Sebuah Cerita tentang Oulu

(Oulu, Desember 2019)

Bagaimana masyarakat sebuah kota berkolaborasi membangun kapabilitasnya untuk menghadapi masa depan yang serba tak tentu?

Sedikit cerita pengalaman personal. Tahun 2011 itu kami sekeluarga sedang bersiap-siap mengikuti kepindahan bapaknya anak-anak. Sedang urus permit untuk berangkat ke suatu negara yang konon adalah pusat dunia. Impian semua. Katanya. (Sekarang sih bersyukur gak jadi berangkat ke sana 😂).

Tapi tiba-tiba, muncul berita mengagetkan. Bahwa si N, perusahan telekomunikasi tersebut, harus merumahkan pegawainya besar-besaran di skala global. Alhasil tentu proses pengajuan visa bubar di tengah jalan.

Kaget tentu saja. Heran terutama. Buat apa dia kemarin berniat mengambil pegawai, tidak lama kemudian malah PHK massal?

Sejak itu kami mulai berpikir. Memang sedang ada sesuatu. Ombak besar perubahan yang menerpa. Yang begitu cepat bahkan perusahaan pun kesulitan menyesuaikan laju kapalnya.

Saat itu Prof RK belum rajin berkicau soal disrupsi. Makanya kami nggak tahu bahwa kayak begitu namanya disrupsi.

Dan benar saja.

Waktu itu kami jadinya malah berangkat ke Swedia. Tapi belum lama di sana, sekitar tahun 2013 akhir, giliran perusahaan telekomunikasi E lah yang harus merumahkan banyak pegawainya, bahkan di kantor pusatnya.

Wah ini siklus dua tahunan berarti? Mulai membatin.

Dan memang, cerita yang sama berikutnya: tidak ada yang lebih dari dua tahun ajeg bermukim.

Kami jadi paham. Bahkan buat mereka yang bekerja di sektor teknologi pun, yang namanya ombak perubahan itu sangatlah tidak ramah.

Maka saya setuju dengan pendapat Prof YL dalam tulisannya berikut ini.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2562511337151997&id=100001794682821

Menghadapi disrupsi ini, bukanlah dengan menjadikan sektor pendidikan sebagai pabrik batu bata. Tok memproduksi tenaga kerja yang berkompetensi di bidang teknologi. Seolah belajar ICT adalah utamanya.

Perlu visi yang lebih besar dari itu. Yang lebih fokus pada membangun kapabilitas (capability based), ketimbang sekedar bereaksi terhadap ancaman (threat based).

Juga setia pada cita-cita mulia pendidikan yang tak lekang zaman.

Mau cerita soal bagaimana kota di 65 derajat lintang utara ini membangun kapabilitasnya. Terutama melalui sektor pendidikan. Harapannya, apapun ancaman yang menerpa, masyarakat punya daya untuk menghadapi.

Kalau kebetulan fokus mereka pada sektor sektor sains dan teknologi, karena memang sejarah kekuatan mereka ada di situ.

Tapi kesetiaan pada makna pendidikan, prinsip kesetaraan, dan nilai-nilai bernegaralah yang jadi kompas.

================================

PENDIDIKAN TINGGI

Ketika Oulu mengalami krisis akibat jatuhnya perusahaan telekomunikasi Nka, sekitar tahun 2012-2014, angka pengangguran di kota ini mencapai hampir 20%.

Di kota berpenduduk hanya 250rb jiwa ini, ada 4000 orang pekerja sektor ICT yang mendadak kehilangan pekerjaan.
https://www.facebook.com/bbcnews/videos/1416441291821900/

Salah satu respon sektor pendidikan di kota ini adalah dengan mengembangkan model pedagogi kewirausahaan bernama “LABS Model” di politeknik kota, OAMK.
http://www.oamklabs.fi/

OAMK LABS ini merupakan model untuk merombak sekat antardisipilin di pendidikan tinggi yang seringkali menghambat inovasi. Juga sarana untuk melakukan re-edukasi bagi mereka korban PHK masal itu.

Mahasiswa yang sedang studi jurusan apapun boleh mendaftar program OAMK LABS. Sebagai studi minor. Mencakup 30 SKS, bisa dikerjakan dalam 1 atau 2 semester.

Profesional dari berbagai bidang yang sedang menganggur juga boleh mendaftar. Hasilnya adalah beragamnya latar belakang peserta yang belajar di OAMK LABS ini.

OAMK GameLABS adalah studio yang pertama dibangun. Bahwa memang ada peluang di sektor industri gaming, di mana Finlandia merupakan salah satu pemain kuat.

Kemudian muncul juga OAMK EduLABS yang fokus pada sektor Education Technology.

