Sekolah ke Luar Negeri Bareng Keluarga: Strategi Non-LPDP

Setiap tahun kayaknya ada aja ya drama perdebatan soal LPDP. Sebagai bukan anak LPDP yang nggak paham seluk beluknya, aku sebenernya nggak pingin ikutan komentar. Ini mah aku cuma mau berbagi informasi soal jalur lain kalau pingin sekolah ke luar negeri.

Kalau memang punya tujuan tinggal lebih lama di luar, setidaknya sampai anak-anak lulus sekolah dasar, bahkan mungkin sampai mereka kuliah dan bisa hidup mandiri…

Kalau nggak sanggup dengan beban moral buat wajib “berkontribusi” ke negara (entah dengan pulang atau sebagai diaspora). Yah namanya pakai duit pajak rakyat, ada tanggung jawab moral lebih untuk kasih manfaat buat Indonesia…

Aku sendiri dulu nggak pernah kepikiran daftar LPDP, bukan cuma karena nggak pede bakal keterima hahaha, tapi juga kayak males ngebayangin harus bikin esai yang berbunga-bunga soal membangun negeri. Lha wong saat itu bahkan aku belum tau cita-cita ‘kalau udah gede’ mau jadi apa.

Ngebayangin proses seleksinya yang panjang juga udah bikin keder duluan. Makanya waktu aku mau sekolah lagi, aku cuma nyari beasiswa dari kampus luar aja. Aku juga sadar diri, nggak daftar ke kampus Ivy League atau Oxbridge, yang peringkat ini itulah. Karena memang nggak tertarik. Tujuan aku spesifik: pingin balik ke negeri Nordik.

Aku pertama kali merantau ke Swedia tahun 2012, dan jatuh cinta sama sistem di sana. Jadi, waktu aku sempat balik ke Indo setelah dari Brunei, apalagi anak-anak mau masuk SD, cita-citaku ya balik ke Nordik. Meski waktu itu suami belum ada tanda-tanda bakal dapat kerja lagi di sana, akhirnya kuputuskan untuk cari S2 di Nordik aja.

Sayangnya, Swedia udah nggak gratis buat mahasiswa internasional, tapi saat itu Finlandia masih ada opsi beasiswa yang bebas tuition fee hingga 100%. Akhirnya kudaftar ke Universitas Oulu, karena ada program Education & Globalisation yang cocok buatku yang pengin belajar tentang sistem pendidikan berbagai negara.

Info terbaru soal tuition fee di Oulu: https://www.oulu.fi/en/apply/how-apply/university-oulu-tuition-fees-and-scholarships-for-international-applicants

Kalau di Helsinki: https://www.helsinki.fi/en/admissions-and-education/apply-bachelors-and-masters-programmes/tuition-fees-and-scholarship-programme


Selain itu, di Oulu ada sekolah internasional yang masuk public school, jadi anak-anak bisa sekolah gratis. Aku sendiri nggak pasti mau menetap lama di Finlandia atau nggak, karena masih kepikiran Swedia. Tapi satu lagi pertimbangannya, Oulu adalah salah satu pusat R&D perusahaan telekomunikasi Finlandia, tempat suami dulu pernah kerja. Siapa tahu ada kesempatan kerja di sana, kan?

Persiapan pertamaku adalah bikin aplikasi, esai dan research plan, karena itu syarat pendaftarannya. Aku nggak pernah bikin esai formal pun rencana riset bertema pendidikan sebelumnya, jadi tentu pusing banget! 😂

Untungnya, aku punya jaringan ibu-ibu alumni kampusku S1 dulu yang bisa bantu. Mereka tersebar berkarya di berbagai bidang pun di berbagai negara. Aku konsultasi sama kakak kelas yang lagi S3 di Jerman buat ngoreksi research planku, dan sama temen di Aussie alumni Erasmus buat koreksi esaiku.

Latihan IELTS aku belajar mandiri aja, beli buku di Gramedia. Berhubung dulu nilai TOEFL abal-abal di kampus gajah agak lumayan, plus sehari-hari masih sering baca buku bahasa Inggris, jadi nggak terlalu jumpalitan sih. Targetku juga nggak tinggi, yang penting lulus minimal 6.5. Alhamdulillah, lulus juga meski deg-degan haha.

Untuk latihan wawancara, aku sempat les online sama native speakers sebulanan biar lebih lancar ngobrol. Di Indonesia, sehari-hari ngobrolnya sama tukang sayur aja soalnya hehe.

Aku daftar cuma ke satu kampus itu, karena menurutku, kesempatan orang Indonesia diterima di program itu lumayan besar. Lihat dari visi-misi programnya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, beragam budaya dan bahasa, cocok banget.

Aku coba buat aplikasiku unik, menggabungkan posisiku sebagai IRT yang ingin balik kerja—mencerminkan inklusivitas dan women empowerment yang mereka anut. Plus, pengalamanku yang bolak-balik merantau bisa nambah perspektif north-south yang mereka inginkan. Meski aku sadar bukan sosok yang prestatif, kombinasi dari berbagai latar belakangku ini menurutku cukup bisa dikemas menarik.

