Karena udah masuk libur akhir tahun, rasanya pas banget buat refleksi tahun pertamaku sebagai mahasiswa S3. Aku masih sering mikir, dagelan banget nggak sih ini, kok bisa-bisanya aku yang sangat tidak akademis ini sekarang kuliah S3? Gak pernah ada dalam rencana hidupku sebelumnya. Kayak 10 atau 20 tahun lalu, mana kepikiran buat sekolah sampai S3.
Waktu kecil, pas ditanya cita-cita “kalau udah gede mau jadi apa,” nggak pernah terbayang bakal jadi peneliti atau mengejar sekolah doktor. Bapakku dulu peneliti di LIPI (sekarang BRIN), dan dari kecil aku ngeliat gimana jadi peneliti di Indonesia itu hidupnya prihatin wkwk (setidaknya pas zamanku kecil ya, mudah-mudahan sekarang nggak). Mungkin itu yang bikin muncul pikiran di bawah sadar kalau aku nggak mau jadi peneliti 😂.
Ditambah lagi, dari dulu aku benci sekolah. Jadi nggak pernah terpikir bakal lanjut sampai S3. Masa-masa paling nggak semangat sekolah tuh pas SMA dan S1. Sejak masuk sekolah negeri yang embel-embelnya “unggulan” lah, “terbaik” lah, aku malah demotivasi, sering merasa paling bodoh di antara teman-teman yang super pintar.
Di sekolah aku tuh bener-bener nggak nemu kebahagiaan dalam proses belajar. Kayaknya aku masih bisa menikmati sekolah cuma sampai SMP. Begitu masuk SMA, bubar semua. Lebih parah lagi, waktu kuliah S1 aku merasa salah jurusan. Masuk teknik cuma demi prestise, padahal aslinya minatku lebih ke psikologi atau apa gitu yang lebih dekat sosial-humaniora. Tapi ya udahlah. Dulu mikirnya yang penting lulus, syukur-syukur IP di atas 3 biar nggak susah cari kerja.
Begitu lulus dan kerja di Jakarta, ternyata aku juga nggak terlalu menikmati dunia korporat. Walau sempat kerja di perusahaan multinasional, juga di salah satu perusahaan yang termasuk top di Indonesia, nggak ada motivasi ngejar karier. Kerja ya cuma buat dapat gaji secukupnya, buat makan, dan bayar KPR. Sempat pindah-pindah kantor juga karena nggak betah: tiga perusahaan dalam lima tahun, nggak ada yang bertahan lama. Makanya waktu harus resign buat ikut suami merantau, aku justru seneng banget bisa jadi IRT 😁.
Tapi lama-lama bosen juga ya jadi IRT. Anak-anak makin gede, dan aku ngerasa kurang aktualisasi diri. Tau sendiri lah, dilema standar ibu-ibu. Di situ aku bingung mau ngapain lagi. Emang dari dulu nggak pernah punya peta kehidupan yang jelas, jadi jangan heran kalau aku ini nggak cocok jadi motivator 😂.
Akhirnya saat itu kuputuskan buat lanjut S2. Sejak jadi orang tua, aku banyak mikir soal pendidikan anak, jadi pengin belajar lebih dalam. Aku ada di titik yang merasa otakku butuh kembali ke pendidikan formal. Semacam pingin “balas dendam” karena dulu kok waktu kecil nggak pernah bisa menikmati sekolah. Sekarang udah tua gimana ya? Apa sih yang salah denganku dulu itu? Intinya, aku nggak mau anak-anakku kehilangan kebahagiaan belajar seperti yang kualami (terutama) waktu SMA dan S1 dulu. Apa saja yang harus kulakukan untuk mencegah itu?
Inget banget sekitar pertengahan 2017, mendekati ulang tahun ke-33, aku mulai gerilya cari info soal S2. Eh, ternyata nemu program yang pas banget. Langsung buru-buru tes IELTS di Oktober, biar sempet daftar di akhir Desember atau awal Januari kalau nggak salah. Untungnya banyak teman bantuin bikin esai aplikasi dan proposal riset. Alhamdulillah, April 2018 dapat acceptance letter dari kampus incaran.
