(Helsinki, Mei 2021)
Mengapa banyak praktik pendidikan buruk yang jelas bertentangan dengan sains pembelajaran tetap lestari di masyarakat kita?
Bagaimana konsep hierarki di masyarakat berperan memelihara aneka mitos soal pembelajaran ini?
Saya mau curhat panjang.
===================================
Kemarin Hari Buku Nasional, sebenarnya ingin bercerita tentang buku ini.

Karya Isabel Wilkerson ini intinya membahas akar dari aneka permasalahan yang dihadapi negerinya saat ini. Ia menguliti fakta bahwa sebetulnya negerinya itu beroperasi mengikuti sistem kasta yang berkelindan kompleks dengan isu rasial.
Ada sistem yang memposisikan manusia berdasar hierarki tertentu. Posisi puncak diduduki mereka yang keturunan kulit putih Eropa, posisi paling bawah diduduki oleh warga keturunan Afrika. Keturunan Asia dan ras lainnya ada di antaranya.
Isabel juga menjabarkan benang merah antara hierarki di negerinya dengan sistem kasta di India, pun dengan paham Eugenics, superioritas ras Arya ala Eropa.
Menurutnya, konsekuensi sistem kasta ini sangat mahal. Aneka permasalahan pelik yang dihadapi negerinya kini bisa dirunut ke sana. Dari mulai polarisasi politik, kesenjangan ekonomi, krisis pendidikan, krisis kesehatan, krisis kepercayaan, dan aneka pergolakan lainnya.
Itu semua analisis Isabel tentang negerinya. Berhubung belum pernah menjejak ke sana, tidak bisa komentar banyak juga.
Tapi saat membaca buku tersebut entah mengapa ingatan terbawa ke buku Para Priyayi karya Umar Kayam. Walau tentu hierarki masyarakat Jawa di Indonesia tidak bisa disamakan dengan hierarki yang berlaku di negerinya Isabel.
Novel Para Priyayi ini juga sebenarnya menyimpan kritik, bahwa struktur sosial masyarakat Jawa itu tak sesederhana trikotomi Priyayi, Santri, Abangan. Sosok priyayi sendiri tidak se-egosentris seperti yang digambarkan Clifford Geertz. Menurut novel ini, priyayi yang sungguhan itu harus berperan sebagai pembangun relasi antar status dan punya kepedulian sosial tinggi.
Terlepas akan relevansi Priyayi-Santri-Abangan di zaman Indonesia modern ini, rasanya tak bisa dipungkiri, masyarakat kita memang hierarkis. Entah kasta, entah kelas, saya tak tahu bedanya. Tapi memang ada hierarki dengan bermacam-macam variasinya.
Ambil saja contoh dulu di ITB nih ya..
Walau anak SMA 3 Bandung bisa dibilang dominan, tetaplah hierarki tertinggi diduduki alumni SMA 8 Jakarta. Besar di ibukota, orang tua pejabat atau pengusaha kaya, dan yang paling penting dari semua…berteman sekelas sama Nicholas Saputra. Tentu tidak ada yang bisa mengungguli posisi mereka untuk berada di puncak piramida.
Kemarin saya baru lihat simpulan dari sebuah paper. Beberapa poin di antaranya mengusik benak. Karena rasa-rasanya sangat terkait dengan seberapa percaya kita dengan sistem yang menempatkan manusia berdasar hierarki tertentu.
Paper tersebut sebenarnya tentang aneka mitos pembelajaran yang dipatahkan oleh fakta-fakta penelitian teranyar.
Di antara lain:
MITOS 1:
Gen adalah penentu utama perkembangan pembelajaran anak. Kecerdasan dan kemampuan kognitif adalah hal yang tetap.
Kalau kita percaya bahwa manusia dilahirkan untuk menempati posisi tertentu di masyarakat, berdasar keturunan, priyayi atau rakyat jelata. Mitos seperti ini tentu sangatlah cocok.
“Ya memang priyayi pintar, intelegensia tinggi, bawaan gen priyayi. Ya memang si anu, lambat berpikir, nggak cocok sekolahan, gen jelata.”
Riset terbaru:
Konteks, hubungan, lingkungan, pengalaman adalah penentu utama perkembangan pembelajaran anak (Immordino-Yang et al., 2019; Slavich, 2020).
Gen disebut sebagai “chemical follower,” manifestasinya bergantung konteks (Cantor et al., 2021).
Konsekuensi praktisnya apa? Anak dengan gen jelata, kalau dapat konteks tumbuh kembang macam priyayi, bukan tidak mungkin, malah jadi lebih pintar dari anak priyayi.
MITOS 2:
Bakat dan keterampilan adalah hal yang jarang ditemukan (scarce). Mereka yang “exceptional” inilah yang disebut berbakat dari lahir, calon- calon pemimpin masyarakat.
