budget cukup dan anaknya suka Lego Technic, Lego Spike memang bisa jadi pilihan tepat. Dia memang efektif buat mengajarkan programming serasa bermain. Aspek motorik dan spasial juga tersentuh karena anak perlu belajar mekanik robotnya. Keunggulan utama sebetulnya ada di ekosistem Lego Education yang senantiasa menyediakan update tutorial project dan kurikulum pembelajaran. Sebagai orang tua kita tidak perlu pusing mendesain kurikulum.

Kalau anak tidak suka mengoprek robot, nampak pula tidak terlalu minat dunia coding, Makey Makey bisa jadi media pengenalan yang baik. Tidak perlu beli versi merek Makey Makey dari MIT. Di marketplace ada produk sejenis dengan merek berbeda. Harga sepaketnya tidak sampai 200 ribu rupiah. Makey Makey ini bisa dikombinsikan dengan kegiatan prakarya bikin-bikin poster dan semacamnya. Jadi kalau anaknya suka art, Makey Makey memang bisa jadi medium untuk menyisipkan aspek teknologi dalam kegiatan prakarya. Biasanya cocok buat anak perempuan yang tidak terlalu tertarik robot dan coding. Kekurangannya memang Makey Makey ini dari sisi teknikal tidak menantang. Terlalu simpel. Sebetulnya bisa dibilang cuma semacam add on buat belajar Scratch secara lebih menarik saja.

Kalau Raspberry Pi, ini memang agak overkill kalau buat anak di bawah 12 tahun. Tapi kalau orang tuanya memang senang ngoprek, komputer mini ini sangat powerful.

Kalau harus pilih satu saja, dengan mengoptimalkan budget dan fungsi (value for money), Microbit mungkin lebih cocok buat anak (saya). Teknikalitasnya jauh di atas Makey Makey, tapi tentu tak sekompleks Raspberry Pi yang sudah macam komputer betulan. Tengah-tengah lah si Microbit ini.

Begitulah….

Bermain-main dengan physical computing ini ternyata jadi cara menyenangkan untuk belajar mekanika, elektronika dan pemrograman. Dari sisi pemrograman, pengalaman pribadi sih ya, petualangan ini jadi jalan untuk membuat anak tertarik eksplorasi bahasa pemrograman lebih lanjut, misalkan Python. Tanpa perlu disuruh-suruh atau disodori kurikulum yang kaku. Belajar sambil bermain intinya.