Sibuk Merajut di Kelas Saat Dosen Menerangkan: Sopan atau Tidak?

Teringat sekitar 5 tahun lalu, waktu saya baru pertama kali menjejak kaki di ruang kelas kampus di Oulu, Finlandia. Saya tuh terbingung-bingung, melihat ada teman mahasiswa di sini dengan santainya merajut di kelas, di tengah dosen yang lagi mengisi kuliah. Saya mikir, kok nggak sopan banget ya ini anak?

Setelah beberapa lama kuliah, ternyata fenomena tersebut cukup sering saya lihat. Mahasiswa yang di tengah kuliah di kelas sambil merajut. Bahkan di salah satu mata kuliah, yang saat itu bentuknya proyek kolaborasi kelompok, salah satu dosennya masuk kelas sambil bawa gembolan rajutannya. Saat dosen yang satunya lagi menerangkan, dia malah asyik melanjutkan rajutannya.

Dari Bu dosen tersebutlah, akhirnya saya tahu. Bahwa ternyata di sini merajut di kelas itu dianggap hal lumrah. Bahkan memang dianggap bisa membantu fokus buat mereka yang mudah terdistraksi di kelas. Yang saat pelajaran di kelas, pikirannya sering melantur kemana-mana. Merajut justru membantu pembelajaran buat murid tersebut. Walau tangan sibuk merajut, tapi sebenarnya pikirannya justru lebih fokus untuk menyerap materi.

Kenapa kira-kira merajut bisa membantu pembelajaran? Penjelasan lebih lanjutnya bisa dilihat di cuplikan kuliah dari Profesor Riitta Hari, seorang ahli neurosains senior di sini (beliau ini salah satunya dikenal sebagai pelopor metode brain imaging lewat MEG).

Ternyata ya memang antara gerak motorik badan dan fungsi kognitif otak itu sangat terkait. Tidak heran, mengapa buat banyak orang, merajut sambil mendengarkan kuliah di kelas justru bisa membantu pikiran jadi lebih tajam dan fokus.

Prof Hari cerita, bahwa di golongan lansia, kecepatan dan postur berjalan itu berbanding lurus dengan ketajaman pikiran. Jadi buat yang sudah mengalami penurunan fungsi kognitif, seringkali terlihat pula di postur dan kecepatan berjalannya. Salah satu cirinya pula, para lansia ini banyak yang harus berhenti berjalan dulu kalau mau berpikir yang agak berat. Mereka kesulitan untuk bergerak dan berpikir keras dalam waktu yang sama. Intinya, kemampuan bergerak sigap sambil otak berpikir tajam itu memang salah satu indikator badan dan mental prima.

Selain merajut, doodling atau corat-coret juga ternyata bisa membantu fokus di kelas. Kalau jaman kita dulu, lihat murid asyik gambar-gambar mungkin gurunya akan marah. Dianggap tidak memperhatikan pelajaran. Tapi ternyata, justru doodling saat mendengar pelajaran itu membantu anak untuk mengontrol pikirannya, agak tidak melamun kemana-mana.

Beberapa artikel yang membahas manfaat doodling buat pembelajaran:

Doodling and the default network of the brain

Doodling effects on junior high school students’ learning

The journey from recall to knowledge: A study of two factors–structured doodling and note-taking on a student’s recall ability

Selain itu, saya juga jadi ingat waktu datang ke ruang kelas di sekolah anak saya. Tersedia banyak stability/balance ball (yang seperti bola pilates). Ternyata itu memang digunakan sebagai kursi buat murid-murid yang “susah anteng” di kelas. Mereka justru bisa lebih fokus belajar kalau duduk di atas bola tersebut.

Kalau buat anak saya sendiri yang cenderung “rusuh”, memang bola pilates ini benda wajib. Di rumah juga dia perlu. Entah mengapa, buat dia membantu menenangkan diri, kalau bisa duduk lompat-lompat di atas bola tersebut. Di video ini bisa dilihat, betapa bedanya dia dan adiknya. Adiknya tipe bisa duduk anteng, sementara dia harus terus lompat-lompat di bola haha…

Contoh artikel yang membahas manfaat stability ball di kelas:

Sitting on a stability ball improves attention span and reduces anxious/depressive symptomatology among grade 2 students: A prospective case-control field experiment

The Impact of Stability Balls, Activity Breaks, and a Sedentary Classroom on Standardized Math Scores

Ya itulah sebagian kecil saja contoh. Bagaimana hal-hal yang berkaitan dengan gerak motorik, yang mungkin awalnya terlihat seperti mengganggu, justru bisa membantu pembelajaran. Memang ini saatnya meninjau ulang pola pikir lama kita. Bahwa anak belajar di kelas itu harus selalu duduk manis, tangan sidakep, mata menatap lurus ke papan tulis.