Serba-Serbi Catatan Tahun Pertama S3 (II)

Setelah mendapatkan posisi sebagai doctoral researcher di kampus, apa yang terjadi selanjutnya?

Apakah langsung mewujudkan proposal riset yang sudah diajukan sebelumnya? Semua berjalan lancar seperti rencana awal?

Tentu saja tidak, proposal riset bakal diobrak-abrik total! 🤣 Kalau boleh jujur, eksperimen pertama yang akhirnya aku lakukan itu menyimpang jauh dari rencana awal, haha..

Harus belajar soal stres, karena S3 memang bikin stres 🤣

Di sinilah aku jadi ngeh, bahwa hal paling krusial ketika memulai perjalanan S3 adalah soal mendapatkan pembimbing yang tepat. Apalagi di bidang riset eksperimental sepertiku, yang butuh infrastruktur lab memadai. Biasanya, profesor kita juga merupakan Principal Investigator (PI) di sebuah lab. Dalam kasusku, dua dari tiga pembimbing S3-ku adalah PI di dua lab yang berbeda. Arah perjalanan risetku sangat bergantung pada arah strategis lab, dana dan fasilitas yang ada, proyek yang sedang berjalan, dan aneka situasi-kondisi di lab tersebut.

Sebelumnya aku sempat cerita tentang ide utama proposal risetku, kan? Dalam satu proposal itu, sebenarnya aku memasukkan tiga studi, karena targetnya adalah menghasilkan tiga paper. Studi-studi ini memang saling terkait supaya bisa menjawab pertanyaan utama.

Kalau pingin tahu gambaran proposal risetku dalam 3 menit, bisa cek di sini:

Di bidang cognitive science, terutama untuk studi eksperimental di lab, pendekatan pengukuran biasanya dibuat sekomprehensif mungkin agar mendapatkan perspektif yang lebih lengkap. Pendekatan-pendekatan ini bisa mencakup berbagai jenis data dan metodologi. Kalau di kasusku, ada tiga studi:

1. Studi pertama: behavioural study
Di studi ini, output yang diukur berupa respons perilaku manusia. Misalnya, partisipan diminta mempelajari sesuatu, lalu setelah itu diberi tes memori. Pengukuran ini bertujuan untuk memahami hasil belajar mereka secara langsung melalui perilaku.

2. Studi kedua: neural data (aku pakai EEG)
Studi kedua menggunakan EEG untuk melihat apa yang terjadi di otak selama proses belajar. Kalau behavioural study menunjukkan apa yang dilakukan partisipan, EEG mencoba menjelaskan proses yang mendasarinya, yaitu aktivitas otak.

3. Studi ketiga: brain stimulation (aku pakai yang namanya tACS, transcranial alteranating current stimulation).
Studi ini menggunakan brain stimulation, yang berbeda dengan EEG atau brain imaging lainnya. Kalau brain imaging itu ibarat “membaca” apa yang terjadi di otak, maka brain stimulation seperti “menulis” sesuatu ke otak. Prinsipnya adalah mengintervensi aktivitas otak menggunakan energi magnetik atau listrik. Karena prinsip kerja otak sebenarnya kan aktivitas listrik (neuronal spikes), brain stimulation dapat mendisrupsi atau memperkuat aktivitas tertentu.

Metodologi NIBS (non-invasive brain stimulation) ini dipakai di cognitive science karena mampu menunjukkan kausalitas, bukan sekadar korelasi. Contohnya, kalau kita intervensi bagian X di otak dan hasilnya adalah Y, maka kita bisa lebih yakin bahwa ada hubungan kausal di sana. Ini keunggulan brain stimulation dibanding brain imaging yang hanya bisa menunjukkan korelasi.

Aku pernah cerita lebih lanjut tentang riset pakai brain stimulation di sini:

Di bulan-bulan awal S3, profesorku memintaku banyak membaca literatur dan merancang ulang detail penelitian. Setiap minggu, aku diminta rutin presentasi, menjelaskan seperti apa kira-kira penelitian yang akan dilakukan. Intinya, gimana mewujudkan proposal risetku menjadi langkah-langkah nyata yang bisa dijalankan.

Jujur ya, awal-awal itu aku bingung banget, kayak kehilangan arah. Proposal riset yang aku susun memang memberi gambaran besar, tapi detailnya mau seperti apa… alamak, pusing banget 🤣

Dari sisi para profesorku, di awal-awal juga belum ada proyek baru yang memungkinkan untuk memasukkan pertanyaan-pertanyaan risetku ke dalamnya. Apakah harus set up fasilitas penelitian yang spesifik buat risetku? Mereka masih lihat-lihat situasi dan malah balik nanya ke aku, “Kamu maunya gimana?” Jadi alhasil, Januari, Februari, Maret itu aku ibarat anak ilang yang kebingungan haha…

Bulan-bulan awal itu aku sambil ambil beberapa mata kuliah. Dalam program S3 ini, aku cuma diminta menyelesaikan 40 SKS (dan sekarang peraturan barunya bahkan cuma 30 SKS). Fokusnya memang di riset. Kalau merasa butuh ambil kuliah buat mendukung riset, silakan, tapi total yang diminta ya cuma 30 SKS itu. Cuma ada beberapa matkul yang wajib, seperti kuliah etik dan metodologi.

