Soal Pendidikan Kewirausahaan di Finlandia

(Oulu, Februari 2019)

Setiap hari ada petugas yang menyusur sudut jalanan kota Oulu. Mengeruk salju dari jalan, lalu menyebar batu kerikil agar tidak licin. Sebut saja, salah satunya, Pak Erkki. Dini hari, sekitar jam 3 – 4 pagi seringkali terdengar suara traktornya Pak Erkki bekerja. Ini supaya orang bisa aman bersepeda. Kalau tidak begitu, ya saljunya numpuk jadi gunung. Atau ketika suhu tetiba menghangat, salju bakal mencair, lalu saat suhu mendingin lagi akan jadi es. Macam bersepeda di arena ice skating nanti. Roda bakal selip.

Setiap pagi seorang anak muda bersepeda dari rumahnya di tepi danau Kuivasjärvi ke kantornya di Teknologiakylä. Sebut saja dia seorang wirausaha muda. Pendiri sebuah start-up di bidang teknologi. Memproduksi sebuah wearable device yang sempat populer gara-gara dipakai sama Prince Harry. Oura Ring.

Kalau Oura sudah berhasil meraup untung dari menjual produknya ke seluruh dunia, bakal ada porsi cukup besar yang bakal kena pajak. Saya nggak tahu tepatnya gimana. Apakah ada diskon kalau buat start-up. Embuh. Tapi ya kalau ikut logika negara Nordik. Pajak adalah keniscayaan yang haqiqi.

Kalau dulu mendarat di Swedia, hal pertama yang harus dilakukan adalah pergi ke Skatteverket alias kantor pajak. Daftar untuk mendapat Personnummer, nomer kependudukan. Perlu sekali buat hidup sehari-hari, dari daftar puskesmas, daftar sekolah, buka rekening Bank dsb. Sebetulnya hakikat utama Personnummer itu buat menelusur pendapatan warga, supaya terpaksa taat pajak semua.

Nah kalau di Finlandia, Personnummer bahkan didapat sebelum mendarat di bandara Vantaa Helsinki sana. Alias nempel sama Residence Permit. Sebelum menjejak bumi Finlandia, sebelum tahu kantor pajak ada di mana, anda sudah teken kontrak buat rela dipajaki oleh pemerintahnya. Lebih kezaaaam lagi hahaha…

Tapi nanti dari uang pajak itu, yang dibayar start-up macam Oura, sampai megakorporasi macam Nokia, petugas pembersih jalan macam Pak Erkki bakal menikmati: sekolah gratis buat anak-anaknya, jaminan kesehatan, uang saku bulanan buat anak, dana pensiun dsb..

Karena tanpa petugas pembersih jalan macam Pak Erkki, inovasi macam Oura dan Nokia itu tidak akan pernah terwujud. Walau Pak Erkki tidak paham soal teknologi, tapi tanpa jasanya, seorang engineer Nokia nggak akan selamat bersepeda dari rumah ke kantornya.

Di setiap inovasi baru yang dikeluarkan oleh start-up teknologi mutakhir macam Oura, ada bagian teknologi yang risetnya didanai oleh pemerintah. Entah chip bagian mana, entah software bagian mana. R&D di awal, yang mahal dan beresiko tinggi itu, tentu saja dibayari negara.

Dibayar dari uang pajak yang salah satunya kontribusi pajak Pak Erkki, sang pembersih jalan yang sudah 30 tahun bekerja menyusur setiap sudut kota. Makanya wajar saja, kalau di setiap produk yang berhasil dijual Oura nantinya, ada hak pak pembersih jalan yang harus dikembalikan kepadanya. Semua saling terkait, saling berhutang budi satu sama lain. Bukannya begitu yang namanya masyarakat, komunitas?

