Pada tahun 2020, sebuah artikel berjudul Aging in an Era of Fake News terbit, ditulis oleh Nadia Brashier, peneliti yang fokus pada tema disinformasi, bersama Daniel Schacter, seorang profesor senior di bidang memori. Kesimpulannya? Faktor usia memang membuat kita semakin rentan terhadap misinformasi.
Yang menarik, kelompok usia 50+ mendominasi kategori supersharer, alias sekumpulan individu yang bertanggung jawab atas 80% penyebaran hoaks. Bahkan, sejak usia 40-an, kerentanan kita terhadap misinformasi (informasi yang salah, meskipun tidak selalu berniat jahat) mulai meningkat.

Meskipun kita menolak berbagai stigma negatif tentang penuaan (ageism), kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa bertambahnya usia memang mengubah cara otak memproses informasi. Alih-alih menyangkal, lebih bijak jika kita memahami mekanisme yang berubah dan mencari cara untuk meminimalkan dampak negatifnya.
Otak Belajar dengan Mengenali Pola
Dalam bidang cognitive science, ada paradigma yang disebut predictive processing. Konsepnya, otak kita selalu mencoba mengenali pola dan membuat prediksi, bahkan sebelum kita benar-benar menerima stimulus dari luar.
Salah satu bagian otak yang penting dalam proses ini adalah hipokampus, yang berperan dalam membentuk dan mengelola memori. Dalam konteks pengenalan pola, hipokampus punya dua fungsi utama: pattern separation dan pattern completion.
Biar lebih mudah dipahami, mari kita ambil contoh nyata.
Pattern Separation vs. Pattern Completion
Bayangkan saat muda dulu, kita sering pergi ngedate. Restoran yang dikunjungi berbeda-beda, begitu pula orangnya.
Sama Budi → Restoran Italia, pesan risotto, dia pakai kemeja biru, kita pakai dress kembang-kembang.
Sama Tomi → Korean BBQ, dia baru potong rambut, rapi banget.
Sama Ari → Sushi, dia pakai hoodie.
Jika otak bekerja dalam mode pattern separation, kita bisa mengingat setiap pengalaman ngedate secara spesifik: di mana, makan apa, pakaian apa. Ini penting agar kita bisa menyimpan detail yang relevan. Proses ini banyak melibatkan dentate gyrus di hipokampus.
Selain itu, otak juga melakukan pattern completion, dominan dilakukan oleh bagian CA3 di hipokampus. Setelah beberapa kali ngedate, kita membentuk semacam gambaran besar atau skema. Proses pattern completion ini penting supaya kita bisa melakukan generalisasi, hingga adaptif kalau menemukan konteks yang berbeda.
“Ngedate itu ya intinya mah gini: biasanya makan ke restoran, ngobrol, pakai baju rapi, cowok yang bayar (ehhe….)”
Detail seperti warna baju pasangan atau menu makanan jadi kurang penting. Jadi, ketika suatu hari kita diminta mengingat “Dulu ngedate sama Ari gimana sih?”, otak mungkin malah mengisi celah memori dengan pola umum yang sudah ada.
“Hmm, pasti dia pakai kemeja rapi!”
Padahal, aslinya dia pakai hoodie. Ini contoh bagaimana pattern completion bisa bikin kita keliru dalam mengingat detail.
Intinya, hipokampus perlu menyeimbangkan dinamika pattern separation dan pattern completion untuk mencapai proses pengelolaan informasi yang optimal.
Penuaan Membuat Otak Lebih Bias ke Pattern Completion
Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan di hipokampus. Penuaan ternyata membuat otak memproses informasi lebih bias ke arah pattern completion ketimbang pattern separation.

Pertama, karena soal efisiensi energi. Proses pattern separation yg dilakukan bagian dentate gyrus di hipokampus ini mahal. Lebih hemat energi kalau otak mengambil skema lama yang sudah kita punya, lalu tinggal mengisi bolong-bolongnya aja lewat pattern completion.
Ada faktor perubahan strategi kognitif juga, karena seiring usia kita lebih fokus ke perilaku eksploitasi ketimbang eksplorasi yang biasanya dominan dilakukan anak muda. Jadi ketimbang menyerap pola-pola baru, otak lebih bias buat mengeksploitasi skema-skema lama yang sudah kita punya.

