
(Oulu, Desember 2019)
Yang unik dari pendidikan guru di sini itu menurut saya satu. Tradisi yang kuat di bidang sosiologi pendidikan. Itu seperti yang saya ceritakan di dongeng berlatar drama Sky Castle kemarin.
Mengapa kita disuruh belajar soal Bourdieu dulu, serba-serbi reproduksi sosial, modal budaya, modal sosial.
Kemudian mengapa muncul terus itu si Esping-Andersen di aneka mata kuliah. Dia banyak bahas kemiskinan intergenerasi, mitos meritokrasi dan semacamnya.
Karena ini negara kesejahteraan, landasan etik dan moral mereka mengakar pada prinsip-prinsip egalitarianisme.
Ini yang mereka tanamkan terlebih dahulu. Baru deh bahas yang teknis-teknis itu, praktek mengajar, kurikulum, penilaian, dan kawan-kawan.
Guru jadi punya kesadaran kritis.
Mereka paham betul soal privilese. Pun bahwa murid yang datang ke sekolah ini titik awalnya sungguh beragam.
Dalam mengajar mereka jadi punya spirit βequityβ, memang ada anak yang butuh dikasi dingklik lebih supaya bisa memanjat bareng anak-anak lainnya.
Guru pun paham betul ketika misal ada murid yang datang ke sekolah, dinyana minim motivasi, suka berulah, kalo diajari ndableg, semua ada latar belakangnya.
Mereka punya empati untuk tidak sembarangan kasih stigma ini murid malas, ini murid nakal.
Ketika lanjut bahas hal teknis macam kurikulum dan praktek di ruang kelas, guru pun punya sensitivitas.
Titik mana yang punya potensi memarginalkan anak didik. Titik mana yang bias relasi kuasa. Titik mana yang memasung daya kritis dan kreativitas anak, dsb.
Ini yang bikin pendidikan di sini jadi transformatif. Landasan etik dan moral yang kokoh melahirkan kesadaran kritis di kalangan para guru. Inovasi di hal-hal teknis yang berujung pada praktek pembelajaran efektif, seperti natural saja lahir mengikuti.
Dan kalau dipikir-pikir, semua prinsip etik yang diajar di sini nggak ada yang baru buat kita orang Indonesia. Lha kok mirip-mirip sama Pancasila. Apalagi sila ke 5.
Mungkin bedanya, kalau kita mah cuma dihapal. Lupa dimaknai, apalagi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Warna-warni di Swedia & Finlandia ini malah jadi cinta Pancasila. Jaman sekolah di Indonesia dulu mah durhaka. π
