Sebuah “thought experiment” yang sangat menggelitik dari Ustaz Hasrizal. Apa kiranya yang terjadi, kalau Imam Syafii waktu itu hijrahnya sampai ke Finlandia, tidak hanya sampai Mesir?
Negeri di mana pergerakan matahari begitu ekstrim. Konsep siang-malam dijungkirbalikkan tidak jelas. Gelap sepanjang hari di musim dingin. Terang yang tak habis sampai malam di musim panas.

Apa kiranya pengaruhnya pada pemikiran sang Imam, pada aneka kajian ilmu fikih di mazhab Syafii? Pada penentuan waktu salat? Penentuan waktu puasa ramadan? Penentuan hari Idulfitri?

Ustaz Hasrizal ini adalah ustaz asal negeri jiran, Malaysia. Pernah menjadi imam di Masjid Belfast, Irlandia. Pernah pula empat tahun bermukim di Oulu.
Kenal beliau karena waktu itu kami bertetangga apartemen di daerah Raksila. Beliau memang sempat menimba ilmu sains pembelajaran di University of Oulu.
Ustaz Hasrizal ini bisa dibilang paket komplit. Perpaduan kebijaksanaan Barat dan Timur. Selain paham soal ilmu pedagogi berdasar sains pembelajaran modern, beliau juga punya latar belakang tradisi keilmuan Islam yang kuat. Ilmu syariahnya didapat dari pendidikan keluarga ulama sejak kecil di Malaysia, juga pendidikan tinggi formal di Yordania.
Kami memang sama-sama pernah merasakan ekstrimnya geografis Oulu. Kalau ikut matahari, waktu salat di sana jadi sangat ajaib.
Di puncak musim dingin, matahari baru terbit pukul 10.30. Subuhan ya kita sudah berada di kantor atau di sekolah. Jarak zuhur-asar hanya sembilan menit. Jam 14 lewat sedikit sudah magrib. Kebalikannya di puncak musim panas. Magrib jam 23 lewat. Isya lewat tengah malam. Setengah dua pagi sudah subuh lagi.
Esai soal Imam Syafii di atas adalah salah satu bagian dari buku beliau, Pedagogi Ramadan. Buku ini memang ditulis dalam bahasa Melayu. Tapi kita sebagai penutur bahasa Indonesia juga kurang lebih paham. Patut dibaca terutama oleh mereka yang berada di perantauan. Isinya sangat relevan. Dari soal penentuan waktu puasa sampai soal bagaimana mengenalkan anak untuk berpuasa sebagai minoritas.

Di buku ini juga diceritakan. Alkisah berita di koran lokal. Sekitar tahun 2019. Di sebuah sekolah di Tampere, ada kebijakan yang mengakibatkan kontroversi, karena melarang siswa SD berpuasa di jam sekolah. Gurunya khawatir melihat kondisi anak yang tidak fokus belajar, terlihat lelah, lapar dan mengantuk.
Sebelum kita yang di Indonesia protes dan ikut emosi. Perlu dipahami terlebih dahulu konteks di sini.
Guru sangat memperhatikan wellbeing anak. Makan siang di sekolah adalah bagian dari pedagogi, pendidikan soal makan sehat. Yang diperhatikan guru bukan cuma soal akademis. Tapi juga kesehatan fisik dan mental anak.
Awal masalah adalah puasa saat itu jatuh di musim panas yang memang ekstrim sekali panjangnya. Buat yang mengikuti jadwal matahari, bisa sampai 20 jam.
(Pada praktiknya Muslim di sini beragam soal jadwal puasa. Misal, ada yang ikut waktu Mekah sehingga lamanya puasa tidak ekstrim. Namun banyak juga yang tetap mengikuti matahari.)

Puasa memang belum wajib buat anak kecil. Latihan puasa berarti anak boleh berbuka kalau merasa lapar. Namun ya entah bagaimana, ada saja memang keluarga yang sangat ketat.
Anak dihantui rasa takut dimarahi orang tuanya, kalau sampai membatalkan puasa. Walau di sekolah terlihat lemas dan tak fokus belajar.
Akibat kurangnya komunikasi, pihak sekolah pun melihat kasus ini sebagai “pemaksaan” berpuasa oleh orang tua. Sebab wellbeing anak adalah utama, sekolah tersebut memutuskan membuat peraturan, melarang anak SD puasa. Sebuah kesalahpahaman yang sebetulnya tidak perlu terjadi.
Di luar kasus tersebut Ustaz Hasrizal menyoroti. Ada persoalan yang memang perlu didiskusikan lebih lanjut oleh kita komunitas muslim yang bermukim di daerah utara.
Islam awalnya berkembang di area yang tidak jauh dari Mekah & Madinah. Ketika sampai di Eropa pun berpusat di bagian selatan seperti Andalusia – Spanyol. Penyebaran Islam sampai ke daerah utara bisa dibilang relatif fenomena baru.
Di geografis baru ini muslim menemukan tantangan yang tidak bisa diremehkan. Siang malam yang ekstrim. Padahal waktu ibadah kita begitu terkait dengan pergerakan matahari.

Perlu diingat juga, muslim yang beribadah itu bukan hanya orang dewasa yang fisiknya prima. Juga ada anak-anak yang sedang belajar. Ada mereka yang fisiknya rentan seperti kaum lansia. Islam inklusif harus memikirkan itu.
Bagaimana kiranya ulama kita merespon tantangan kontemporer ini?
Ustaz Hasrizal mengingatkan bahwa matahari dan bulan hanyalah makhluk Allah. Pergerakan mereka digunakan untuk menentukan waktu ibadah. Tapi kita kan tidak menyembah mereka.

Memang kadang sulit buat kita yang sedari lahir ritme tubuhnya terbentuk oleh konsistensi waktu terbit dan tenggelamnya matahari. Stabilnya pergerakan matahari sudah jadi bagian dari identitas fisik dan mental kita.
Ustaz Hasrizal berpendapat bahwa sebenarnya diperlukan ulama yang selain mumpuni ilmu agama, juga “homegrown” di komunitas tersebut. Mereka yang memang paham betul konteks geografis, sosial budaya komunitasnya. Bukan ulama yang begitu saja ‘diimpor’ dari negeri asal kaum pendatang.
Ada contoh menarik di Norwegia. Ternyata ada seorang Indonesia yang sudah lama bermukim di sana dan ikut aktif bersama ulama lokal mendiskusikan persoalan waktu salat. Kalau tak salah namanya Pak Abdillah Suyuthi. Beliau adalah sosok dibalik situs yang memberikan perhitungan alternatif waktu salat untuk daerah high latitude. Bisa diakses di http://www.prayertimes.dk
Juga ada slide presentasi beliau tentang konsep waktu salat untuk daerah high latitude berikut ini: https://www.slideserve.com/liseli/prayer-and-fasting-time-for-nordic-countries
Dengan adanya tren migrasi ke utara (terutama dari negeri-negara mayoritas muslim yang terdampak perang seperti Syria, juga korban masif perubahan iklim seperti Pakistan & Bangladesh), pertanyaan Ustaz Hasrizal ini memang sangat relevan.
“Bagaimana kalau kiranya dulu Imam Syafii sempat hijrah sampai ke Finlandia?”

