(Helsinki, Maret 2021)

Pernah nggak sih baca buku seru banget. Lembaran kertas mendadak hidup, jadi tiga dimensi. Semisal baca Harry Potter. Terbayang nyata sudut-sudut Hogwarts sampai penjara Azkaban. Wajah teduh Dumbledore sampai seramnya sosok Voldermort.
Salah satu teori literasi bilang bahwa saat membaca itu otak kita membuat imaji mental. Seperti film di kepala. Hanya saking sudah otomatisnya membaca, kita nggak benar-benar ngeh proses ini terjadi. Kecuali kita berhenti sejenak, merenung. Memang secara sadar bertanya pada diri, film apa ya tadi yang muncul di kepala?
Teori ini juga bilang sebetulnya membaca itu bukan hal natural yang dilakukan otak. Peradaban mencipta aksara sekitar 4 milenia yang lampau dan ternyata evolusi budaya ini masuk ke ranah fisik dengan mengubah struktur otak manusia. Karakteristik otak mereka yang melek aksara khas dibandingkan mereka yang tak kenal aksara.
Yang terjadi adalah otak kita mendaur ulang sebagian area yang awalnya digunakan untuk memproses sensori visual, seperti mengenali wajah, mengenali bentuk di sekitar. Maka masuk akal, kenapa saat kita membaca, kepala kita memainkan film tersendiri di kepala. Mengubah teks jadi imaji mental.
Ternyata proses membuat imaji mental ini berperan penting dalam kemampuan memahami bacaan. Pun menjadi dasar terbentuknya kemampuan mengkritisi bacaan. Keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Ada yang namanya imaji simbol dan imaji konsep. Imaji simbol sifatnya lebih ke bagian kecil-kecil. Misal, bagaimana huruf k ketika kita mendengar kata “ikan” digambarkan di dalam kepala. Imaji konsep sifatnya lebih holistik, gambaran menyeluruh, konsep yang kita tangkap dari sebuah bacaan.
Teori ini berpendapat bahwa anak yang lancar membaca namun kesulitan memahami bacaan, itu karena gagal mengkonstruksi imaji konsep yang komplit. Ia hanya mampu menampilkan potongan dari keseluruhan “gambar.”
Buat mereka yang beruntung dibesarkan dalam lingkungan kaya literasi mungkin kemampuan mengkonstruksi imaji konsep ini terasa muncul secara alami. Tidak pernah ingat kapan diajarinya.
Tapi sebenarnya anak butuh bimbingan. Bagaimana caranya sih memvisualisasikan isi teks menjadi film yang bagus di dalam kepala? Apalagi buat mereka yang kurang beruntung, lingkungan sekolah adalah satu-satunya wahana yang memfasilitasi pengalaman literasi. Seingat saya dulu SD, teknik visualisasi bacaan ini memang tidak diajarkan di sekolah. Sekarang mungkin beda?
Salah satu teknik mengembangkan kemampuan anak mengkonstruksi imaji mental ini dikembangkan oleh Lindamood-Bell. Mereka memang lebih banyak bekerja dengan anak berkebutuhan khusus jadi mungkin kita jarang mendengarnya. Riset mereka pun diaplikasikannya di klinik terapi, cenderung mahal, tak terjangkau buat umum.
Ini contoh teknik yang diajarkan Lindamood-Bell. Namanya teknik visualisasi dan verbalisasi.
Kita sebagai pendidik diminta eksplisit menggunakan kalimat yang memancing imaji. “GAMBAR apa yang muncul di kepalamu?”, “IMAJI apa yang kamu bayangkan?”, “What do you PICTURE in your mind?”
Ada kartu petunjuk yang digunakan untuk membantu anak memvisualisasikan imaji mentalnya dengan baik. Kartu tersebut seperti terlihat di gambar: “apa, di mana, kapan, warna, bentuk, ukuran, suara, emosi, dst..”
Contoh aktivitas bersama anaknya begini:
- Ambil buku yang akrab, sudah sering dibaca bersama anak. Untuk anak SD, baiknya berbentuk “picture book” atau “chapter book” berilustrasi.
- Minta anak untuk memilih halaman tertentu. Rahasia. Jangan diperlihatkan pada ibu.
- Tugas ibu nanti menebak halaman itu bagian yang mana dari cerita.
- Tugas anak adalah mendeskripsikan secara detail halaman itu. Baik ilustrasi maupun apa yang digambarkan oleh teks.
- Gunakan kata-kata dalam kartu petunjuk untuk membantu anak mendeskripsikan. Misal untuk “warna,” anak mendeskripsikan warna apa saja yang muncul di halaman tersebut. Merah, kuning, hijau. Untuk “bentuk,” anak perlu mendeskripsikan bentuk apa saja yang muncul. Lingkaran, kotak, segitiga.
- Begitu sampai kartunya habis. Lalu giliran ibunya menebak. Misal, “Ooh, ibu tahu, ini pasti halaman yang mengGAMBARkan saat mereka pindah rumah ya?”
Atau cara lain:
-Misal saat membaca buku yang baru, belum pernah dibaca sebelumnya.
-Baca satu halaman buku bersama anak.
- Lalu tutup halaman tersebut.
- Gunakan kartu petunjuk untuk meminta anak mengGAMBARkan ulang, apa tadi isi halaman tersebut. Sekomplit mungkin. Ada objek apa saja. Warna, bentuk, ukuran, suara, dsb..
Inti aktivitas ini adalah melatih keterampilan anak membuat koneksi, imaji ke teks atau teks ke imaji. Riset Lindamood-Bell bilang bahwa aktivitas sederhana ini terbukti efektif berperan meningkatkan kemampuan anak membentuk imaji konsep, yang kemudian membantu untuk memahami bacaan.
Aktivitas ini baru satu contoh bagaimana teknik visualisasi dan verbalisasi dilakukan. Masih banyak aktivitas lain di dalam metode visualisasi dan verbalisasi untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan. Tapi ini saja dulu dicoba rutin. Tak perlu lama-lama. Sesi 15 menit saja sudah bermanfaat buat anak.
Ref:
“Visualization Skills for Reading Comprehension” by Janine Toole PhD.
https://a.co/gCMMVut
“Reading in the Brain: The New Science of How We Read” by Stanislas Dehaene.
https://a.co/f8de3QC
