The Idea of the Brain

(Helsinki, Februari 2021)

Beberapa waktu kemarin saya ikutan sesi zoom-nya Profesor Matthew Cobb. Penulis buku “The Idea of the Brain.” Beliau cerita soal sejarah bagaimana peradaban manusia memahami otak.

Selama ribuan tahun manusia tidak menaruh perhatian pada organ otak. Mereka percaya bahwa jantung adalah pusat semesta tubuh. Tempatnya elan vital kehidupan. Selain membuat darah mengalir, juga tempatnya rasa, pikiran dan kesadaran. Makanya di mumi Mesir kuno, sementara organ dalam lain bahkan otak pun dibuang, jantung tetap dipertahankan. Dinyana bakal dibutuhkan untuk bangkit di alam selanjutnya.

Di peradaban Yunani, Aristoteles juga berpendapat demikian. Jantung (heart) adalah tempatnya kita merasa dan berpikir. Namun konon Hipokrates si bapak kedokteran punya pendapat berbeda. Ia percaya otaklah yang berpikir. Pendapat soal otak ini juga diamini oleh Galen, tabib ahli anatomi manusia zaman Romawi yang hidup di area yang kini jadi bagian dari Turki.

Menurut Prof. Cobb, tidak ada satu momen besar sejarah yang mendefinisikan kapan “cardiocentric” (jantung sebagai pusat) ini berubah jadi “cephalocentric” (otak sebagai pusat). Proses ini terjadi perlahan dan bertahap, satu titik membawa ke titik selanjutnya.

Prof. Cobb menunjukkan bahwa peradaban Islam punya peran besar dalam membangun pemahaman manusia soal otak. Contohnya saja dalam karya-karya Ibnu Sina. Walau tercatat sebagai pewaris pemikiran Aristoteles, ia juga ahli pengobatan & anatomi yang mengikuti jalan penelitian Galen. Ibnu Sina percaya jantung adalah letak energi kehidupan, tapi iya juga mengilustrasikan detail bagian-bagian otak dan apa fungsinya dalam tubuh manusia.

Ketika zaman pencerahan dimulai di Eropa, para intelektual saat itu mengambil posisi bahwa otak adalah pusat. Namun, otak tetaplah misteri besar, ilmu pengetahuan belum bisa meneroka, proses apa yang terjadi di sana.

Untuk memahami apa yang belum bisa dipahami, manusia biasanya menggunakan kekuatan analogi dan metafor. Dalam sejarah peradaban modern, perkembangan teknologilah ternyata yang dijadikan metafor untuk memahami otak.

Di zaman Descartes, saat itu teknologi hidrolik yang baru muncul. Alhasil Descartes menggambarkan bahwa kerja otak itu seperti mesin hidrolik. Ada gerakan cairan dari otak yang kemudian jadi sumber penggerak bagian tubuh lain.

Teknologi kemudian berkembang jadi mesin mekanis. Manusia pun membayangkan bahwa kerja otak itu seperti mesin dalam jam. Robot mekanik automata adalah salah satu bentuk obsesi manusia untuk memahami kerja “mesin kehidupan” ini.

Saat muncul teknologi listrik dan baterai, manusia mulai memahami bahwa sensori diproses sebagai aliran listrik oleh otak.
Ketika muncul telegraf, ilmuwan mengibaratkan kerja otak itu seperti telegraf.

Saat teknologi telefon muncul, ilmuwan beranggapan kerja otak dan sistem syaraf itu ya seperti jaringan telefon. Dan ketika konsep informasi sebagai proses digital muncul, manusia pun mengibaratkan otak itu ya seperti komputer.

Namun, seiring kemajuan sains dan teknologi saat ini, kita juga dipaksa untuk rendah hati mengakui ketidaktahuan, batas kemampuan ilmu pengetahuan untuk menjelaskan. Manusia mulai sadar bahwa otak tidaklah seperti komputer. Saat ini superkomputer adalah teknologi tercanggih yang kita miliki. Tapi kita tahu, otak manusia jauh lebih kompleks dari superkomputer manapun.

Metafor memang membantu kita memahami sesuatu. Namun metafor juga bisa mengekang dan membatasi imajinasi kita. Prof. Cobb berpendapat, mau tidak mau kita butuh metafor baru untuk membimbing arah perkembangan pengetahuan. Otak tidak bisa lagi diibaratkan seperti mesin, seperti komputer.

Menariknya, ilmu pengetahuan juga membawa ingatan kita kembali ke pentingnya peran jantung. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jantung punya kumpulan jaringan syaraf yang bekerja seperti “otak” kecilnya sendiri. Menjelaskan mengapa para pujangga menggunakan istilah sakit hati, patah hati. Rasa sesak ketika sedih memang terasa begitu nyata. Panas di dada yang menyebar ke seluruh tubuh bersama aliran darah.

