(Oulu, Februari 2019)
Minggu lalu itu ada pembicara tamu dari pemerintah kota. Bagian yang mengurusi inovasi dan semacamnya. Dia cerita tentang proyek yang berjalan 3 tahun belakangan di 6 kota besar di Finlandia ini. Helsinki, Tampere, Oulu, dsb. Proyeknya seperti judul di atas.

Intinya sih sebetulnya sederhana. Tidak ada sesuatu yang wah banget, baru banget, tidak kepikiran sama sekali oleh kita atau bagimana. There’s nothing new under the sun. Pepatah itu benar adanya. Bedanya si ya di implementasi aja. Nampak jalan dengan sukses ini proyeknya.
Inti dari proyek ini untuk bikin sekolah jadi semacam laboratorium hidup. Tempat terjadinya percepatan eksperimentasi. Tempat terjadinya kolaborasi, kreasi bersama antara pihak bisnis, sekolah, dan pemerintah. Fokus utamanya untuk menciptakan inovasi di area “smart physical learning environment” dan “digital tools for learning”.
Pendekatannya ada dua. Yang pertama, yang butuh adalah pihak swasta. Kalau pihak bisnis, aka si perusahaan-perusahaan start-up EdTEch dan semacamnya itu butuh tempat untuk eksperimen solusi yang dikembangkannya. Maka pemerintah kota bakal memfasilitasi mereka buat kolaborasi sama sekolah. Test pilot produk bisa dilakukan di sekolah. Sekolah jadi semacam laboratorium hidup ya maksudnya begitu. Pemerintah sebagai regulator ya memikirkan bagaimana supaya tidak ada pelanggaran etika. Gimana supaya aman buat anak-anak. Supaya anak-anak sekolah itu tidak cuma jadi kelinci percobaan doank. Di sini tidak ada uang yang digelontorkan pemerintah. Perusahaan yang menanggung semua biaya, soalnya kan mereka yang butuh.
Yang kedua, yang butuh solusi adalah pihak sekolah. Mereka memaparkan permasalahan yang dihadapi apa. Nanti pemerintah memfasilitasi, bikin bidding ke para start-up EdTEch di kota tersebut, siapa yang bisa menawarkan solusi terbaik. Untuk proyek ini, dana yang bakal diberikan oleh pemerintah tidak besar. Cuma 5000e untuk tiap proyek. Tapi segitu sih cukup berarti buat para start-up baru. Dan mereka dapat kesempatan eksperimentasi pula.
Contohnya seperti apa? Kalau di Oulu ini ada beberapa macam yang sudah jadi produk…
Semisal ada sebuah sekolah yang namanya Hintta. Persoalan dia itu ngin membuat anak lebih aktif bergerak secara fisik. Tahu sendiri kan ya anak jaman sekarang, kebanyakan main game jadi mager. Ini sekolah kepingin membuat lingkungan belajar yang mengkondisikan anak supaya aktif secara fisik.
Lalu ya terlibatlah para start-up itu untuk menelurkan solusi. Hasilnya macam-macam.
Ada perusahaan yang namanya Lekolar, yang mendesain ulang lingkungan fisik sekolah supaya layout, desain, membuat anak lebih aktif bergerak. Lucu sih, kadang solusinya sederhana. Kayak menggambari lantai sekolah jadi kayak papan engklek, supaya anak loncat-loncat di lorong sekolah.
Dibuat juga makerspace, semacam kayak gabungan perpustakaan, bengkel crafting, dan ruang bermain. Makerspace ini didesain layoutnya supaya mendukung kolaborasi. Plus didesain supaya anak mondar-mandir banyak jalan kesana kemari gitu di lah. Ya gitulah sulit kumau menjelaskan detail, aku bukan anak desain.
Ada juga perusahaan yang bikin aplikasi yang namanya Breikkeri. Tahu kan ya kalau di Finlandia itu belajar 45 menit, 15 menit break? Ya si Breikkeri ini kayak bikin activity gimana gitu yang bisa dimainkan bersama di sekolah. Ada tokoh-tokohnya kartun lucu begitu. Gamenya sih ya gerakan fisik. Bagian digitalnya cuma sebagai guideline, biar gerak mainnya ada storyline-nya aja. Biar gak garink gitu, kadang guru kan nggak ada ide bikin permainan apa yang seru, bosen kan kalau lagi-lagi ucing sumput deui… Nah si Breikkeri ini bakal meng-update koleksi aktivitas-nya secara rutin. Jadi tinggal klik play, lalu keluar deh ini sekarang break kita mainan apa rame-rame di kelas..
Di sekolah lain, ada solusi lain. Misal di Oulu International School, ada perusahaan yang pilot test produknya yang namanya Qridi. Ini kayak personal learning tracker app gitu. Jadi si anak akan membuat target belajarnya bersama guru. Lalu ini app bisa memonitor progressnya sampai mana. Mengatur target, jadwal alokasi belajar dsb. Termasuk ada bagian untuk target aktivitas fisik. Si app bisa disambung ke wearable device yang bisa men-track aktivitas fisik anak. Jalan kaki, naik sepeda, main bola dsb. Si anak menetapkan target masing-masing. Nanti dashboard si Qridi ketahuan deh sudah berapa persen level target tercapai di hari itu.
Ya begitulah selayang pandang soal bagaimana pemerintah Finlandia berusaha menghidupkan inovasi di bidang EdTech…
Sekarang, pertanyaannya:
Kenapa sekolah mau ya terlibat jadi living lab? Kenapa guru-gurunya nggak resisten, “wah ini mah bakal nambah-nambahin kerjaan kita aja!” Kenapa ya bisa ada trust, antara pemerintah, pihak swasta/bisnis, dan sekolah? Sehingga yang namanya kolaborasi dan kokreasi bisa berjalan lancar? Kira-kira kenapa ya? Ada ide?