Titik Terang di Bulan April

Barulah sekitar April ada titik terang keberlanjutan eksperimenku bakal dibawa ke mana. Salah satu profesorku, yang mengepalai lab tidur, mau ada kolaborasi dengan pihak swasta. Di sini memang biasa yang namanya public private partnership semacam ini. Jadi, pihak swasta semacam meng-outsource R&D ke lab-lab di universitas. Lab universitas jadi dapat dana operasional. Jadinya win-win solution.

Nah, karena ada proyek baru ini, muncul kesempatan untuk mengakomodasi proyek riset S3-ku. Bentuknya jadi semacam kompromi juga. Pertanyaan utama risetku jadi berubah. Walau intinya masih soal hubungan statistical language learning dan proses tidur, ada aspek baru yang ditambahkan, yaitu aspek stress. Soalnya, proyek bersama swasta ini fokus di stress dan pemulihan. Akhirnya, rencana risetku dirombak signifikan dan jadi soal interaksi antara stress, statistical language learning, dan pemulihan (baik tidur maupun istirahat melamun aja).

Berubah jadi ini deh topik risetku. Berubah jauh kan dari proposal riset di awal? 😄

Ini cerita lengkap soal eksperimen pertamaku: Threads

Detailnya berubah banget deh dari proposal risetku di awal, yang ada tiga jenis studi itu.

Mulai bulan Mei, aku sibuk mempersiapkan riset ini: diskusi soal desain eksperimen, menyiapkan stimulus untuk behavioural study, menyiapkan platform (aku pakai Gorilla), memikirkan rekrutmen partisipan, dan lain-lain. Untungnya, proyek ini kolaborasi antara dua lab, jadi aku nggak kerja sendirian. Justru, yang lebih banyak kerja kerasnya itu para asisten lab yang direkrut profesorku, para mahasiswa master di departemen psikologi.

Aku sendiri lebih banyak berperan sebagai “compiler” bin “sekretaris”. Misalnya, aku yang harus menyiapkan presentasi di sebuah konferensi untuk cerita soal proyek baru kami ini ke peneliti lain. Ini jadi presentasi perdanaku di konferensi akademik:

Mind and Matter Conference

Bulan Juni, eksperimen kami pun dimulai. Sejak saat itu, aku mulai super sibuk. Setiap hari harus ke lab untuk ikutan eksperimen. Walau kerja teknis lebih banyak ditangani para asisten riset, aku juga tetap harus standby bantu-bantu di sana. Juli, seluruh Finlandia liburan musim panas, lalu Agustus-September lanjut lagi full pengambilan data di lab.

Awal Oktober, setelah selesai semua eksperimen di akhir September, barulah aku bisa mulai sedikit-sedikit mengolah data. Awal November, aku mulai mempresentasikan hasil-hasil awal (preliminary results) di konferensi lain:

https://blogs.helsinki.fi/esels-conference/abstracts/

Desember ini aku fokus buat istirahat dan liburan. Awal Desember kemarin sempat sakit dua minggu, mungkin karena kecapekan, hahaha. Setelah itu aku full liburan saja, sambil menulis-nulis refleksi setahun pertama perjalanan S3 ini. Lumayan buat pemulihan juga dari segala stres di program S3. Jadi makasih loh yang udah hadir di sini, berpartisipasi dalam proses healing aku 🤣.

Januari 2025 nanti aku harus lanjut analisis data lagi. Soalnya, Februari sudah harus presentasi poster di konferensi lainnya:

Neurodynamics of Language and Music

Begitulah kira-kira yang terjadi di tahun pertama S3-ku. Tahun kedua nanti, aku bakal fokus mengolah data dan menulis paper dari eksperimen ini. Karena eksperimennya cukup melibatkan banyak data (physiological, behavioural, neural), pembimbingku bilang targetnya bisa menulis dua paper. Walau gimana hasil akhirnya nanti, kita lihat aja ya *fingers crossed mudah-mudahan lancar.

Satu pelajaran penting yang kudapat di tahun pertama ini sifatnya sangat personal, terutama terkait identitasku sebagai ibu rumah tangga.

Masyarakat kita sering menanamkan stigma yang merendahkan profesi ibu rumah tangga—dicap bodoh, kurang pengetahuan, tidak punya skill. Secara tidak sadar, kita pun menginternalisasi stigma tersebut, dan itu mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Kita jadi rendah diri.

Contohnya, di tahun pertama S3 ini, aku baru sadar kalau mungkin aku nggak bodo-bodo amat? Aku benar-benar lupa bahwa dulu pernah kerja dengan tugas presentasi ke klien-klien kami, para perusahaan FMCG di Indonesia. Jadi mestinya aku nggak perlu terlalu gugup atau minder kalau harus presentasi di konferensi akademik. Bahkan mungkin pengalaman di industri bisa bikin kita lebih luwes ketimbang sebagian akademisi yang cenderung kaku.

Butuh dua kali presentasi di konferensi dan dapat afirmasi positif dari para pemirsa, baru deh aku mulai sadar untuk tidak merendahkan diri sendiri. Segitu bahayanya efek stigma, sampai kita nggak sadar kalau itu mempengaruhi bagaimana kita memandang kemampuan diri.

Yaudah, segitu dulu. Di catatan selanjutnya, aku mungkin mau cerita soal pengetahuan baru yang kudapatkan di tahun pertamaku ini. Sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandangku tentang otak dan kognisi manusia. Semacam paradigm shift gitu buatku, saking aku baru ngeh. Hal-hal yang bahkan pas S2 dulu, baik di jurusan pendidikan maupun cognitive science, belum aku sadari.

Sampai jumpa di catatan selanjutnya ya!