Kalau ditanya, “Kenapa mau ambil S3? Ilmunya nanti mau dibawa ke mana?” jujur saja, aku sering bingung menjawabnya. Mungkin ini kelemahanku: aku bukan tipe orang yang hidupnya terencana rapi dengan cetak biru untuk 10 tahun ke depan, 5 tahun ke depan, atau bahkan detail satu tahun ke depan. Rencanaku sering kali abstrak, dan hidupku lebih seperti mengalir dari satu ‘kebetulan’ ke ‘kebetulan’ lainnya. Konspirasi semesta, yang kalau dirunut ke belakang, sering terasa ajaib karena dulu aku tak pernah membayangkan hidupku akan begini atau begitu. Rasanya, doa dan amalan ibukulah yang menjaga jalanku, mengetuk pintu langit supaya Tuhan menurunkan hal-hal baik.
Makanya aku merasa nggak cocok jadi motivator. Aku bingung harus berbagi poin apa untuk menginspirasi orang lain. Masa iya aku bilang, “Carilah ibu yang rajin tirakat Senin-Kamis”? Kan orang nggak bisa memilih siapa ibunya.

Aku sadar, banyak yang bilang bahwa manusia terbaik adalah yang bermanfaat untuk sekitarnya. Bahwa kita perlu punya mimpi besar untuk memberi manfaat sebesar-besarnya. “Aim for the stars, you’ll fall somewhere around it,” katanya. Tapi, apa salah kalau aku merasa Tuhan Yang Maha Baik tetap menghargai usaha kita, sekecil apa pun itu? Bahkan jika target kita hanyalah sederhana: berusaha jadi orang baik, tidak membawa mudarat dan musibah bagi sekitar.
Jadi, boleh nggak sih kalau motivasiku mengambil S3 sesederhana karena aku ingin belajar? Karena belajar itu amal baik. Supaya waktuku nggak habis untuk hal-hal toksik, seperti iri melihat pencapaian orang lain di media sosial. Aku ingin memberi contoh kepada anak-anakku bahwa belajar itu tidak ada batasnya, sampai tua pun kita tetap belajar. Kalau pun manfaat dari ilmuku ini hanya mengalir ke anak-anakku, boleh tidak sih aku berharap Tuhan mencukupkan itu sebagai bekal amal jariyahku?
Mungkin aku tidak menjadi peneliti handal dengan publikasi yang segudang. Tidak juga dosen inspiratif yang mendidik ribuan murid. Tapi, boleh kan aku berharap sekadar menuliskan pengalaman belajarku di blog pun bisa bermanfaat? Walaupun mungkin yang membaca hanya satu atau dua orang saja 😂.
Kalau aku terpaksa harus menjawab pertanyaan, “Di umur 40 tahun ini, apa pelajaran hidup yang bisa kubagikan?” Jawabanku sederhana: peliharalah rasa ingin tahu.
Nggak apa-apa dibilang norak. Kalau dalam istilah Jawa, mungkin aku ini “gumunan” alias gampang terpesona, termasuk sama hal-hal kecil. Aku sering berbinar-binar melihat sesuatu yang menarik perhatianku, padahal mungkin buat orang lain itu biasa saja. Beginner’s mind, istilahnya. Seperti Kabayan yang pertama kali saba kota: lihat gedung tinggi, wow. Lihat MRT, wow. Tapi, justru dari situ aku terdorong untuk mencari tahu. Aku jadi suka membaca, bertanya pada yang lebih tahu, mencari informasi.
Contohnya, dulu aku begitu ter-wow dengan berbagai berita soal Finlandia. Sampai-sampai aku merajuk pada suamiku agar aku bisa S2 di sana. Dia sampai rela membongkar tabungan, menjual mobil, dan menyewakan rumah satu-satunya. Mungkin bagi orang lain itu lebay. “Jangan gampang takjub sama hal-hal berbau luar negeri.” Tapi sungguh aku penasaran. Aku ingin tahu, apa yang membuat Finlandia berbeda, bahkan dibanding negara Nordik tetangganya yang sempat kami tinggali, Swedia.
Contoh lainnya, baru-baru ini aku heran melihat banyak influencer menggembar-gemborkan Ozempic, obat diabetes yang kini digunakan sebagai obat penurun berat badan. Menyebalkan sih karena bahaya, gimana kalau yang nonton remaja perempuan yang rawan kena eating disorder? Tapi aku jadi penasaran mencari tahu apa sih sebenarnya Ozempic. Konon, obat ini memang efektif sampai-sampai Denmark jadi makin kaya karena memproduksinya. Perusahaan Novo Nordisk sampai punya kapitalisasi pasar yang nilainya melebihi PDB negaranya.

Aku ter-wow lagi. Lalu tak sadar menghabiskan waktu berhari-hari membaca tentang Ozempic dan molekul GLP-1 receptor agonist di baliknya. Ternyata, penelitian terkini bahkan sedang menguji hipotesis bahwa molekul ini berpotensi mempengaruhi reward system di otak, hingga berimplikasi pada patologi adiksi dan depresi. Bahkan ada penelitian yang mengaitkannya dengan Alzheimer, menguji hipotesis bahwa penyakit tersebut adalah “diabetes tipe 3” yang terkait gangguan metabolisme insulin di otak.
Jadi, kalau ditanya kenapa aku mau S3, jawabannya sederhana: mengikuti rasa ingin tahu. Setelahnya, mau ke mana? Aku jujur tidak tahu pasti. Selama ini, hidupku hanya mengikuti rasa ingin tahu dari satu hal ke hal lainnya.
Filosofi hidupku lebih seperti seorang treasure hunter. Menelusuri jejak harta karun, mengumpulkan batu mulia yang paling dekat terlihat di horison, lalu berpindah ke batu mulia terdekat selanjutnya. One step at a time. Aku tidak pernah memiliki peta harta karun yang super detail sejak awal. Alhasil, hidupku tidak linier, tidak selalu satset atau efisien dalam meraih pencapaian ini-itu. Tapi bagiku, perjalanan itu sendiri sudah bermakna. Terlebih karena aku menjalaninya bersama anak-anak dan keluarga. Dengan segala keajaiban kecil yang Tuhan titipkan di setiap langkah, rasanya itu sudah harta karun paling indah yang bisa kudapatkan.
“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”