Hamdalah sih akhirnya keterima. Dan sepertinya hampir tiap tahun di program tersebut sekarang ada mahasiswa Indonesianya kok. Atau setidaknya dalam satu cycle master 2 tahun itu, ada orang Indonesianya walau cuma seorang hehe.

Sekarang soal biaya, transparan aja deh walau ini udah 6 tahun lalu. Tentu sekarang sudah berubah, tapi buat kasih gambaran aja:

Tiket ber-4 one way Jakarta-Helsinki: waktu itu naik Qatar, hampir 2500 euro lah. 40 juta.

Aplikasi residence permit Finland buat ber-4: sekitar 1000-an euro, sekitar 20 juta lagi. Info terbaru: https://migri.fi/en/processing-fees-and-payment-methods#2024

Asuransi kesehatan: aku pakai Swisscare, sekitar 200 euro setahun, sekitar 3,5 juta.

Urusan legalisir dokumen: surat nikah, akta kelahiran, dll. Karena aku nggak sanggup bolak-balik ke tengah Jakarta, aku pakai jasa agen, kira-kira habis 3-5 jutaan.

Deposit rekening buat setahun biaya hidup: waktu itu sekitar 30 ribu euro lebih, kurang lebih 500 juta, buat dapat izin tinggal. Karena masuk sebagai student yang nggak punya income bulanan, bawa keluarga pula, makanya perlu bukti tabungan itu buat aplikasi permit. Info terbaru bisa cek website Migri

Sewa apartemen bulan pertama: sekitar 550 euro, termasuk murah karena Oulu kota kecil.

Jadi, total modal pribadi buat berangkat sekeluarga ke Finlandia tanpa perlu bayar tuition fee tapi biaya hidup pribadi, ya sekitar 500-600 jutaan lah.

Mahal? Tentu saja, mau nangis gilaak! 😂 Tapi kalau dipikir-pikir, dengan investasi segitu aku dapat pendidikan anak gratis buat dua anak, insya Allah kalau masih ada rejekinya bisa sampai mereka kuliah nanti. Misal dibanding sekolah internasional di Jakarta atau Tangsel yang entah butuh berapa ratus juta setahunnya untuk setiap anak. Itu baru pendidikan dasar ya belum mikirin kuliah. Rasanya cukup masuk akal modal yang harus kita siapkan.

Biaya hidup sebulan di Oulu, asal hemat, pengeluarannya di bawah syarat kok. Percaya nggak, biaya hidup di sana nggak jauh beda dengan kelas menengah Jakarta, sekitar 20 jutaan sebulan. Jadi, 500 juta itu sebenarnya bisa cukup buat hidup dua tahun. Tapi ya mau gimana, syarat visa bilangnya itu buat setahun.

https://www.ppi.fi/copy-of-ilustrasi-pengeluaran-1

Rencana awal, setahun pertama tabungan buat hidup, tahun kedua suami harus udah dapat kerja. Tapi waktu itu cari kerjaan di Oulu susah, jadi suami akhirnya balik kerja ke Swedia. Aku sama anak-anak di Oulu. Terpaksalah kita LDR di kutub, padahal pas aku juga kudu nyelesain tesis. Yah, namanya juga perjuangan!

Jadi, begitulah ceritanya aku berangkat sekolah lagi bareng keluarga. Jalur non-LPDP 😂.

Alhamdulillah, akhirnya sehabis pandemi 2020, suami dapat kerja di Helsinki, dan aku lanjut S2 lagi di Helsinki (karena gratis, ya kenapa nggak hehe).

Lagi-lagi aku daftar jurusan yang aku tahu chancenya cukup besar buat orang Indonesia sepertiku. Master kedua itu cognitive science, tapi ada di bawah program linguistic diversity and digital humanities. Lah, kalau soal keragaman linguistik, Indonesia mah siapa yang ngalahin, kan? Dan aku rasa satu-satunya orang Indonesia yang daftar waktu itu 😂.

Sekarang, aku lagi di tahun pertama S3, dan dapat posisi bergaji dari kampus. Alhamdulillah nggak pusing mikirin pendanaan sampai akhir 2027.

Sejujurnya, faktor utama kenapa aku bisa keterima di posisi S3 ini karena udah ada di sini sebelumnya, udah bangun relasi dengan calon supervisor, dan sedikit banyak tahu seluk-beluk gimana sistem di sini bekerja. Kalau harus apply dari Indonesia, dengan prestasi aku yang sungguh mediocre, jujur kumerasa sulit 🤣.

Jadi ya, semua ini sebenarnya bukan karena aku punya CV cemerlang. Hanya soal pas: ketemu orang yang tepat, di waktu yang tepat, di tempat yang tepat.

Semua ini tentu nggak lepas dari doa dan bantuan orang-orang. Tanpa si Teteh di Jerman yang ngoreksi proposalku, temen di Aussie yang cek esaiku, profesorku di sini yang kukenal sejak jaman S2, dan doa emak bapak, tentu nggak akan kejadian.

Tapi yah semua harus dimulai dari diri sendiri. Harus mau keluar zona nyaman, dan siap mengorbankan prioritas lain. Termasuk nggak peduli omongan orang sekampung, “Ini udah bertahun-tahun merantau kok nggak kaya-kaya, nggak punya tanah berhektar-hektar, rumah, mobil mewah tak ada, haji aja belum 🤪.”