Kisah Nico dan Brooke: Dua Anak yang Hidup dengan Sebelah Otak

(Helsinki, Februari 2021)

Satu bab paling berkesan dari buku Bu Mary Helen Immordino-Yang: “Emotions, Learning and the Brain.” Hasil penelitiannya tentang dua anak, Nico dan Brooke. Implikasinya besar sekali buat dunia pendidikan.

Sewaktu balita Nico harus kehilangan sebagian otak sebelah kanannya karena epilepsi. Sedangkan Brooke, penyakit langka membuatnya terpaksa menjalani operasi ekstrim untuk membuang sebagian otak sebelah kiri.

Sehabis menjalani operasi, dokter tidak bisa menjamin apakah mereka bisa hidup normal kembali. Apakah bisa bicara, bisa jalan, bisa kembali sekolah dan beraktivitas normal seperti anak lainnya.

Singkat cerita, ketika hasil penelitian ini dipublikasikan, Nico dan Brooke sudah berusia remaja.

Ajaib memang. Bu Immordino-Yang mendokumentasikan bahwa mereka bisa dibilang punya kehidupan normal laiknya anak biasa.

Secara fisik, keduanya bisa bergerak, berjalan mandiri. Memang, motorik tubuh bagian kanan Nico agak lemah. Tapi hebatnya, Nico malah jago olahraga anggar. Ia bergabung dalam tim paralimpik anggar dengan kursi roda, karena memang gerak kakinya yang kurang lincah.

Sementara Brooke, memang gerak motorik tubuh sebelah kirinya yang lemah. Tapi itu tidak menghalanginya untuk produktif. Ia tertarik dengan isu lingkungan dan aktif di pusat daur ulang sampah.

Nico dan Brooke juga jago melukis. Aliran seni keduanya memang tampak berbeda jauh. Lukisan Nico nampak sangat presisi. Ia jago mereplikasi lukisan-lukisan legendaris dengan kemiripan yang tinggi. Lukisan Brooke lebih komikal. Ada unsur jenaka nan usil dalam setiap karyanya.

Saat hasil riset ini dipublikasikan, keduanya sudah duduk di bangku SMA. Kecerdasan mereka ternyata cukup untuk mengikuti tantangan akademis sekolah formal. Sungguh tidak ada yang menduga mereka mampu sampai ke sana. Mengerjakan tugas sekolah, bahasa dan matematika, seperti teman-teman sebayanya. Semua itu hanya dengan sebelah bagian otak saja??

(2)

Penelitian Bu Immordino-Yang ini memberi pencerahan baru soal neuroplastisitas otak pada anak.

Kasus Nico dan Brooke mungkin contoh ekstrim pemulihan yang sungguh ajaib.

Tapi hikmah yang bisa diambil, bahkan untuk kerusakan yang melibatkan fisik dan struktur otak seperti itu, kita tak pernah tahu di mana batas keajaiban otak untuk memulihkan diri. Sebagai manusia yang mensyukuri keagungan ciptaan-Nya, optimis dan terus ikhtiar jadi satu-satunya pilihan logis.

Kasus Nico dan Brooke juga memberi makna tersendiri soal jargon “growth mindset.” Sebelumnya, saya merasa, komunitas keilmuan MBE (Mind-Brain-Education) nampak berlebihan mendorong agenda soal neuroplastisitas dan “growth mindset” ini.

Apa iya itu realistis? Bukannya ada hal-hal yang memang mentok, “yah apa mau dikata, aku memang nggak bakat!” (Misal, menggambar & bernyanyi kalau kasus saya wkkw).

Namun membaca halaman demi halaman penelitian Bu Immordino-Yang ini, saya jadi punya pemahaman baru.

Apa jadinya kalau sedari awal orang tua Nico berpikir begini: anaknya tak punya otak bagian kanan, ia tak akan lagi punya kemampuan yang “dimitoskan” berpusat di otak bagian kanan. Ia tak akan paham seni, emosi dan intuisi.

Apa jadinya kalau sedari awal orang tua Brooke berpikir begini: anaknya tak punya otak sebelah kiri, ia tak akan mungkin lagi berpikir logis, matematis, analitis. Seperti asumsi kita soal mitos fungsi dominan otak sebelah kiri.

Tentu akan lain lagi akhir kisah Nico dan Brooke ini.

