Antara AI dan Pendidikan – Sebuah Refleksi Singkat

Konon katanya, di era serba chatgpt and AI ini, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Pendidikan bukan lagi soal menjejali murid dengan informasi, tapi lebih ke menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri. 

Tapi mari coba kita tanya pada diri kita sendiri. Sebagai orang tua dan pendidik, apakah jargon berpikir kritis ini sudah benar kita terapkan sendiri? 

Di tengah perbincangan hangat kita soal pengaruh perkembangan dunia AI pada sektor pendidikan. Apakah kita sudah cukup kritis dalam membangun pandangan tentang bagaimana AI akan mempengaruhi pendidikan? 

Mari kita telaah diagram berikut yang menggambarkan interaksi antara AI dan pendidikan:

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://osf.io/kps79/download&ved=2ahUKEwj7iLTettj-AhUCy4sKHY28DdQQFnoECAkQAQ&usg=AOvVaw2S6aB7wyiaWbTHeDpALKos

Sejauh ini aneka diskusi di media. Kita hanya fokus pada kuadran 1 dan 2. Jarang sekali perbincangan menyentuh kuadran 3 dan 4. 

Kuadran 1 dan 2 cenderung lebih fokus pada menjadikan kita sebagai pengguna, konsumen pasif dari sebuah produk teknologi.

Tentu ini tidak memberikan banyak ruang untuk menumbuhkan nalar kritis yang seutuhnya. Nalar kritis tumbuh seiring rasa agensi yang aktif. Bahwa kita punya kuasa menentukan nasib. 

Sebagai konsumen produk teknologi kita seringkali didikte oleh korporasi. Apalagi jika sudah tercipta iklim ketergantungan dan tiada pilihan. 

Sudah kita alami sendiri, bagaimana kita tidak punya banyak daya tawar atas hegemoni produk mesin pencari, media sosial, kanal hiburan dan lain sebagainya. Keseharian hidup kita sudah tersandera itu semua. 

(Contoh terbaru, belum lama berlangganan chatgpt, sekarang rasanya saya tidak bisa kalau sehari-hari kerja tidak pakai chatgpt.)

Esensi berpikir kritis haruslah membebaskan. Realitanya, posisi terpenjara seperti itu bukan iklim sehat bagi tumbuhnya kemampuan berpikir kritis. (Sebagai generasi yang tumbuh besar di bawah rezim diktator Orba kita tahu pasti bagaimana represi mematikan nalar kritis.) 

Maka kalau kita telaah lebih jauh, sebetulnya di kuadran 3 dan 4 inilah wilayah yang lebih kondusif bagi tumbuhnya nalar kritis. Alhasil jadi pertanyaan besar, mengapa area tersebut justru tidak kita telusuri lebih mendalam? 

Kita hanya fokus saja terus-terusan bahas aneka aplikasi AI di sektor pendidikan. Bagaimana chatgpt digunakan untuk menulis esai. Bagaimana tutor pribadi berbasis AI bisa dikembangkan untuk pendidikan yang lebih personal. Kita mengelukan pidato terbaru Salman Khan soal Khanmigo-nya.

Kita hanya fokus di seputaran hal sedemikian. Menganggap kuadran 1 dan 2 lah tempat terjadinya sesuatu yang revolusioner, di mana teknologi akan mengubah dunia pendidikan. 

Tapi minim sekali diskusi yang merambah kudaran 3 dan 4. Bagaimana perkembangan teknologi AI ini memperkaya pengetahuan kita tentang bagaimana otak dan pikiran manusia bekerja? 

Apakah ada teori pembelajaran baru yang bisa kita kembangkan, berangkat dari insight yang kita dapat dari pembelajaran mesin? 

Apa bedanya mesin yang belajar bahasa, dengan bagaimana anak kecil menyerap bahasa? 

Adakah pengetahuan baru yang bisa kita terapkan supaya membantu perkembangan bahasa anak? 

Apa hubungannya kemampuan berbahasa dengan kemampuan bernalar kritis? 

Mengapa chatgpt sangat jago berbahasa tapi tak punya yang namanya “common sense”? Incredibly smart but shockingly stupid kalau kata computer scientist Yejin Choi

Mari kita berkaca pada sejarah. Kalau kita telaah kembali, para pionir di bidang AI itu ternyata betulan serius mengeksplorasi keempat kuadran. Selain di bidang AI, mereka pun punya kontribusi nyata pada riset di bidang pembelajaran dan pendidikan. Nama-nama semisal Allen Newell, Herbert Simon, Marvin Minsky, Seymour Papert. 