Pas S2 itulah aku baru sadar, ternyata aku tuh suka banget belajar! Seneng baca literatur, dateng ke kuliah, nulis esai, diskusi sama temen. Ternyata aku menikmati banget. Ya ampun kemana aja, semua itu baru kusadari di usia hampir 35!
Sebenarnya dari kecil, walau benci sekolah, aku sangat suka baca buku. Cuma random banget bacanya, nggak pernah serius baca buku teks pelajaran. Aku jadi ingat waktu SMA, aku pernah baca bukunya Ivan Illich yang Deschooling Society. Mungkin dari situ bibit-bibit minat belajar soal pendidikan muncul. Ingat juga waktu SMA terkesima baca Dunia Sophie yang berlatar di Norwegia, mungkin itu bikin bawah sadarku pengin merantau ke daerah Nordik. Waktu kuliah baca Laskar Pelangi, mungkin di situ pula mulai tertanam ide kuliah ke luar negeri.

Jadi, sebenarnya mungkin aku bukan nggak suka belajar, tapi aku nggak bisa adaptasi sama sistem persekolahan kita yang bikin jiwa remajaku dulu berontak. Terlalu banyak pertanyaan kenapa begini kenapa begitu yang bikin aku frustrasi saat itu. Tau sendiri kan, banyak hal di sistem pendidikan kita yang patut dikritik.
Setelah lulus S2 pertama, rasa ingin tahuku belum terpuaskan. Rasanya kayak mau “bayar utang” S1 yang salah jurusan. Kuputuskan buat S2 lagi karena merasa nggak pantas banget kalau langsung daftar S3, siapalah gue. Aku penasaran banget sama cara otak manusia bekerja, gimana kita belajar, dan hal-hal semacam itu. Jadilah S2 keduaku ini di bidang cognitive science.
Harus kuakui, aku punya banyak privilese. Waktu S2 pertama (cuma dapet bebas tuition fee aja, tanpa beasiswa biaya hidup), suami rela dukung penuh, sampai mengorbankan tabungan dan resign dari kerjanya. Jual mobil, rumah satu-satunya pun dikontrakin. Demi kita bisa berangkat ke Finlandia.
Untuk mempersiapkan aplikasi, aku banyak dibantu teman-teman. Mereka pinter-pinter dan ahli di berbagai bidang. Mereka ini kenalanku dari sekolah dan kampus yang katanya unggulan itu (walau sekolah di situ jugalah yang bikin aku demotivasi wkwk).
Untuk proses IELTS, aku terbantu pengalaman waktu piyik ikut Bapak kuliah di Australia, jadi mungkin bahasa Inggrisku nggak jelek-jelek amat. Bisa belajar mandiri pakai buku beli di Gramedia.
Terus waktu S2 kedua, semua udah lebih mudah karena aku tinggal di Finlandia. Suami kerja di sini, aku punya izin tinggal, dan kuliah jadi gratis. Mau masukin aplikasi juga simpel banget karena pakai sistem ‘warlok’ buat mereka yang punya Finnish ID.
Mulai kepikiran lanjut S3 juga termasuk privilese. Di S2 kedua itu, aku ketemu profesor baik banget. Dia baru balik ke Finlandia setelah lama di UK, kebetulan lab risetnya butuh asisten, jadi aku daftar. Mulailah aku bantu-bantu di lab, awalnya ngerjain hal simpel-simpel. Lama-lama, ngobrol ini-itu, tiba-tiba dia nanya apa aku minat S3? Aku yang masih tiada kejelasan soal masa depan langsung jawab, “Mau, Prof, mau banget!”