Ternyata jantung dan otak punya mekanisme sinergi tersendiri dalam menciptakan realitas bagi manusia. Berpikir dan merasa bisa dibilang terjadi tidak cuma di otak, tapi memang “embodied.” Kecerdasan, kognisi itu tak hanya terletak di kepala tapi memang mewadah di sekujur tubuh.

Prof Cobb berpendapat, bahwa metafor paling optimis yang kita miliki saat ini untuk memahami otak terletak di “emergence theory.” Sesuatu yang tiba-tiba muncul, “emerging,” artinya ketika perilaku sesuatu tidak bisa direduksi, dipahami melalui perilaku elemen-elemen kecilnya. Perilaku keseluruhan elemen ketika mewujud sebagai sebuah sistem holistik ternyata berbeda dibanding ketika mereka berdiri sendiri-sendiri.

Manusia punya entah berapa miliar sambungan sinapsis, belum lagi bersinergi dengan aneka komponen hormon dan neurotransmiter. Semua harus dipahami sebagai sebuah sistem menyeluruh. Tentu ini menghasilkan kompleksitas yang tak terbayangkan. Banyak ilmuwan sampai beranekdot bahwa teknologi membawa kita untuk lebih paham soal bintang di luar angkasa ketimbang perihal otak kita sendiri.

“Emergence theory” ini banyak dipakai ilmuwan yang menggunakan pendekatan sistem, seperti contohnya fisikawan Fritjof Capra. Namun banyak ilmuwan tak suka dengan teori ini karena dianggap cuma cara lain bilang kalau kita bingung. Pun dinilai jadi celah buat munculnya dimensi metafisik. Hal diluar pagar materialisme yang banyak diimani ilmuwan sekuler.

Di akhir sesi, Prof Cobb sendiri tak bisa memberi jawaban pasti soal masa depan pengetahuan kita soal otak. Akankah kita paham bagaimana kesadaran manusia bisa muncul?

Berbeda dengan semangat determinisme teknologi yang menyatakan bahwa kecepatan perkembangan teknologi mau tidak mau membawa kita pada singularitas, ketika mesin dan komputer jadi punya kesadaran. Yang saya tangkap Prof Cobb mengambil sikap lebih mawas diri dan rendah hati.

Ia memberi satu tantangan. Sampai detik ini pengetahuan belum bisa menyimpulkan dan memetakan komplit bagaimana kerja holistik sistem syaraf di dalam perut seekor lobster. Tebakan paling optimisnya, misteri “otak” lobster ini tak akan terpecahkan bahkan dalam 50 tahun ke depan. Sampai kita berhasil memetakan bagaimana sistem syaraf dalam perut lobster bekerja, mesin-mesin berkesadaran bak manusia bagi Profesor Cobb masihlah termasuk science fiction. Tak ubahnya film Star Trek dan The Matrix.

Satu yang saya pelajari dari kuliah Prof. Cobb kemarin. Soal kekuatan metafor. Jangan sembarangan kalau memberi dongeng pada anak-anak.

Saat ini narasi dominan yang sering kita dengungkan seputar revolusi industri ke 4: di masa depan mesin-mesin cerdas akan menggantikan pekerjaan manusia. Alhasil, semua anak harus belajar teknologi, AI dan semacamnya kalau mau bertahan, kalau mau dapat pekerjaan.

Metafor punya kemampuan menginspirasi, sekaligus membatasi imajinasi.

Ketimbang melulu mendongeng bahwa semua pekerjaan bakal diambil mesin cerdas, kenapa tidak menggelitik imajinasi anak, bahwa mungkin masyarakat butuh cara baru untuk mendistribusikan sumber daya selain lewat pekerjaan?

Kalau memang semua manusia butuh punya pekerjaan supaya memenuhi rasa eksistensi diri, kenapa tak mendongeng bahwa selama ini sempit sekali definisi kita soal pekerjaan.

Mari ajak anak mempertanyakan, mengapa membesarkan anak, merawat orang tua, menjaga pohon dan sungai, tak dianggap sebagai pekerjaan yang berkontribusi positif bagi ekonomi?

Belajar soal teknologi tentu bagus. Hal yang wajib, bagian dari literasi fungsional buat manusia urban yang sehari-hari berinteraksi dengan teknologi. Tapi kita harus berhati-hati. Untuk tidak membungkus pelajaran teknologi dalam narasi, dongeng, metafor, analogi, yang justru mengukung imajinasi.

Demikianlah kesimpulan dongeng panjang sejarah pemahaman soal otak dari Prof. Cobb tempo hari. Ujungnya adalah tentang bagaimana perkembangan sains, budaya, dan teknologi itu saling berkelindan satu dengan lainnya.

Karya beliau ini menarik, sangat patut untuk dibaca.

“The Idea of the Brain: A History: SHORTLISTED FOR THE BAILLIE GIFFORD PRIZE 2020” by Matthew Cobb.
https://a.co/iy9wAgE