Satu value mendasar yang ditanamkan dalam pendidikan kewirausahaan di sini ya bisa diilustrasikan cerita di atas. Dongeng yang bikin para anak muda, calon wirausahawan ini tidak keberatan buat bayar pajak tinggi nantinya. Karena mekanisme pajak progresif ini juga yang bikin pemerintah bisa menerapkan standar UMR yang manusiawi, bisa menerapkan jaring pengaman sosial yang mumpuni. Supaya tercipta eksosistem inovasi keseluruhan yang saling mendukung. (walau kalau sudah jadi multinasional sekelas Nokia sih akalnya ya banyak aja, buat meminimalisir pajak yang harus dibayar di kantor pusat di Espoo sana 😂)

Ada faktor kontinuitas & kumulatif dari sebuah inovasi. Kontinu dalam artian satu inovasi terbaru pun sebenarnya juga lanjutan dari yang dulu-dulu. Kumulatif ya artinya satu produk itu sebenarnya hasil kerja keras semua orang di semua lini kehidupan, tidak cuma si jenius teknologi yang bekerja di garasinya, tapi juga pak pembersih jalan yang tidak ngerti apa-apa soal teknologi.

Jadi kalau nanti sudah jadi pendiri perusahaan teknologi milyaran dolar nggak bakal olohok gitu. Nggak bakal ngenyek juga, bahwa pengusaha itu profesi paling mulia segala bangsa. Karena ya tanpa pekerja juga, pengusaha mah tidak bisa apa-apa.

Ini satu hal yang menurut saya beda dari pendidikan kewirausahaan di sini. Tidak ada glorifikasi berlebih pada profesi wirausaha, jargon-jargon yang membakar soal betapa lebih tinggi derajatnya pengusaha dibanding profesi jelata lainnya. (walau setiap ibu, dalam lubuk hati terdalam tentu berdoa anaknya jadi founder startap unicorn, bukan jadi pengukur jalan raya)

Seperti yang sudah sering saya ceritakan, negeri Nordik itu negeri Sosial-Demokrat. Bukan sosialis, bukan kapitalis juga. Mereka lebih senang menyebutnya sebagai politik jalan ketiga.

Buat mencapai model ini mereka berdarah-darah. Sisa perang saudara masih ada di kota Oulu ini. Sebuah stadion sepak bola berdiri di atas pulau Raatinsaari, yang dulunya adalah kemah konsentrasi buat golongan Merah yang kalah telak dari golongan Putih. Banyak yang mati merana di sana.

Tapi ujungnya damai. Rekonsiliasi. Malah bisa bersatu bersama waktu mengusir Rusia yang kepingin mencaplok ulang Finlandia di Winter War yang fenomenal itu.

Terlihat jelas juga di sektor pendidikan. Guru-guru Finlandia yang notabene kelas menengah terpelajar dan golongan putih, bahkan mau menerapkan reformasi pendidikan soal sekolah komprehensif yang ideologinya cenderung merah itu. Soalnya sudah damai. Sudah bisa mencapai konsensus yang mana yang terbaik buat semua. Nggak lagi kaca mata kuda: yang ini merah, yang ini putih.

Ini salah satu faktor, selain 1001 alasan lain, kenapa konsep pendidikan Finlandia ya tidak bisa diterapkan di Indonesia. (Walau pak AB waktu jadi Mendikbud sempat bikin slide soal beberapa semangat pendidikan ala Finlandia itu seiring dengan prinsip-prinsip KHD…. Walau Bung Hatta waktu merumuskan Koperasi ala Pancasila itu pun sempat survei dulu ke negeri-negeri Nordik..)

Soalnya akan banyak bahasan yang model begini. Yang tabu hukumnya buat didiskusikan di masyarakat negeri kita tercinta. Yang belum bisa menemukan rekonsiliasi dari sebuah luka lama sejarah.

Ya maklum sih, kita kan kompleks..260jt manusia. 17rb pulau. 300 suku bangsa. 700 bahasa…Kita akan menemukan jalan keluar kita sendiri, dalam rentang waktu kita sendiri…