Betapa luar biasanya daya juang keluarga mereka. Kasih sayang orang tua yang tercermin pada kepercayaan terhadap kemampuan anak. Kekuatan mental yang mampu mematahkan mitos lama soal dominasi otak kanan dan otak kiri.

(3)

Penelitian Bu Immordino-Yang ini juga mengingatkan akan sesi lain yang cukup membuat kaget.

Dalam sebuah sesi soal SEL (social-emotional learning), seorang Psikiater anak Bu Pamela Cantor bilang, “gene is chemical follower.” Manifestasi potensi genetik sangat tergantung konteks dan lingkungan. Gen tidak bertindak sendiri, dia malah disebut sebagai pengikut.

Ini membolak-balikan pemahaman saya selama ini yang menganggap suratan langit itu dominan tercatat dalam kode-kode genetik DNA kita.

Alhasil pemahaman saya berubah. Yang lebih tepat itu memang “Nature via Nurture.”

Suratan langit itu tak terlepas dari hal-hal ini: kita lahir di mana, orang tua seperti apa, lingkungan tumbuh kembang, tempat-tempat yang udaranya kita resapi, makanan yang kita cernai, orang-orang yang kita temui. Dalam bahasa Bu Pamela, “context shapes the expression of our genetic potential.”

Memang, Nico dan Brooke pastinya anak-anak dengan kemauan tinggi. Namun pemulihan keduanya tidak bisa dilepas dari keseluruhan konteks mereka berada. Punya orang tua yang luar biasa. Bertemu para ahli yang kompeten. Sekolah dan guru yang suportif. Teman-teman baik yang membersamai.

Saya pun jadi sadar pentingnya hubungan sehat dalam sebuah ekosistem. “Growth mindset” itu bukan sekedar mentalitas individu. Tak bisa dilepaskan dari upaya kolektif. Kolaborasi untuk mencipta ekosistem (konteks) yang kondusif bagi optimalnya tumbuh kembang setiap anak.

Konsekuensinya, permasalahan yang struktural dan sistemik menjadi semakin penting. Kemiskinan, kesenjangan, sanitasi, nutrisi, kesehatan, akses pendidikan. Konteks tumbuh kembang anak yang jadi PR besar kita semua.

Solusi psikologis seperti soal “growth mindset” ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan struktural. Kalau kata Bu Pam, “… structural inequalities can give rise to psychological inequalities and that those psychological inequalities can reinforce
the impact of structural inequalities on achievement and future opportunity.”

(4)

Satu hal yang jadi fokus Bu Immordino-Yang dalam kasus Nico & Brooke. Soal kemampuan bahasa, kemampuan komunikasi verbal mereka yang relatif “utuh.”

Bu Immordino-Yang menggarisbawahi soal prosodi. Kemampuan untuk fleksibel mengatur nada bicara, tinggi rendah intonasi, jeda titik koma, membedakan kalimat tanya kalimat seru, aneka nuansa emosi yang timbul dari dinamika nada bicara. Intonasi bisa menghasilkan makna yang sama sekali berbeda untuk kalimat yang sama.

Secara konvensional dipahami bahwa kemampuan prosodi ini diproses secara bilateral oleh otak. Kedua belahan otak, bagian kanan dan kiri terlibat. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kemampuan prosodi Nico & Brooke nampak utuh, padahal mereka hanya hidup dengan sebelah otak?

Kesimpulan Bu Immordino-Yang: Otak Nico dan Brooke fokus pada bagian otak yang tersisa, pada kekuatan mereka, apa yang mereka jago.

Misal, Nico yang hanya memiliki otak bagian kiri. Ketimbang berusaha mengambil alih apa yang biasa dikerjakan oleh otak bagian kanan, otak Nico memilih untuk mengubah input permasalahan jadi jenis input yang disukai otak bagian kiri.

Begitu juga yang terjadi pada Brooke. Otaknya memilih mengubah input permasalahan jadi jenis permasalahan yang lebih mudah diproses oleh otak, bagian kanan.

Dari luar, problem yang dihadapi Nico & Brooke nampak sama. Sama-sama prosodi. Namun ternyata, keduanya mendekati problem tersebut dengan cara berbeda. Mereka mengubah problem itu, disesuaikan dengan kekuatan yang dimilikinya.

