Pelajaran Agama di Sekolah Finlandia

(Stockholm, Juli 2019)

Mumpung lagi duduk-duduk di dekat Masjid. Jadi ingat pingin cerita soal ini. Tentang pelajaran agama di sekolah.

Ada yang unik perihal pelajaran agama di sekolah di Finlandia. Beda sendiri dibanding negara–negara Nordik lainnya. Termasuk bila dibandingkan sama Swedia.

Masjid Husby, Stockholm

Di Finlandia itu pelajaran agama dipisah kelasnya mengikuti denominasi agama masing-masing anak. Sementara di negara-negara Nordik lain semua dikumpul jadi satu kelas, lebih semacam interfaith dialogue (CMIIW).

Mayoritas anak Finlandia beragama Lutheran. Jika orang tuanya terdaftar di gereja Lutheran, maka ia wajib masuk kelas Lutheran.

Anak beragama lain boleh memilih mau masuk kelas Etika, atau kelas sesuai agamanya, jika ada.

Menurut peraturan jika ada lebih dari 3 anak yang orang tuanya minta diberi pelajaran agama tertentu, pemerintah wajib memberi fasilitas.

Idealnya begitu. Walau di lapangan ya banyak terbentur urusan logistik. Tapi kalau tinggal di kota besar macam Helsinki, Tampere, Turku, Oulu yang cukup banyak pendatang, pelajaran agama Islam insya Allah ada.

Manfaat positif ada pelajaran agama itu dirasa terutama oleh anak-anak berlatar imigran.

Misal untuk anak Muslim. Pelajaran agama jadi semacam ruang tempat mereka menegosiasikan identitas diri.

Kenyataannya tidaklah mudah memaknai menjadi Muslim sekaligus menjadi seorang Finlandia (yang kental budaya Lutherannya).

Di situ peran guru membantu anak-anak ini supaya tidak merasa terbelah. Memahami bahwa Islam dan Barat itu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

Pelajaran agama juga jadi semacam ruang yang aman dan nyaman buat mereka berdiskusi apa adanya soal masalah-masalah sensitif. Tanpa harus melulu ‘membela’ posisi dirinya sebagai minoritas.

Jika berada di kelas yang sepenuhnya dialog antar-agama, bagaimanapun akan ada relasi kuasa yang tidak imbang. Nuansa mayoritas pasti lebih mewarnai. Anak-anak yang berlatar minoritas ini seringkali segan untuk bersuara.

Adanya pelajaran agama di sekolah juga jadi semacam pengakuan dari negara. Bahwa mereka dengan segala kebiasaan maupun atributnya (jilbab dsb) boleh terlihat di ruang publik. Bahwa identitas minoritas mereka itu merupakan bagian dari masyarakat Finlandia yang semakin majemuk.

Itu penting sekali bagi anak-anak imigran, untuk mengurangi rasa alienasi dan terbuang. Tau sendiri kan ya, anak yang terasing gitu sasaran empuk buat masuknya ekstrimisme semacam I*I*.

Guru yang mengajar agama, bukan melulu tokoh agama. Tapi harus memiliki latar pendidikan pedagogi dan pengetahuan soal agama yang diajar, walau memang tidak harus memeluk agama tersebut.

Untuk area tertentu, di mana kesulitan mencari guru, memang ada kelas agama Islam yang diajar oleh guru yang bukan beragama Islam. Di situ orang tua banyak keberatan dan memilih memasukkan anak ke kelas pelajaran Etika. Ya wajar saja.

Tapi tentu itu jarang. Kebanyakan guru agama Islam di Finlandia ya memang pemeluk agama Islam. Yang juga kebanyakan berlatar imigran.

Saya menemukan guru agama Islam yang asalnya Somalia, Maroko, Bangladesh dsb. Kualifikasi jadi guru (apapun) di Finlandia kan nggak asal-asalan. Tersemat bangga juga lihat imigran bisa jadi guru.

