(Oulu, November 2019)
Lagi ramai di beranda FB, tulisan yang merangkum dengan apik risetnya SMERU. Dibagikan oleh kawan-kawan.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221513931020095&id=1306174187
Soal mengapa anak yang lahir di keluarga miskin sulit sekali keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
Konteksnya Indonesia. Tapi sejalan dengan kesimpulan di berbagai negara lain.
Jadi ingat musim gugur tahun lalu. Waktu baru pertama kali mau masuk kelas.
Namanya ibu-ibu hobi DraKoran, referensiku soal teori pendidikan ya cuma si drama Sky Castle itu tok, haha..

Polos saja. Datang-datang ke kampus itu dengan semangat 45. Bahwasanya investasi di sektor pendidikan adalah kunci kemajuan suatu negara.
Memerangi kebodohan, kelaparan, kemiskinan. Kuncinya di pendidikan, dengan sekolahnya, gurunya, kurikulum dsb.
Nggak tahunya, setahun pertama itu dibolak-balik asumsiku sama orang-orang kutub ini.
Buat mereka, ternyata sistem pendidikan (sekolah) itu prioritas nomor sekian.
Hah, kok bisa?! Masa sih? Negeri yang konon paling peduli soal pendidikan rakyatnya ini. Ternyata kok mengajari sesat begitu?
Jadi apa teori mereka soal pendidikan?
Mereka itu mendasarkan pemikiran pada teori reproduksi sosial, persis kayak yang disampaikan si riset SMERU tadi.
Jadi kalau anak lahir di keluarga miskin, cenderung jadi miskin lagi. Begitu pun anaknya nanti. Dan seterusnya.
Lah, bukannya itu kenapa pendidikan jadi penting? Supaya memutus mata rantai lingkaran kemiskinan itu?
Ternyata begini menurut mereka…
Modal alias capital itu kan ada beberapa bentuk. Economic capital, cultural capital, human capital, social capital. Ini yang bikin nasib seseorang jadi mbulet tadi.
Gampangnya mah..
Kalau keluarga berada dia akan cenderung memiliki modal budaya kelas priyayi. Bayangkan “cultural capital” keluarganya almarhum Eyang Habibie. Cara berpikir, cara berbicara, bertingkah laku, hobi dan kebiasaannya Pak Ilham bagaimana. Pokoknya “berbudaya” pisan.
Ini bakal lanjut ke dunia pendidikan formal, sekolah, alias human capital. Mereka yang dibesarkan dengan sangat “berbudaya” tadi bakal cenderung sukses pencapaian akademiknya. Punya skill yang mumpuni pula.
Lanjut ke modal sosial yang urusannya sama jejaring sosial, rasa saling percaya, kedekatan komunitas dll. Mereka yang nyakola cenderung punya lingkaran pertemanan orang-orang yang sekufu pula.
Jadilah aneka kesempatan terbuka. Udah mah punya modal pendidikan dan keterampilan yang mumpuni, kenalannya orang-orang yang pas. Ya terbukalah aneka kesempatan kerja.
Mereka yang punya kerjaan bagus, bahkan punya usaha sukses, ya jelas bakal mengumpulkan modal finansial yang cukup.
Muter lah itu mekanisme. Terus ke generasi selanjutnya.
Nah orang sini tu percaya, memutus mata rantai itu paling efektif dilakukan bukan pertama fokus di bagian human capital (pendidikan dalam arti sistem persekolahan, mengasah skill, pengetahuan dkk).
Risetnya bilang intervensi yang paling mempengaruhi pencapaian hidup seseorang itu di bagian modal budaya & modal sosial terlebih dahulu.
Mereka juga percaya, yang paling berpengaruh terhadap pembentukan modal budaya & modal sosial seorang anak itu ada di keluarga. Mulai sebelum anak lahir, sampai usia dini pas dia mau masuk sekolah dasar, itu fase kritikal.
Mereka yakin, intervensi terbaik sekalipun di dalam sistem pendidikan persekolahan, tidak akan mampu mengeleminasi kesenjangan pencapaian anak priyayi dan anak jelata. Selama inputnya belum relatif di-“setarakan”.
Makanya, alih-alih banyak bahas soal sekolah, kurikulum, pelatihan guru dsb. Belajar pendidikan di sini itu dicekoki dulu kita sama aneka soal kesejahteraan keluarga. (Makanya pula pendidikan di sini tak bisa dipisahkan dari kebijakan soal universal child care).
Kenapa bantuan tunai buat keluarga miskin bisa membantu. Kenapa ibu hamil nggak boleh kurang gizi. Kenapa menyusui itu penting. Kenapa kalau ibu tunggal itu lebih bagus kalau dia bekerja dan punya penghasilan. Kenapa penitipan anak universal itu perlu. Kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi. Kenapa PAUD harus terintegrasi sama penitipan anak. Kenapa ayah harus terlibat di pengasuhan dsb…
Dan nerusin obrolan kemarin…
Gara-gara baca laporan krisis pengasuhan global kemarin. Jadi ketemu satu benang merah.
Bahwa salah satu langkah penting memutus lingkaran setan yang kita bahas di atas adalah dengan membuat bapak-bapak lebih terlibat pengasuhan di rumah.
(Selain tentu menafkahi yang halal dan thoyib, kalau itu sih semua juga sudah sepakat…)
Datanya bilang bapak-bapak berpendidikan tinggi ternyata lebih terlibat dalam soal pengasuhan. Kedekatan ayah-anak ini termasuk salah satu bentuk modal sosial di dalam keluarga. Makanya mbulet, mereka yang punya privilese kehadiran bapak dalam pengasuhan ya jadi punya modal lebih buat maju di pendidikan sekolah.
Makin runyam permasalahan yang dihadapi anak-anak yang terjebak kemiskin struktural itu. Bapak mereka ternyata banyak yang absen, tidak hadir, tidak terlibat.
Bahkan mungkin anak-anak itu banyak yang nggak tahu siapa bapaknya. Kadung kabur sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Sungguh laki-laki macam apa. 😔
