Sanlat Ramadan Keluarga di Pegunungan Alpujarras-Granada 


Andalusia. Siapa yang tak terpukau dengan segala pesona dan romantisme yang dihadirkannya. Kita semua sudah sering mendengar cerita tentang keindahan kota Granada dan istana Alhambranya. Tapi mungkin tidak banyak yang akrab dengan nama Órgiva dan Lanjarón, dua desa kecil di pegunungan Alpujarras-Granada yang juga menjadi saksi sejarah perjalanan Islam di bumi Andalusia.

Órgiva dan Lanjarón terletak bersebelahan. Sekitar satu jam perjalanan dari kota Granada, ke arah gunung tertinggi di jazirah Iberia, Sierra Nevada. Pegunungan Alpujarras adalah benteng terakhir dinasti Nasrid di Andalusia. Setelah terusir dari Granada, Sultan Boabdil dan pengikutnya sempat bertahan di sana. Walau nahas akhirnya tentara Raja Ferdinand berhasil menumpas perlawanan muslim yang tersisa. Sang Sultan pun berakhir di pengasingan di Afrika Utara.

Ramadan tahun lalu kami sekeluarga berkesempatan menghabiskan sepuluh malam terakhir dan hari raya Idul Fitri di Alpujarras. Sebuah padepokan muslim ekologis bernama Azahara yang berlokasi di Lanjarón memfasilitasi program retret Ramadan alias pesantren kilat. Kami mewakili Indonesia (dan Finlandia), di antara peserta lain yang datang dari berbagai negara.

Sore hari kami sampai di stasiun Granada, empat jam perjalanan kereta cepat Renfe dari Puerta de Atocha Madrid. Di stasiun kami dijemput oleh salah seorang santri Azahara, Abdellah. Seperti kebanyakan pendatang muslim di Granada, Abdellah ini berasal dari Maroko. Buat kami yang baru pertama kali menjejak kota Granada, pemandangan dalam perjalanan menuju Alpujarras sungguh membuat kami takjub akan keindahnya. Dari kejauhan, tampak Sierra Nevada berdiri dengan kokoh. Lengkap dengan puncaknya, Mulhacén yang diliputi salju abadi.

Pemandangan putihnya salju ini kontras dengan corak terakota terestrial kering Jazirah Iberia. Kelak-kelok jalanan yang kami susuri membelah pegunungan bebatuan cadas. Mengingatkan pada tekstur iklim gurun. Walau sedikit membingungkan bagi kami yang terbiasa dengan hamparan salju monokromatik khas negeri Nordik. Bagaimana mungkin pemandangan salju dan gurun bertemu di satu lokasi begini?

Menariknya, berbeda pula dari gurun yang tandus, Pegunungan Alpujarras seperti diberkahi oase yang terus mengalir. Salju abadi di Sierra Nevada menjadi sumber air utama di sana. Alhasil, deretan hijau kebun zaitun, jeruk, delima, lemon, dan almond mengular seperti tak ada ujungnya.

Kami sampai di padepokan menjelang waktu berbuka. Semburat matahari senja bergradasi sempurna dengan warna bata rumah pertanian bergaya Mediterania. Bangunan Azahara menyatu dengan lanskap alam deretan perkebunan di sekelilingnya. Fatima, pemrakarsa padepokan Azahara, menyambut kami dengan aksen inggrisnya yang kental. Sosok keibuan ini senantiasa memanggil saya dan anak-anak dengan sebutan my dear. Ditambah jejak aroma mawar, lavender, rosemary, sitrus dan zaitun di udara musim semi. Kesan pertama yang dihadirkan Azahara begitu hangat, lekat meresap dalam memori.

Tak lama kemudian, suara azan Magrib dikumandangkan oleh Rabi, sang muazin yang berdarah Sisilia. Rabi tak menggunakan pengeras suara. Lengkap dengan jubahnya ia berdiri di atas bukit, menyuarakan azan ke arah lembah kebun zaitun. Membangkitkan imajinasi, mungkinkah seperti itu pula dulu Bilal bin Rabah memanggil para sahabat untuk menunaikan salat?

Takjil berupa kurma dan sup lentil disajikan untuk berbuka puasa. Setelah salat berjamaah, saatnya menikmati menu inti olahan koki Nabil yang berasal dari Aljazair. Ayam tagine khas negeri Magribi menjadi bintang di hari itu. Kata tagine merujuk pada kuali tanah liat yang biasa digunakan untuk memasak sajian istimewa ini. Kuali perlu didudukkan di atas api kecil dan hidangan dibiarkan matang perlahan supaya bumbunya meresap. Alhasil, cita rasa rempah seperti jintan, kunyit, ketumbar, kayu manis dan safron menyatu dengan gurihnya daging ayam yang lembut. Kuahnya pun begitu kaya rasa, dengan sedikit rasa asam manis dari taburan kurma dan aprikot. Tak ketinggalan mendampingi sajian utama, salad kaya rasa yang dilengkapi saus zaitun dan delima—buah yang menjadi ikon kota Granada.