Soal detail mekanisme yang terjadi, Bu Immordino-Yang memberi penjelasan panjang yang kompleks. Ini simplifikasi saja. Mohon tidak diartikan sebagai klasifikasi otak kanan vs otak kiri.

Buat Nico, prosodi dianggap problem analitik. Ia mengobservasi secara detail, mengumpulkan data kecil-kecil, sampai ia menemukan pola yang bisa digeneralisasi.

Buat Brooke, prosodi didekati secara holistik. Sesuatu baru bisa dipahami secara menyeluruh. Ia seperti punya intuisi. Banyak menangkap sisi emosi dan konteks dalam memahami percakapan.

Hal ini menunjukkan bahwa problem pembelajaran yang sama bisa dipandang dari perspektif yang sangat berbeda oleh setiap anak.

(5)

Kesimpulan penelitian Bu Immordino-Yang ini jadi bukti ilmiah akan besarnya peran aktif pembelajar yang tidak sekedar pasif menerima input/informasi dari luar.

Dalam kasus Nico dan Brooke, diatas kertas mereka tidak akan punya kemampuan verbal yang utuh. Profil neurologis mereka tidak mendukung untuk memproses prosodi.

Tapi kenyataannya, mereka mampu memodifikasi input, mengubah persoalan prosodi ini jadi “persoalan baru,” yang dapat dipahami oleh kekuatan profil neurologis mereka masing-masing.

“Simply put, both boys appear to be compensating so successfully because, instead of changing themselves to suit the problem, they have used their remaining strengths to reinterpret the processing problem itself into something they know how to do. Interestingly, their emotional skills appear to have played a major organizing role in this assimilation process.”

Lalu, apa implikasi praktis kesimpulan penelitian ini buat pendidikan anak kita sehari-hari?

Sebagai pendidik kita harus berpikir serius ketika menyajikan suatu “problem” pembelajaran bagi anak kita. Tiap anak bisa jadi mendekati suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, satu soal cerita matematika sederhana.

Buat seorang anak bisa jadi soal tersebut adalah tantangan verbal. Buat anak lain, bisa jadi permasalahan spasial. Buat anak lain lagi, bisa jadi persoalan afektif atau sosial.

Ketika ingin membantu anak yang terlihat kesulitan memahami suatu tantangan pembelajaran, kita harus peka melihat bagaimana ia memandang persoalan tersebut.

(6)

Buat saya pribadi, pesan dari Bu Immordino-Yang ini bikin ngeh soal satu hal.

Selama ini tidak habis pikir kenapa anak tidak hobi membaca. Padahal sedari kecil (perasaan) rajin dibacakan buku. Sebisa mungkin juga disediakan lingkungan kaya literasi. Tapi kok dia tetap nggak rajin membaca, ya?

Ternyata saya kurang peka soal ini. Saya dan anak saya punya perspektif yang berbeda dalam memandang persoalan membaca. Tapi selama ini saya memaksakan perspektif saya dalam usaha membuatnya suka membaca.

Dalam imajinasi saya, membaca itu ya “reading for pleasure.” Memang dinikmati. Buat mengisi waktu. Tanpa perlu ada agenda khusus. Dari dulu bayangan ideal saya soal hobi membaca itu kalau bisa leyeh-leyeh santai sambil menenggelamkan diri dalam novel seru. Aspek afektif begitu dominan bagi saya dalam memandang persoalan membaca.

Buat anak saya, membaca itu cuma kalau perlu. Kalau membantu dia menyelesaikan suatu masalah. Misal, dia merasa butuh informasi, dan informasi itu adanya di suatu buku, barulah dia akan membaca. Aspek instrumental yang dominan dalam caranya memandang persoalan membaca.

Sejak menyadari itu saya tidak lagi keuekueh bikin anak jadi seperti imajinasi ideal soal anak yang hobi membaca. Ya nggak apa-apa kalau buat dia membaca itu “cuma” jadi alat untuk mendukung hobinya yang lain, ngoprek-ngoprek dan tentunya main game wkkw…

Saya jadi ngeh harus berdamai. Saya mulai berstrategi untuk menyediakan buku yang memang mendampingi kegiatan kesukaannya itu. Kebanyakan memang jadinya buku bergenre “how to.” Buku fiksi pun disesuaikan tema ceritanya, petualangan tokoh yang hobi ngoprek-ngoprek.