Kalau kita percaya bahwa bakat dan keterampilan memang murni bawaan lahir dan terkonsentrasi di golongan “exceptional” di masyarakat, sistem pendidikan yang memihak golongan “berbakat” inilah yang akan tercipta.
Alhasil sistem pendidikan memiliki kurikulum tersembunyi yang memang didesain untuk melayani kelompok tertentu. Tak usah heran kalau golongan priyayi sukses di sekolah, karena memang sistem persekolahan dibuat mengikuti karakteristik kaum priyayi.
Riset teranyar:
Bakat dan keterampilan tersebar ada di mana-mana dalam diri setiap anak (ubiquitous) (Bornstein & Putnick, 2019; Csikszentmihalyi et al., 1993).
Pendidikan harus didesain untuk menumbuhkan potensi masing-masing anak, terlepas latar belakangnya. Seperti kata pepatah, “Talent is universal but opportunity is not.”
MITOS 3:
Potensi anak sebagai pembelajar bisa dievaluasi dari awal. Ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan potensi belajar yang memang tinggi, ada yang tidak. Perkembangan keterampilan dan kompetensi anak bersifat linier dan terukur.
Ini terjadi ketika kita sebagai pendidik dari awal sudah punya metrik yang kita yakini akurat untuk menilai potensi belajar anak.
Metrik ini tidak bebas bias. Biasanya, nilai yang tinggi disematkan pada anak kalangan menengah atas dan terdidik alias priyayi. Nilai rendah disematkan pada anak yang miskin.
Dan bias ini semakin kuat, kalau kita memang percaya, seseorang perlu “ditempatkan” pada posisinya masing‐masing.
Riset terkini:
Potensi anak sebagai pembelajar, sampai mana batas kemampuan anak, bukankah hal yang bisa ditentukan terukur di awal oleh pendidik (Rose, 2016).
Amanat pendidikan adalah membantu semua anak untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensinya seluasnya. Pun perkembangan pembelajaran bukanlah proses linear yang mudah diukur, tapi mengikuti jalur naik turun bukit dan lembah yang unik buat setiap anak
MITOS 4:
Menyangkut “fixed mindset” (pola pikir tetap) versus “growth mindset” (pola pikir bertumbuh).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan anak bahwa ia berdaya punya agensi, dan bahwa kecerdasannya bisa ditumbuhkan (bukanlah sesuatu yang tak bisa diapa-apakan lagi), hal tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan pembelajaran anak (Dweck, 2016).
Sementara itu, “fixed mindset” ditandai dengan kepercayaan bahwa kecerdasan adalah suatu bawaan genetik yang sifatnya tetap. Semua dikaitkan dengan sifat bawaan anak, alih‐alih dengan ikhtiar anak.
“Fixed mindset” juga cenderung fokus pada “performance goal” (pencapaian di titik tertentu misal nilai yang bagus, masuk sekolah unggulan, dsb). Bukan pada “mastery goal” (proses panjang menumbuhkan keahlian yang ada jatuh bangunnya, ketika kegagalan dianggap bagian proses pembelajaran).
Ketika kita hidup di tengah masyarakat yang begitu memegang teguh hierarki, akan sulit untuk melepaskan diri dari pola pikir “fixed mindset” ini. Memang pola pikir ini pas sekali untuk melestarikan hierarki.
Ada sebuah fakta miris, ini menurut data PISA 2018 (bukan penggemar PISA, tapi mari ambil hikmahnya).
Proporsi anak Indonesia yang memiliki “growth mindset” tidaklah sampai 30%. Lebih dari 70% masih percaya bahwa kecerdasan mereka relatif tidak bisa diapa‐apakan lagi. Alias ya sudah begitu bawaan orok.
Tapi ya tak usah mendadak heran.
Kita memang membesarkan mereka dalam iklim yang senantiasa mencerminkan “fixed mindset.” Percaya bahwa semua punya “tempatnya” masing‐masing, tergantung masuk hierarki mana.
Semua itu sudah tertulis dalam nama. Apakah itu Agus Harimurti atau Agus Mulyadi. (Mohon maaf Mas Agus Mojok, salim dulu)
Begitulah. Saya juga tidak tahu, apakah mitos-mitos di atas memang harus dipelihara karena mengandung kebijaksanaannya tersendiri. ‘Kearifan’ bangsa yang perlu, demi mencipta harmoni.
Tapi dalam hal pembelajaran, saya harap kita lebih memilih percaya pada hasil riset. Mengapa harus melestarikan sesuatu yang ternyata menghambat terciptanya konteks optimal buat otak anak belajar?
Belajar itu terlampau penting untuk menyerah pada mitos. Manusia diperintah “Iqra.” Sepanjang hayat.