Sejak itu, proses nyari pembimbing dan bikin proposal risetnya alhamdulillah berjalan lancar. Aku dapat tiga pembimbing: dua lainnya adalah kolega si profesor. Topik risetnya hasil diskusi bersama. Tugasku lebih kayak notulen rapat plus sekretaris. Aku memang yang mewujudkan dalam bentuk tulisan jadi, tapi sebenarnya “dagingnya” dari para pembimbingku itu.
Jujur, aku kayak jadi avatar aja untuk proposal riset ini. Peranku lebih ke meramu gimana caranya “memasang” profilku yang random supaya masuk ke dalam satu cerita yang koheren. Latar belakang campur sari ini: S1 teknik, sempat kerja di industri, IRT nomaden, S2 pendidikan, S2 cognitive science.
Topik riset yang kami ajukan itu interdisipliner, menggabungkan riset profesorku di lab cognitive science yang fokus ke topik statistical learning dengan profesor satunya dari fakultas kedokteran di lab psikologi yang fokus ke studi soal tidur. Aku kudu merangkainya dalam kerangka topik gimana manusia belajar bahasa. Soalnya proposal riset ini mau diajukan ke program doktoral di bawah fakultas pendidikan, yang fokus ke soal belajar bahasa. Nama programnya CLIC (Cognition, Language, Instruction, and Communication).
Salah satu ciri khas cognitive science adalah melihat kognisi manusia sebagai proses pengolahan informasi dan sangat suka menggunakan pendekatan komputasi. Makanya senang pakai metafor bahwa fungsi kognitif itu kayak komputer (walau ini simplifikasi dan banyak dikritik di dalam cognitive science sendiri). Gampangnya, ada semacam tahapan input–proses–output. Yang terjadi di tengah (proses) dianggap sebagai komputasi.
Karena metafor komputer itu juga, cognitive science senang membandingkan kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan: menggunakan mesin sebagai model untuk berusaha memahami kecerdasan manusia. Karena kalau kita berhasil bikin model komputasi yang bisa menghasilkan mesin cerdas, asumsinya mungkin proses komputasi yang mirip juga terjadi di otak manusia.
Karena lagi ngomongin bahasa, mari kita ambil contoh ChatGPT. Buat para cognitive scientist, mereka senang mencari paralel, persamaan, dan perbedaan antara gimana mesin (ChatGPT) belajar bahasa dan gimana manusia belajar bahasa.
Hipotesis mereka: ada satu proses yang sama-sama dilakukan mesin maupun manusia, namanya statistical learning. Intinya, ini adalah cara mempelajari pola dari lingkungan.
LLM (Large Language Model) prinsip kerjanya memprediksi kata apa yang paling mungkin muncul setelah suatu kata tertentu, misalnya “makan.” Dia belajar dari semua kalimat yang pernah dia baca. Jadi, kalau yang sering muncul setelah “makan” itu misalnya nasi, pisang, roti, ayam, tempe, dsb., dia bikin semacam peta probabilistiknya.
Secara analogi, manusia juga melakukan itu. Paradigma riset yang menyatakan demikian disebut Statistical Language Learning, dipelopori penelitian Jenny Saffran dkk. tahun 1996. Mereka membuktikan bahwa bayi umur 8 bulan aja bisa mempelajari pola dari input bahasa di sekitarnya. Otak bayi bisa memprediksi silabel yang muncul setelah bunyi “su”, kemungkinan besar adalah bunyi “su” lagi, sampai membentuk kata “susu.” Ini karena bayi sering sekali terpapar kata itu. Secara konsep, ini mirip dengan yang dilakukan LLM: next token prediction.
Tentu tidak semua aspek belajar bahasa pada manusia bisa dijelaskan dengan proses statistical learning. Tapi bukti empiris (behavioral data, neural data, dan model komputasi seperti LLM) menunjukkan bahwa statistical learning berperan besar dalam proses kita belajar bahasa. Begitulah gambaran paradigma profesorku yang pertama, yang dari cognitive science.
Nah, gimana ini dihubungkan dengan profesorku yang kedua, yang mengepalai lab soal tidur?