Tapi benar memang. Tanpa susah-susah dicereweti, dia bisa buka sendiri buku anak buat belajar sebuah bahasa pemrograman. Gara-gara dia pingin tahu caranya bikin game menangkapi telur-telur yang jatuh dari langit.

Saya jadi belajar legowo. Harus berhenti membandingkan potfolio bacaan dia dengan bacaan saya waktu seusianya dulu. Memang perspektifnya beda. Ya nggak apa-apa. Tak usah merasa gagal membesarkan anak kalau anaknya tidak hobi baca karya-karya klasik legendaris yang cocok nampang di laman instagram bunda literasi 😁.

(7)

Catatan lain dari Bu Immordino-Yang, kita juga harus hati-hati kalau menyajikan persoalan pembelajaran untuk tidak sembarangan melepaskan aspek “skill” yang ingin dipelajari dari konteks kehidupan nyata anak.

Dalam kasus Brooke, Bu Immordino-Yang menemukan bahwa ketika dipisahkan dari konteks sosial-budaya dan emosionalnya, Brooke gagal memahami suatu persoalan.

“As educators, we generally assume that isolating a low-level skill will make it more accessible to students and easier, but this example highlights the fact that separating skills from their context can change them in unforeseen ways. To understand how skills function, then, we need to think carefully about how and why the skill is being used in that context, from the student’s perspective, and to be mindful about the underlying purpose of the processing.”

Contohnya, masih soal matematika. Pernah mengalami kan bagaimana anak malah “mental block” ketika menghadapi soal yang sebenarnya secara matematis sederhana seperti ini: “Dua butir apel beratnya 1 kg. Berapakah berat empat butir apel?”

Ada anak yang sungguh bingung melihat soal itu, karena sepanjang pengalamannya, apel itu cuma sebesar apel Malang. Buat dia, tidak masuk akal ada apel besar sekali seberat 1 kg dua biji. Apel jumbo apa pula itu? Memangnya ada apel jumbo? Di mana tumbuhnya? Dijual di supermarket mana? Alih-alih menyelesaikan soal hitungannya, anak bakal fokus sama pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Ternyata kita tidak bisa meremehkan kebingungan yang dihadapi anak akibat soal yang tidak kontekstual seperti itu. Cuma bertujuan bikin anak mengaplikasikan kemampuan berhitung, tapi soalnya tidak realistis buat kehidupan nyata.

Tentang pembelajaran yang abai dari konteks Bu Immordino-Yang bilang, “simpler skills may not necessarily be easier from a neuropsychological perspective.” Anak bisa beneran gagal paham konsep sederhana gara-gara penyajian yang tidak peka konteks.

Ini menjawab pertanyaan. Mengapa dulu sekolah belasan tahun, tapi rasanya sedikit yang nempel. Apa yang saya pelajari di sekolah dulu memang banyak yang tak relevan buat konteks keseharian. Ternyata ada penjelasan neurosains dibaliknya.

(8)

Banyak hikmah yang bisa diambil dari penelitian Bu Immordino-Yang ini. Delapan catatan saya ini cuma sebagian saja.

Ada soal neuroplastisitas, growth mindset, pentingnya peran lingkungan dalam manifestasi potensi genetik anak.

Ada juga soal strategi otak anak untuk memodifikasi input, bagaimana satu persoalan pembelajaran bisa dipandang dari perspektif berbeda-beda oleh setiap anak.

Dan terakhir, soal pembelajaran yang abai konteks. Dari sudut pandang neurosains Bu Immordino-Yang menunjukkan mengapa itu adalah resep buat bikin anak gagal paham.

Catatan ini tidak runut memang. Tapi semoga sedikit memberi gambaran. Sila akses langsung artikelnya untuk menelaah sendiri lebih jauh ya:

Mary Helen Immordino-Yang
A Tale of Two Cases: Lessons for Education From the Study of Two Boys Living With Half Their Brains
“Emotions, Learning, and the Brain: Exploring the Educational Implications of Affective Neuroscience
https://a.co/7QJ91Pp

Pamela Cantor
Malleability, plasticity, and individuality: How children learn and develop in context
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10888691.2017.1398649

A Tale of Two Cases: Brooke and Nico