Lalu OAMK DevLABS untuk kolaborasi sektor ICT dengan sektor lain seperti kesehatan, energi, dsb.

Pendekatan pedagogi di OAMK LABS ini lebih ke “studio based learning & problem based learning.” Tidak berdasar subjek.

OAMK juga punya program untuk mendidik calon tenaga pengajar. Mengundang para profesional di berbagai bidang untuk mengajar di sekolah kejuruan SMK (OSAO) maupun politeknik (OAMK).

Program yang ditawarkan adalah bagian dari Teacher Training Program di OAMK. Di program ini, orang yang tidak memiliki latar pendidikan pedagogi pun boleh mendaftar.

Misalkan profesional atau pensiunan yang sebenarnya kepingin mengajar. Program sekitar 1 tahun ini memberi mereka basis ilmu pedagogi yang dibutuhkan untuk mengajar.
https://www.oamk.fi/c5/en/studies-and-applying/school-professional-teacher-education/professional-teacher-education/

===============================

PENDIDIKAN DASAR

Tempo hari saya sempat membagikan dokumen kurikulum inti pendidikan dasar Finlandia. Ada penekanan yang sangat besar pada aspek “sense of belonging”, “wellbeing”, “cooperation”, dsb. Holistik tak melulu bicara soal kompetensi kognitif.

Berkaitan dengan holistik ini, spiritualitas dan agama pun dianggap penting bagi pendidikan di negeri ini. Ada lho pelajaran agama dalam kurikulum sekolah.

https://livalearning.fi/2021/04/19/pelajaran-agamadi-sekolah-finlandia/

Kemudian juga soal pendekatan yang “strength based”, dan penekanan pada motivasi intrinsik. Dia tidak fokus cari-cari kekurangan anak, lalu menekan anak untuk menambalnya.

Mereka percaya bahwa tiap anak diberkahi kekuatan dan minat masing-masing. Belajar jadi positif, menyenangkan, karena bukan dipaksa, tapi atas dorongan rasa penasaran dalam diri anak.

Mengenai kompetensi, ada yang namanya kompetensi transversal. Multiliterasi salah satu yang penting. Kemudian, yang sudah sering dibahas di mana-mana, soal kemampuan “berpikir & belajar.”

Spesifik soal membangun “entrepreneurship mindset”, ada modul yang menarik di kota Oulu ini. Menyesar anak sekolah dasar. Lucunya salah satu bagian dari program ini mirip sama konsep Kidzania. Ada miniatur kota dengan aneka area bermain profesi. Tapi bedanya, gratis buat anak sekolah. Masuk wahana ini nggak perlu bayar hehe…

Fokus melihat entrepreneurship sebagai mindset, bukan tok profesi. Walau menjadi pengusaha sangat didorong, tapi tidak ada glorifikasi berlebihan bahwa itu yang paling mulia. Pekerja juga harus dihargai.

https://livalearning.fi/2021/04/16/soal-pendidikan-kewirausahaan-di-finlandia/

Kekuatan kota Oulu ini memang bidang ICT, juga sains yang berhubungan dengan kesehatan. Sebagai salah satu pusat riset di Finlandia, dengan jumlah inovasi per kapita yang bahkan dua kali lipat angka ibukota Helsinki.

Namun partisipasi perempuan dalam bidang STEM masih rendah. Maka, bagian dari program pemerintah kota lain adalah kolaborasi dengan swasta untuk mempromosikan subjek STEM pada anak perempuan.
https://www.businessoulu.com/fi/media/uutisarkisto/sata-koululaistyttoa-seikkaili-oulun-nokialla.html

Anak perempuan di sini, dari sisi prestasi di sekolah, itu unggul dalam segala bidang. Baik literasi, sains mapun matematika.

Namun hanya sedikit yang berminat masuk jurusan STEM. Salah satu kendalanya mereka punya “self-efficacy” lebih rendah dari anak lelaki. Masih ada bias-bias dan stereotip gender yang mungkin membuat mereka jadi tidak PD.

Gambaran soal cetak biru pendidikan kota Oulu bisa lihat di sini:

https://drive.google.com/file/d/1h0rRp54uPyuJ6H8mER7VaKVhSEGySz16/view?usp=sharing

==============================

PAUD

PAUD dan penitipan anak universal adalah kunci dari pendidikan di negeri-negeri Nordik. Mereka melihat investasi awal di usia dini yang utama. Pendidikan formal usia sekolah tidak membantu banyak kalau inputnya tak dibenahi.

PAUD memang fokus untuk membangun karakter. Pendidikan soal Nordic Values seperti egalitarianisme, demokrasi, trust, equity, sustainability, dsb menjadi fokus di sini.

Sisu adalah karakter kebangaan bangsa Finlandia. Sederhananya, Sisu mungkin bisa diartikan sebagai “resiliensi.”