Ada satu perbedaan fundamental antara cara mesin belajar dan cara manusia belajar. Manusia punya kemampuan yang namanya sequential learning: kita belajar hal satu, lalu belajar hal baru tanpa serta-merta melupakan hal lama. Informasi baru dikombinasikan ke skema pengetahuan lama, sehingga kita makin pintar sedikit demi sedikit. Belajar kita tuh dinamis, bisa ngikutin perubahan waktu dan proses tumbuh kembang kita sebagai manusia. Bisa menyeimbangkan antara plasticity vs stability dalam hal mengolah memori.
Kalau mesin, terutama ANN (artificial neural networks), ternyata kesulitan melakukan sequential learning seperti ini. Mereka rentan mengalami apa yang disebut catastrophic forgetting. Begitu belajar hal baru, rentan hal lama bubar semua. Kalau diajak plastis, ada risiko besar stabilitasnya langsung runtuh. Beda sama manusia yang bisa fleksibel banget.
Contohnya dalam pembelajaran multibahasa. Manusia seringkali belajar bahasa ibu dulu, lalu pas SD belajar bahasa Inggris, pas SMA mungkin belajar bahasa Spanyol, lalu pas kuliah belajar bahasa Jepang. Kita nggak lantas melupakan bahasa yang sebelumnya kita pelajari, apalagi lupa total bahasa ibu kita.
Beda dengan LLM. Model seperti ChatGPT bisa punya kemampuan multibahasa karena pas proses pretraining, dia langsung dilatih dengan data multibahasa yang luar biasa banyaknya. Mak blek belajar bahasa Inggris, Indonesia, Arab, semuanya. Bukan kayak manusia yang biasanya belajar satu-satu.
Kalau mesin ngikutin sequential learning ala manusia, dia bisa mengalami catastrophic forgetting tadi. Jadi proses belajar mereka nggak fleksibel nan dinamis kayak kita. Kalau mau suruh ChatGPT kuasai bahasa baru yang tidak ada di data pretraining awal, si model ini mesti di-fine tuning atau di-retraining, yang butuh energi komputasi besar dan upaya engineering serius dari developernya.
Apa sih kunci kenapa manusia bisa belajar secara dinamis gitu? Bisa menyeimbangkan antara plasticity vs stability. Antara eksploitasi vs eksplorasi. Dugaan besarnya ada di proses tidur dan istirahat, tempat terjadinya konsolidasi memori. Proses ini memfasilitasi transfer memori dari short-term memory di hippocampus ke long-term memory di neocortex. Juga membantu memori episodik saling berkelindan sampai membentuk semantic memory. Proses tidur inilah yang melindungi manusia dari catastrophic forgetting seperti mesin tadi. Sementara mesin, dia kan tidak tidur.
Dari situ muncul pertanyaan inti proposal risetku: sebenarnya gimana mekanisme yang terjadi saat tidur sehingga bisa memfasilitasi konsolidasi memori dari proses statistical learning, terutama statistical language learning yang fundamental buat perkembangan kemampuan bahasa manusia? Kalau kita bisa jawab ini, kita bakal tahu gimana tidur berperan membantu manusia punya kemampuan multibahasa, yang sampai sekarang risetnya belum jelas itu.
Kurang lebih begitu isi proposal risetku. Buat di-submit ke universitas, supaya aku bisa dapet posisi doctoral researcher yang digaji kampus. Isinya hasil diskusi kami semua: aku dan tiga pembimbingku. Dagingnya banyak dari mereka; fungsiku lebih ke compiler dan mikirin gimana mengemas supaya aplikasiku “menjual,” gimana profil pribadiku masuk ke narasi aplikasi tersebut
Ternyata komite yang ngurus dana riset itu punya strategi tersendiri. Tentu mereka banyak memberikan investasi ke orang-orang dengan track record jelas—sudah punya beberapa publikasi, IPK bagus, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja relevan dengan riset. Orang-orang yang jalurnya sangat terpampang jelas dan punya arah spesialisasi seperti tuntutan S3.