Ada keuntungan dari kecenderungan otak lebih mengandalkan pattern completion. Seiring matangnya usia dan kayanya pengalaman hidup, kita lebih mudah mengambil benang merah antara satu kejadian dengan lainnya, mengambil hikmahnya.
Tapi efek negatifnya, kita juga lebih mudah menggunakan stereotip dan skema lama untuk memahami dunia. Misal, beberapa studi melaporkan bahwa orang yang lebih tua lebih cenderung menstereotip kelompok lain, seperti orang dari latar belakang suku agama atau ras yang berbeda.
Bahkan, mereka lebih mungkin secara keliru mengingat detail yang sesuai dengan stereotip mereka daripada detail yang sebenarnya terjadi. Ini karena otak mengisi celah memori dengan informasi yang masuk akal menurut skema yang sudah tertanam.
Misalnya, seseorang membaca berita tentang seorang pemuda yang ditangkap karena mencuri. Jika orang tersebut memiliki stereotip negatif terhadap kelompok imigran misalnya, mereka mungkin lebih cenderung mengingat pemuda itu berasal dari kelompok imigran, bahkan jika berita aslinya tidak menyebutkan latar belakangnya sama sekali.
Bukan cuma itu. Ada fenomena lain yang bikin makin tua kita makin rentan percaya dan menyebarkan misinformasi.
Seiring bertambahnya usia, mekanisme yang menghubungkan isi informasi dengan sumbernya jadi kurang efisien (source monitoring deficit). Ini berkaitan dengan penurunan konektivitas antara hipokampus dan prefrontal cortex saat kita mengelola informasi.
Misalnya, kita menjadi saksi sebuah kecelakaan mobil di mana mobil tersebut menerobos lampu kuning. Beberapa hari kemudian, kita membaca artikel koran yang salah melaporkan bahwa mobil itu menerobos lampu merah.
Karena hubungan antara informasi dan sumbernya melemah, kita lebih mungkin mengingat informasi dari koran (mobil menerobos lampu merah) sebagai sesuatu yang kita saksikan sendiri. Alhasil kita jadi membentuk memori yang salah setelah terpapar pernyataan yang menyesatkan.
Bagaimana Mengurangi Bias Ini? Keluar dari Zona Nyaman!
Saat kita makin tua, otak kita makin cenderung menggunakan pola lama tanpa menyaring detail baru. Keluar dari zona nyaman memaksa otak untuk terus melakukan pattern separation dan membedakan informasi dengan lebih teliti.
Banyak hal yang bisa kita lakukan. Misalnya, bepergian ke tempat baru. Karena tidak memiliki skema lama tentang tempat tersebut, otak jadi terpaksa mengenali pola yang baru. Kalau bepergian ke luar kota atau luar negeri terlalu makan biaya, bisa juga sesederhana mengganti rutinitas harian, pulang lewat rute berbeda atau melakukan aktivitas berbeda.
Konsep belajar sepanjang hayat juga jadi punya makna lebih dalam ketika kita kaitkan dengan proses mencegah bias berlebihan pada pattern completion. Dengan mencoba menguasai bahasa baru, topik atau keterampilan baru, tentu kita juga dipaksa menemukan pola-pola baru dan melakukan pattern separation. Berinteraksi dengan orang di luar lingkaran kebiasaan kita, mendengar perspektif yang berbeda, itu juga bisa membuat kita menantang skema lama di otak kita.
Selain itu, seperti apa yang disampaikan oleh para tenaga kesehatan, menjaga gaya hidup sehat juga jadi kunci. Makan dengan nutrisi seimbang itu tentu harus. Olahraga rutin bisa meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang membantu pertumbuhan neuron baru di hipokampus (neurogenesis). Uniknya, neurogenesis ini terjadinya ya spesifik di dentate gyrus, bagian hipokampus yang penting buat pattern separation.
Tidur cukup dan mengelola stres juga jadi kunci. Hipokampus ini bagian yang sangat sensitif pada pola tidur buruk dan stres kronis. Proses konsolidasi memori yang terjadi saat tidur mengandalkan komunikasi hipokampus dan area korteks lainnya. Sementara kadar kortisol yang terlampau tinggi akibat stres kronis mampu menghambat neurogenesis di dentate gyrus dan menyebabkan atropi di bagian CA3. Alhasil, baik proses pattern separation maupun pattern completion jadi terganggu.
Ketika Situasi Sosial Ekonomi dan Politik Menyebabkan Stres Kronis Berjamaah
Miris memang, fenomena ini terjadi di berbagai tempat di dunia. Kita menjadi semakin rentan terhadap misinformasi bukan sesederhana karena penurunan kapasitas kognitif akibat penuaan alami, tetapi juga karena ekosistem sosial, ekonomi, dan politik yang penuh tekanan. Stres kronis yang kita alami bukan sekadar persoalan individu, melainkan sudah menjadi masalah struktural.
Ketimpangan ekonomi semakin tajam, eksploitasi kelas pekerja terus berlangsung, kelas menengah semakin terhimpit oleh biaya hidup yang makin melambung. Semua ini menciptakan kondisi yang membuat masyarakat lebih mudah terjebak dalam disinformasi. Ketika hidup terasa semakin berat, kemampuan memilah informasi melemah, dan kita cenderung mencari kepastian dalam narasi yang sudah familiar, meskipun belum tentu benar.
Di banyak tempat, kita menyaksikan bagaimana disinformasi dijadikan alat oleh mereka yang berkuasa untuk menciptakan polarisasi. Hoaks dan propaganda disebarkan agar kita saling berbenturan. Yang satu berteriak “Kami yang benar!”, sementara yang lain membalas “Kalian yang goblok!”. Sementara masyarakat sibuk bertengkar di medsos, mereka yang berada di atas terus memperkuat posisi.
Memahami bagaimana otak kita memproses informasi memberi kita peluang untuk lebih waspada terhadap manipulasi semacam ini. Dengan kesadaran yang lebih tajam, kita bisa menghindari jebakan polarisasi dan tidak mudah terseret dalam arus disinformasi yang dirancang untuk memperalat kita. Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem dalam semalam, tetapi setidaknya kita masih bisa memilih untuk tidak larut dalam permainan mereka, para elit penguasa.