Sifat resiliensi ini dibangun melalui banyak sekali melakukan aktivitas permainan fisik di udara terbuka.

Anak usia dini di Oulu rata-rata berada di penitipan anak yang terintegrasi dengan PAUD selama 8 jam sehari. 3 jam di antaranya dihabiskan untuk melakukan aktivitas permainan fisik di luar kelas.

Soal cuaca bukanlah halangan. Hujan, salju, angin tak masalah. Suhu minus 25 derajat adalah batas ketika anak tidak bermain di luar. Penduduk Oulu ini memang penikmat olahraga arktik di tengah kondisi ekstrim.

Soal kreativitas, dibangun melalui prinsip bahwa anak di usia dini itu haknya adalah bermain. Anak belajar melalui aktivitas bermain. Dan pada usia dini ada titik berat pada konsep “True Play”, sebenar-benar bermain.

Dokumen soal pendidikan PAUD di Finlandia bisa lihat di sini:

https://drive.google.com/file/d/11EUGlzuWUHam53K14_Yd7L-KkYXRu41L/view?usp=drivesdk

https://drive.google.com/file/d/1-iB5H8jL5xGtSLokyXRCkEdRpL1GpK8j/view?usp=sharing

Contoh kegiatan PAUD di Oulu:

https://docs.google.com/document/d/1SoK3bN_j4GmABeREh6M5ZoAXWIsDdxTA/edit?usp=drivesdk&ouid=111234781160391811459&rtpof=true&sd=true

==========================

PPPP (Public-People-Private Partnership)

Intinya di sini itu ada kolaborasi antar semua pihak. Pemerintah, sektor pendidikan, masayarakat luas, dan sektor swasta.

Salah satu program kemitraan yang menarik adalah bagaimana membuat sekolah sebagai bagian dari ekosistem inovasi yang sedang dibangun.

https://livalearning.fi/2021/04/16/sekolah-sebagai-platform-inovasi/

Eksositem ini pun dibangun tidak terlepas dari dukungan jaminan sosial yang kuat. Selain pendidikan & kesehatan gratis, misal ada alokasi dana yang membantu biaya hidup kita jika kita sedang membangun usaha. Semacam “entrepreneurship grant.”
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=127054745422362&id=105058127622024

==============================

IMAJINASI POLITIK

Mereka juga memikirkan, seperti apa model jejaring pengaman sosial yang dibutuhkan warganya di masa depan.

Disrupsi teknologi ini kan juga punya skenario distopia, “winner takes all.”

Seperti yang banyak didiskusikan, ujung-ujungnya perusahaaan seperti FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix, Google) yang menguasai segalanya. Macam yang digambarkan di film The Circle.

Tapi, tidak semua dari kita punya “passion” di bidang teknologi kan? Tidak semua bakal kerja di FAANG?

Lalu kalau begitu, orang-orang yang “passion”-nya di bidang-bidang yang dianggap tidak produktif ini bagaimana nasibnya? Juga mereka yang kehilangan pekerjaan karena diambil alih otomasi?

Maka dari itu, kota ini jadi salah satu tempat dilakukannya uji coba UBI (Universal Basic Income) tempo lalu.

Reportase sementara dari uji coba tersebut sudah keluar. Sila meluncur ke tautan berikut jika tertarik:
http://julkaisut.valtioneuvosto.fi/bitstream/handle/10024/161361/Report_The%20Basic%20Income%20Experiment%2020172018%20in%20Finland.pdf

===========================

KESIMPULAN

Pertanyaanya, mengapa bisa semua lini serba terintegrasi begini?

Ini bisa tercipta karena adanya kolaborasi. Dan itu butuh modal sosial berupa jaringan “trust” yang tinggi. Individu pun punya agensi & otonomi. Ada distribusi “kepemimpinan.”

Kesenjangan kapabilitas, gap pengetahuan pun relatif rendah di sini. Komunikasi, kordinasi pun jadi lebih lancar, lebih mudah saling memahami.

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?

Membayangkan memperbaiki negara sebesar dan sekompleks Indonesia memang sulit.
Tak bisa dibandingkan sama Finlandia.

Tapi banyak hal yang bisa dimulai di level kota. Dengan kekhasan masing-masing, tiap kota bisa membangun model kapabilitas uniknya sendiri. Tidak semua harus fokus soal ICT.

Apalagi sekarang dengan desentralisasi, banyak kewenangan ada di tangan kota/kabupaten. Terutama sektor pendidikan.

Semoga para pemimpin daerah kita punya visi. Masyarakat pun terlibat aktif dan peduli.

Salam sono buat kota kelahiran, Bandung, si jelita dari Priangan.❤️