Sehabis Isya, salat tarawih berjamaah 23 rakaat dilanjutkan dengan sesi wirid berjamaah. Di antara keunikan Islam kontemporer di Granada adalah dominasi corak sufistiknya. Zikir bersama ala tarekat merupakan hal biasa. Buat saya yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, wiridan seperti itu merupakan pengalaman baru. Praktik ibadah di Azahara mungkin terasa lebih akrab buat warga NU.

Selain pendatang dari Maroko dan Tunisia, populasi muslim di sana adalah penduduk asli Spanyol yang kembali ke akar sejarah keislamannya. Juga para pengembara dari aneka penjuru dunia yang menemukan kedamaian Islam di sana. Pendekatan spiritual sufistik mungkin memiliki daya tarik tersendiri buat mereka, sebuah wajah keindahan Islam, agama tauhid yang satu, sekaligus memiliki kekayaan khazanah nuansa yang beragam.

Belajar Permakultur dan Pertanian Biodinamik di Azahara

Azahara adalah sebuah padepokan yang memiliki kepedulian tinggi pada isu lingkungan. Mereka menerapkan sistem permakultur, berusaha menciptakan ekonomi swadaya, pun membangun siklus berkelanjutan dalam sistem produksi dan konsumsinya.

Panel surya digunakan sebagai sumber listrik. Mereka menerapkan konsep pertanian organik-biodinamik yang menekankan simbiosis mutualisme antara vegetasi. Sampah dapur diolah menjadi kompos. Limbah cair rumah tangga diolah supaya bisa digunakan untuk mengairi kebun.

Pengenalan terhadap sistem permakultur dan pertanian biodinamik ini menjadi salah satu aktivitas utama sanlat. Anak-anak diajak melihat sumur Azahara yang tersambung dengan sistem pengairan acequia, warisan peradaban Islam Andalusia yang bertahan seribu tahun lebih. Kanal-kanal acequia masih aktif bergemiricik, mengalirkan lelehan salju Mulhacén ke deretan perkebunan Alpujarras hingga kini.

Anak-anak juga diajak berkeliling kebun untuk mengenali aneka tanaman khas Alpujarras. Zaitun, jeruk, delima, lemon, almond, juga aneka tanaman herbal seperti lavender, oregano, rosemary, tumbuh subur di sana.  Mereka belajar cara menyemai bibit, menanam pohon, juga membuat kompos.

Lucunya, keledai milik Azahara yang bernama Zam-Zam senantiasa setia mendampingi anak-anak bekerja di kebun.  Walau sayangnya, Zam-Zam cuma sibuk mengunyah jerami dan tidak ikut membantu apa-apa.

Geometri dan Simetri dalam Alam Semesta

Selama sanlat, anak-anak diperkenalkan dengan kekayaan tradisi peradaban Islam. Ustaz Abdelkarim Cederberg yang asli Swedia mengajar geometri, kaligrafi, ukiran kayu dan memanah. Ornamen geometri dan kaligrafi guratan tangan Ustaz Abdelkarim banyak menghiasi dinding ruang-ruang di Azahara.

Ustaz Abdelkarim menekankan refleksi yang didapatnya setelah menjadi muslim dan berkecimpung dalam seni kaligrafi. Di dalam Islam, keindahan, kebaikan, dan kebenaran itu satu paket. Mengklaim kebenaran tanpa keindahan tutur kata dan kebaikan perilaku akan membuat semua kehilangan makna.

Pelajaran dasar geometri dan kaligrafi yang didapat dari Ustaz Abdelkarim  ternyata sangat bermanfaat sebagai persiapan untuk mengunjungi Istana Alhambra. Jadi lebih mudah untuk memaknai penjelasan pembimbing tur kami, Ouafae, muslimah asal Maroko yang sudah lama bermukim di Granada.

Aneka ornamen geometri dan kaligrafi yang menghiasi Alhambra menyimpan filosofi yang begitu dalam. Pola geometri yang berulang memberi efek visual ketakberhinggaan, mengingatkan kita akan kekuasaan Sang Pencipta yang tak ada batasnya.

Pun semua itu sebenarnya merefleksikan nilai tauhid. Bahwa geometri dan simetri, segala pola keteraturan dan harmoni di alam semesta, sumbernya adalah satu, Allah semata.

Anak-anak juga diajak menyaksikan langsung bagaimana geometri dan simetri terwujud dalam unsur alam. Satu hari didedikasikan untuk belajar keajaiban lebah bersama Abdul Haqq, peternak lebah Azahara yang berasal dari daerah Basque.

Awalnya kami sangat gugup ketika harus menggunakan baju pelindung lengkap. Khawatir tetap ada lebah lolos dan menyengat. Tapi ternyata lebah-lebah tersebut ramah. Abdul Haqq menyalakan asap yang konon bisa menenangkan kawanan lebah. Selama kita tak mengganggu, mereka pun tak akan agresif menyerang.

