(Helsinki, Maret 2021)

Salah satu permasalahan pelik yang dihadapi orang tua di era digital ini. Bagaimana membuat anak tetap membaca buku di tengah gempuran YouTube, TikTok, Netflix, Roblox dan kawan-kawannya?
Buku ini mencoba merumuskan strategi bagaimana menyelipkan elemen buku ke dalam aneka aktivitas yang disukai anak. Bahkan jika aktivitas yang disukai anak itu seringali dicap sebagai ‘musuh’-nya buku, semisal main game online atau menonton film.
Penulisnya berusaha mencari jalan tengah di mana buku dan gawai bisa akur berkolaborasi. Multiliterasi yang multimodal memang menyiratkan bahwa buku/teks bukan satu-satunya media berliterasi. Namun, bukan pula diartikan bahwa modalitas lain dibiarkan total mengambil alih peran buku/teks. Dengan strategi yang tepat, gawai dan buku bisa dibuat saling melengkapi.
Ia berangkat dari konsep Maker Learning. Sebuah pendekatan pembelajaran yang percaya bahwa anak mampu mendesain, mengkonstruksi model, dan mencipta karya. Pendekatan ini juga fokus pada peran anak sebagai pembuat, bukan sekedar pemakai.
Pendekatan pembelajaran ini membuka ruang bagi eksplorasi berbagai media, alat dan material. Melalui Maker Learning, sangat memungkinkan bagi kita untuk mengintegrasikan buku, kriya, musik, film, teknologi digital dan aneka modalitas lainnya.
Kreativitas, imajinasi, literasi, kolaborasi, komunikasi. “Hands‐on, minds‐on learning” jadi satu. Penulisnya percaya bahwa pendekatan pembelajaran ini bisa menjawab tantangan literasi di tengah gempuran media digital seperti sekarang ini.
Yang perlu digarisbawahi, ia berargumen bahwa Maker Learning tidak identik dengan teknologi canggih yang mahal. Kegiatan literasi melaui “bikin‐bikin” dapat dilakukan dengan material yang mudah didapat dan terjangkau di sekitar kita.
Bab yang jadi kekuatan buku ini memang tentang bagaimana mengitegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan literasi. Ketimbang terlampau fokus pada bahaya paparan layar bagi anak, energi penulis dialihkan pada bagaimana teknologi digital dapat diberdayakan membuat anak jadi multiliterat.
Sudut pandang buku ini memang lebih ke konteks sekolah. Bagaimana menyusun dan mengimplementasikan kurikulum Maker Learning di kelas dengan berpacu pada konsep Design Thinking. Namun, bukan berarti tidak relevan buat kita orang tua di rumah. Ada banyak tautan referensi berguna. Aneka judul buku, laman situs, blog, media sosial dan lain sebagainya.
Sebagai orang tua yang selalu dibuat resah dengan pertikaian “buku versus gawai,” buku ini menawarkan alternatif solusi yang menarik. Pun memberi inspirasi kata kunci apa yang bisa kita gunakan ketika “googling” mencari bahan aktivitas literasi bersama anak. Sangat bermanfaat, menghindarkan kita dari kewalahan akibat tenggelam dalam lautan informasi.
Sila meluncur: https://a.co/2gWGhCR
