(Helsinki, Februari 2021)
Mulai mencoba bermain dengan Raspberry Pi ini sebenarnya kelanjutan dari kemarin bermain Lego Spike. Ternyata dari Lego Spike anak jadi penasaran sama dua hal.
Pertama sama isi kotak hub (otak) si Lego Spike ini. Bentuknya kan seperti komputer mini, kotak kecil dengan aneka plug kanan kiri. Anak penasaran, isinya apa, sih? Sayangnya hub ini tidak disarankan dibuka karena mudah rusak. Nah, rasa penasaran anak terhadap hub Lego Spike ini bisa jadi pintu masuk untuk belajar lebih jauh soal physical computing.

Kedua, anak ternyata jadi penasaran sama pemrograman pakai Python. Lego Spike ini kan sebenarnya pakai visual coding sederhana yang ramah anak, seperti Scratch. Tapi kalau buat project yang lebih kompleks, dia juga bisa pakai Python. Nah, di lesson plan yang disediakan oleh situs Lego Education, mulai ada project yang codingnya pakai Python. Anaknya jadi tertarik.
Mamah gaptek ini kan boro-boro bisa Python ya. Tapi setidaknya Mamah bisa mencari tahu, buku apa yang bagus buat anak. Dan ternyata memang anaknya merasa cocok sama buku yang ini: “Computer coding Python projects for kids: a step-by-step guide to creating your own Python projects” besutan Carol Vorderman. Bisa dipinjam di perpustakaan dekat rumah. Kemarin-kemarin dia sudah mulai mengikuti tutorial di buku tersebut. Bikin-bikin game sederhana.

Nah, Raspberry Pi ini memfasilitasi dua rasa penasaran anak di atas. Soal dalamnya komputer mini seperti hub Lego Spike, seperti apa sih bentuknya? Juga sangat mendukung buat belajar Python, salah satu bahasa pemrograman yang sering dipakai di Raspberry Pi.
Dan dari situs raspberrypi.org sendiri ternyata banyak tersedia bahan buat belajar anak-anak. Sangat membantu buat kita orang tua.
https://www.raspberrypi.org/learn/
Kita tentu harus menyiapkan perangkat kerasnya. Pertama kita bisa dapatkan Starter kit Raspberry Pi dari di aneka market place dengan harga cukup terjangkau. Saya sendiri memilih Raspberry Pi 4, seperti di video di bawah ini bentuknya:
Starter kit Raspberry Pi ini hanya berisi “otaknya” saja. Kita perlu sambungkan dengan layar, keyboard, speaker, dan mouse supaya bisa dipakai seperti komputer layaknya. Piranti lainnya ini menggunakan yang tersedia di rumah saja. Tidak perlu beli baru.
Kemudian, kita juga perlu siapkan aneka komponen elektronik pendukung untuk praktikum bersama anak. Contohnya aneka kabel, LED, sensor, resistor, dan sebagainya. Karena saya sendiri belum paham sebetulnya butuh komponen elektronik apa saja, akhirnya memilih beli yang bentuknya paketan. Contohnya seperti di video berikut:

Supaya siap dipakai, Raspberry Pi ini perlu diinstal operating system. Kebetulan di Starter Kit yang saya beli sudah tersedia kartu memori yang sudah diisi operating system. Kalau belum ada, kita bisa lihat saja aneka tutorial yang tersedia di internet. Bisa juga lihat buku untuk pemula yang menjelaskan cara menyiapkan Raspberry Pi dari awal. Contohnya buku berikut ini:

Setelah Raspberry Pi berjalan seperti layaknya komputer meja, baru deh kita bisa mulai praktikum. Project pertama dimulai dari yang sederhana saja. Contohnya seperti di video berikut:
Sekian dulu perkenalan soal Raspberry Pi. Saya juga belum tahu akan seperti apa kedepannya petualangan kami bermain dengan Raspberry Pi ini. Nantikan di cerita-cerita berikutnya, ya!