Jejak Cita Rasa Musik Bangsa Moor dalam Flamenco

Andalusia, termasuk Granada, terkenal dengan tarian dan musik flamenconya. Federico García Lorca, penyair kenamaan asal Granda, banyak menyebut istilah duende dalam karyanya. Kata dalam bahasa Spanyol yang sulit dicari padanannya. Buat Lorca, makna duende terwakili oleh rasa yang tercipta setelah menyaksikan flamenco, sebuah emosi misterius, intens, indah, tetapi juga menyimpan banyak kepedihan.

Lorca berargumen bahwa seni flamenco memiliki akar pada periode turbulen Andalusia. Saat muslim Moriscos, Yahudi Sephardic, dan kaum Gipsi mengalami persekusi. Menurut Lorca, flamenco berakar pada hasil akulturasi budaya kaum terpinggirkan Andalusia.

Sembari ngabuburit di Azahara kami menyaksikan tampilan musik sufi ala Turki dari Zevk Ensemble. Uniknya, saya baru tersadar, ada nuansa musik Moor Andalusia di situ. Ada petikan gitar oed yang liris. Ada ketukan tamborin. Ada nyanyian penuh penghayatan. Ada semacam kerinduan teramat sangat pada sesuatu yang dicinta. Ternyata, ada semacam benang merah yang menyatukan aneka musik dari berbagai daerah yang terpengaruh peradaban Islam.

Pun entah mengapa emosi yang timbul saat itu mengingatkan pada konsep duende yang dipaparkan Lorca. Padahal saya tidak sedang menyaksikan flamenco, tapi musik “Islami”. Mungkin benar apa kata Lorca, ada jejak bangsa Moor dalam suara flamenco.

Mengunjungi Dergah di Órgiva

Ada beragam tarekat sufi di komunitas muslim Andalusia, termasuk Naqshabandiyah. Di desa Órgiva, salah seorang syaikh dari tarekat Naqshabandi mendirikan dergah, semacam pusat ibadah dan aktivitas komunitas.

Bagian dalam dergah berfungsi tak ubahnya masjid, tempat kaum muslim salat berjamaah, tilawah, juga zikir bersama. Sedangkan teras dan halaman dergah seringkali digunakan untuk berbagai aktivitas sosial, dari acara makan-makan, sampai bazar tempat warga berjual beli.

Di hari Jumat kami mengunjungi dergah di Órgiva untuk salat Jumat dan zikir berjamaah. Salat Idul Fitri juga dilaksanakan di dergah. Kami dikagetkan dengan betapa multikulturalnya Órgiva. Padahal ia bukanlah kota metropolis, melainkan desa kecil di tengah hamparan kebun zaitun, jeruk, dan delima. Namun, kami bisa menemukan jamaah dari aneka penjuru dunia. Kami bahkan bertemu jiran Malaysia. Sambil bercanda dia bertanya apakah kami juga rindu kari ayam dan daging rendang seperti dirinya.

Jamón Halal ala Alpujarras

Sebuah buku berjudul Jamón and Halal karya Christina Civantos merepresentasikan bagaimana Alpujarras menegosiasikan perbedaan, juga rekonsiliasi atas sejarah pilu Andalusia dilakukan di masa kini. Tentulah dialog yang tak mudah di tengah kompleksitas globalisasi, dengan aneka isu panas seperti politik identitas dan perdebatan seputar imigrasi.

Jamón atau ham adalah sajian khas Spanyol yang menjadi elemen utama tapas, aneka makanan yang disajikan dalam porsi kecil. Kalau berkunjung ke Spanyol niscaya akan melihat asinan paha babi ini digantung di mana-mana.

Karena iklim pegunungannya, daerah Alpujarras ini terkenal sebagai produsen jamón berkualitas. Uniknya, selama di Azahara, kami seringkali disajikan jamón halal yang terbuat dari kaki kambing untuk sahur. Jamón halal ini adalah salah satu bentuk nyata dari negosiasi identitas yang terjadi. Banyak muslim di sana adalah orang asli Spanyol yang menemukan kembali dirinya sebagai bagian dari sejarah Islam di Andalusia.

Secara umum Andalusia adalah area yang mengalami pertumbuhan pesat pemeluk Islam, salah satu yang tertinggi di Eropa. Menyaksikan dinamika kehidupan di Alpujarras, saya lantas paham mengapa Islam bisa menjadi magnet tersendiri bagi para pencari kedamaian spiritual di Eropa. Wajah Islam yang ditampilkan memang begitu damai.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari Alpujarras dan Andalusia. Sebagai bangsa yang berhasil menyatukan ratusan etnis, ratusan bahasa, berbagai agama, kadang kita orang Indonesia merasa sudah sangat paham soal keberagaman dan inklusi. Namun, tentu bahaya kalau jadi jemawa. Musuh pembelajar sepanjang hayat adalah arogansi. Menganggap diri sudah pintar. Merasa sudah tahu semua dan tak perlu belajar lagi.

Helsinki, 5 Ramadan 1444H

Klik link untuk informasi lebih lanjut mengenai Azahara