Adanya guru berlatar imigran di barisan staf pengajar sekolah ini tentu menambah keanekaragaman. Mereka kan semacam PNS. Alhasil barisan abdi negara pun jadi semakin majemuk. Merepresentasikan wajah nyata masyarakat yang memang mulai bergeser profil demografinya.

Namun, kritik terhadap model pelajaran agama di Finlandia ini juga banyak.

Terutama dari pemeluk Lutheran yang wajib ikut kelas agama Lutheran. Sementara pemeluk agama lain boleh memilih kelas Etika atau kelas agamanya. Di situ mereka merasa ada diskriminasi justru terhadap mayoritas. Banyak yang mengklaim tidak religius dan lebih suka kalau anaknya ikut pelajaran Etika. Tapi ya menurut peraturan, kalau orang tua teregistrasi formal di gereja, ya tidak bisa.

Ada juga yang mengkritik bahwa kelas berdasar denominasi ini menyumbang segregasi di sekolah. Jadi tidak ada ruang untuk dialog antar pemeluk beragama.

Ini yang sedang diujicoba oleh pemerintah di sini. Selain ada kelas dipisah, mau diakomodasi juga sesi dialog. Ada waktunya anak-anak berbagai latar agama ini ditemukan dalam satu kelas untuk membangun jembatan di antara perbedaan. Ya macam kita bahas kerukunan beragama di kelas Ppkn gitu kalik ya.

Banyak suara juga yang tidak suka ada pelajaran agama di sekolah. Buat apa katanya. Mending ya Etika aja. Atau murni kelas interfaith-dialogue aja seperti negara-negara tetangga.

Tapi pemerintah gelagatnya tetap akan meneruskan pelajaran agama denominasional ini. Studi di sini menunjukkan bahwa anak didik uniknya justru lebih nggak suka kalau kelasnya sepenuhnya model interfaith-dialogue.

Selain itu, ada makna filosofis tersendiri dibalik adanya pelajaran agama menurut agama anak ini. Berkaitan dengan filosofi pendidikan Finlandia yang cenderung holistik, tidak hanya melingkupi aspek kognitif, tapi juga afektif dan spiritual.

Di tengah masyarakat Barat yang mendewakan rasionalitas sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan alat menemukan kebenaran, adanya pelajaran agama di sekolah jadi semacam pengakuan bahwa rasionalitas tidaklah berdiri sendiri. Ada iman yang pakai akal dan hati.

Kritik lain juga. Justru banyak dari orang tua Muslim, yang merasa pelajaran agama Islam di sekolah sekali seminggu itu ya tidak mendalam cuma basa-basi.

Belum lagi kan mereka berasal dari berbagai penjuru dunia dengan aneka perbedaan mazhab. Walau para guru berusaha mengakomodasi perbedaan itu. Banyak juga yang tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Lebih memilih memasukkan anak ke kelas Etika. Sah-sah saja.

Satu lagi yang beda. Di Finlandia sejauh ini tidak ada sekolah berbasis agama Islam. Kecuali ya semacam TPA di masjid/mushola. Kalau di Swedia, ada sekolah yang berbasis agama Islam. Di Stockholm ini konon ada beberapa.

Sebagai muslim pendatang tentu kita senang dengan adanya pilihan sekolah Islami begitu kan? Makan siang halal terjamin. Pelajaran agama terintegrasi. Lingkungan pergaulan kondusif dsb.

Tapi kompleksnya. Kemunculan sekolah berbasis agama di Swedia ini ternyata malah jadi bagian dari tren besar yang “merugikan” anak-anak imigran, termasuk kita pendatang Muslim.

Adanya kebebasan memilih sekolah ini merupakan bagian dari tren besar privatisasi dan marketisasi pendidikan di Swedia (yang tidak disangka) termasuk paling kencang di dunia. Yang konon mengubah drastis wajah pendidikan di Swedia dua dekade terakhir ini.

Dan tren ini walau di awal nampak memberi keleluasaan pilihan pada kita pendatang, sayangnya menurut studi terkini, malah punya efek negatif bagi pembelajaran anak-anak berlatar imigran.

Tapi isu privatisasi itu cerita di lain waktu. Panjang lagi soalnya.