Ketimbang didorong keinginan untuk mencipta mesin pintar, mereka lebih termotivasi rasa ingin tahu bagaimana sebenarnya otak dan pikiran manusia bekerja. Komputer dan aneka mesin pintar hanyalah “model” yang mereka gunakan untuk membantu membangun pemahaman tentang kecerdasan manusia.

Itulah alasannya, mengapa mereka juga terlibat aktif dalam riset yang melahirkan teori pembelajaran. Kontribusi mereka tak hanya di level aplikasi, tapi juga ada sesuatu yang lebih mendalam. Di level teori dan filosofis. 

Contoh saja, Minsky & Papert terkenal menulis buku Perceptrons yang tentu punya peran signifikan, bagian dari sejarah awal perkembangan Artificial Neural Networks. Ke depannya, metode deep learning kemudian berkembang pesat dan memungkinkan terciptanya mesin transformer seperti GPT-4 saat ini. 

Tapi juga ternyata, Papert adalah pencetus teori pembelajaran bernama “constructionism”. Dia juga adalah murid Piaget, bapaknya teori “constructivism” dalam ilmu psikologi. 

Papert kemudian pindah ke MIT dan mulai menyentuh dunia AI. Di sana terciptalah perkawinan antara konsep sains pembelajaran ala Piaget dengan perkembangan teknologi komputer yang tertuang dalam bukunya Mindstorms.

“Constructionism” ala Papert ini jadi cikal bakal pendekatan pembelajaran yang sering disebut sebagai “maker learning”. Menjamurnya “maker space” alias aneka bengkel dan studio untuk ngoprek bikin-bikin. Irisan sains, teknologi, matematika, seni dan literasi dalam karya nyata. Ada peran besar ide Papert di situ. 

Papert juga mencipta aplikasi praktis, bahasa pemrograman LOGO yang disasar buat anak-anak. Terinspirasi masa kecilnya yang sangat suka roda gigi, pemikirannya ia tuangkan dalam esainya, “The Gears of My Childhood.” 

Di situ dia menekankan pentingnya model yang membuat anak dapat mengeksternalisasikan model mentalnya, dapat melihat proses berpikir dan belajarnya. 

Alias sebenarnya dia sedang bicara soal metakognisi, bagaimana kita mampu merefleksikan proses berpikir kita sendiri. Ia melihat LOGO bisa jadi alat buat itu. 

Bahasa pemrograman LOGO memang tidak populer. Tapi kemudian anak-anak didik Papert di MIT Media Lab yang meneruskan perjuangannya. Bahasa pemrograman Scratch yang kini digunakan jutaan anak belajar pemrograman lahir dari sana.

Menarik pula, bagaimana LEGO robotik dikembangkan karena keluarga Kristiansen di Denmark sangat mengidolakan Papert. Sampai-sampai produk robotik pertama mereka dinamai LEGO Mindstorms, seperti judul buku Papert. Pemikiran Papert benar-benar klik dengan filosofi “playful learning” yang dianut oleh LEGO.

Aplikasi praktis soal pendidikan yang berangkat dari landasan teori dan filosofi pembelajaran yang kuat, dari situlah lahir daya revolusi sesungguhnya. 

Yang perlu kita pikirkan ulang, apa jadinya jika kita hanya fokus pada kuadran 1 dan 2.. Hanya fokus ranah aplikasi praktis, tapi tanpa didasari teori dan filosofi pembelajaran yang kokoh.

Ada resiko besar bahwa perubahan yang terjadi hanya akan didorong oleh logika ekonomi dan efisiensi. Bukan lagi melayani kepentingan anak-anak kita sang pembelajar utama, tapi justru kepentingan para investor dan “share holder” semata.

Maka, jika kita benar-benar ingin mengejawantahkan jargon pentingnya nalar kritis dalam pendidikan di era AI dan chatgpt, mungkin bisa kita mulai dari diri sendiri sebagai orang tua.

Mari mulai dengan lebih kritis mengimajinasikan, seperti apa interaksi antara AI dan dunia pendidikan yang terbaik buat anak-anak kita.