Tapi mereka juga tahu bahwa riset dan sains itu banyak unsur serendipity-nya. Penemuan ilmiah kadang muncul dari tempat dan orang yang gak terduga. Mereka perlu “naruh telur” di tempat-tempat di luar jalur normal juga. Mungkin itulah kenapa aku, ibu paruh baya tanpa publikasi, tanpa pengalaman riset, latar belakang pendidikan campur sari, tapi bisa keterima.
Salah satu kegunaan punya latar belakang nonlinear yang campur sari ini, apalagi datang bukan dari tradisi akademia (alias ibu rumah tangga biasa), adalah kemampuan kita jadi jembatan. Ibu rumah tangga itu repot, ngurusin berbagai lini kehidupan. Kadang ngobrol sama tukang sayur, kadang ngobrol sama profesor dokter ahli tumbuh kembang anak. Kita terbiasa ngobrol dengan banyak kalangan, jadi sadar setiap orang punya perspektif dan “bahasa” beda-beda.
Pernah kerja di industri juga ngasih tambahan perspektif. Banyak peneliti yang jalan hidupnya sangat akademik: habis S1, langsung S2, langsung S3, lalu postdoc dan jadi peneliti. Mereka kadang gak punya pengalaman di akar rumput, sehingga suka sulit dipahami bahasanya oleh orang kebanyakan karena terbiasa dengan jargon ilmiah dan pergaulan di lingkaran orang pinter semua. Kadang mungkin mereka lupa rasanya jadi orang awam itu gimana wkwk. (Tentu nggak semua, tapi banyak yang kayak gitu.) Cung yang dulu pas mahasiswa suka nggak ngerti dosen ngomong apa karena si bapak dosen kepinteran? 😂 Kalau pernah di industri itu setidaknya pernah belajar memahami profil konsumen, paham bahasa ‘pemasaran’ menyampaikan sesuatu yang mudah diterima oleh khalayak ramai.
Jadi memang ada orang-orang yang hidupnya sejak dulu sangat laser focus, habis A, B, lalu C, terarah, punya peta yang rapi. Banyak yang sukses dengan model begitu. Tapi ada juga nonlinear, yang harus kesana-kemari, coba ini-itu dulu. Masing-masing punya plus minus sendiri. Kalau di kasusku, pengalaman campur sari ini ternyata membantuku mengemas proposal riset yang cukup “menjual” dan meyakinkan pihak universitas untuk mendanai proyek kami.
Mungkin itu kuncinya. Buat kalian yang ngerasa diri ini “pencilan” kayak aku, satu tips penting: jangan pernah ngeremehin diri sendiri. Walau latar belakang kita terkesan random, justru di situlah letak keunikan kita. Dunia riset dan sains butuh beragam perspektif, banyak penemuan lahir dari orang dan tempat yang gak terduga. Yang penting, kita harus selalu nunjukin bahwa kita punya rasa ingin tahu yang tinggi. Jadi kalau kita merasa “nggak jelas,” kayak dora the explorer yang ke sana-kemari belajar ini-itu tapi merasa gak punya keahlian apa-apa, ternyata dunia riset juga butuh loh, orang seperti itu. Diversity tuh dalam hal seperti itu juga: cognitive diversity.
Ya begitulah bagian awal dari refleksi tahun pertamaku. Berikutnya aku mau cerita apa yang terjadi dengan proposal risetku setelah satu tahun berlalu. Apakah sesuai dengan yang direncakan atau bubar semua? (spoiler: tentu saja berubah dramatis! 🤣)
Aku juga mau cerita soal hal yang aku pelajari yang secara signifikan mengubah pemahamanku, semacam scientific paradigm shift gitulah. Betapa ditaboknya aku kalau selama ini pengetahuanku tentang otak dan pikiran manusia masih sedangkal itu.
Selamat menikmati libur akhir tahun dan sampai ketemu di cerita selanjutnya!
