(Helsinki, Mei 2021)
Selamat hari ibu!

Ngomong-ngomong hari ibu saya jadi ingat percakapan dengan seorang teman kemarin ini. Lagu lama yang tak kunjung usai diputar sebetulnya, soal dilema peran ibu, antara ranah domestik dan ranah publik.
Kami jadi membahas sebuah buku yang judulnya Mothers & Others karya ahli sosiobiologi bernam Sarah Hrdy. Buku ini membahas soal evolusi dari sudut pandang tak biasa. Bukan bertema “survival for the fittest” seperti yang sering kita dengar. Tapi semua dimulai dari sebuah konsep bernama “alloparenting.”
Alloparenting adalah pengasuhan bersama. Anak diasuh tidak hanya oleh ibunya saja. Ada dukungan bapaknya, saudara-saudara kandung, kerabat, tetangga, semua. Butuh satu desa untuk membesarkan anak. Harfiah seperti itu.
Menurut Sarah Hrdy, sejarah evolusi manusia menunjukkan alloparenting ini membedakan manusia dari simpanse, misal. Manusia mampu mempercayai orang lain untuk memegang bayinya. Simpanse tidak begitu. Bisa mati bayinya bahkan di tangan bapaknya sendiri.
Sarah Hrdy percaya bahwa alloparenting-lah yang menjadi dasar berkembangnya empati, altruisme dan kerja sama antar manusia. Bayi manusia lahir dengan ukuran korteks yang luas dan haus energi. Orang tuanya harus mendapat cukup makanan untuk menjaga keberlangsungan hidup bayinya.
Kerja berburu itu tidak pasti dapat. Ada kalanya bapak yang berburu itu pulang tak membawa apa-apa. Ia harus bergantung pada hasil buruan teman satu klannya. Atau hasil umbi-umbian yang dikumpulkan kaum wanita.
Itulah mengapa wanita juga aktif mengumpulkan makanan. Kalau sang ibu harus menyusur ladang atau hutan yang terlampau berbahaya, sang bayi dititip ke lingkaran pendukung yang dipercayainya.
Konon, bayi zaman dahulu itu memang tak henti didekap dan dibersamai oleh orang dewasa. Seperti dalam gambar ibu yang kerja di ladang dengan bayi dalam gendongan di punggungnya. Hal yang menjadi dasar berkembangnya “attachment theory.”
Hanya saja ada info yang kurang lengkap menurut Sarah Hrdy. Bayi digendong itu tidak selalu 100% hanya oleh ibunya saja. Tentu dominan sama ibunya. Tapi ada kalanya ibunya repot. Atau entah apa mungkin juga butuh “me time” seperti ibu-ibu zaman kiwari.
Ikatan persaudaraan para wanita yang bekerja sama dalam hal alloparenting ini sangat erat. Mereka paham, menjaga anak adalah kerja serius. Menjaga nyawa. Bahaya yang mengintai manusia zaman dulu ini kan tidak main-main.
Karena alloparenting ini jugalah, komunitas manusia zaman dahulu mau berbagi sumber daya. Mereka melihat orang lain sebagai alloparent potensial. Bukan keputusan cerdas untuk menjaga kelangsungan spesies kalau membiarkan tetangga sendiri mati kelaparan.
Gara-gara buku itu kami jadi berpikir, debat tak usai soal dilema peran ibu, apakah bisa dirunut akar masalahnya dari makin pudarnya konsep alloparenting dalam masyarakat modern kita, ya?
Lihatlah ekonomi modern yang tidak memandang pengasuhan sebagai kerja produktif, tidak dianggap dalam perhitungan GDP. Negara tidak serius membangun infrastruktur yang mendukung pengasuhan anak, pendidikan pun kesehatan. Support system dalam komunitas makin minim akibat masyarakat yang makin individualis. Sesama ibu pun kita malah sibuk “momwar” bukannya saling mendukung.
Saat pandemi inilah terpampang nyata. Ketika bangunan alloparenting yang sudahlah minim ini makin rubuh terkena badai pandemi. Anak-anak tidak datang ke sekolah, tidak bisa main bersama teman, tidak bisa berkunjung ke rumah nenek.
Tanpa alloparenting, kerja pengasuhan jadi kerja sunyi masing-masing keluarga, bahkan masing-masing ibu. Segala prahara pun terpaksa harus dipendam sendiri. Dan itu berat rasanya.
Pandemi ini membuat tersadar, sungguh memang benar kata pepatah lama itu. “It really takes a village to raise a child.”
