Cerita Panjang Menonton Sidang Disertasi

(Helsinki, 10 November 2020)

(1)

Kemarin baca berita yang sempat ramai di harian nasional sini (pakai Google translate 🤭).

Tentang riset terbaru kenapa performansi negeri ini dalam tes PISA cenderung menurun. Yang disoroti terutama meningkatnya kesenjangan antara anak yang performansinya tinggi dengan yang rendah. Walau saya sendiri bukan fans PISA, tapi menarik juga menyimak perbincangan ini.

Hasil riset ini bikin ramai soalnya “mengguncang” tiga konsep utama yang sedang digalakan oleh pendidikan di sini.

Penambahan porsi self-directed learning, penggunaan media digital dalam pembelajaran, dan yang paling utama, mempertanyakan manfaat pendidikan anak usia dini.

Pergeseran pedagogi di sini yang banyak menambah porsi self-directed learning ternyata berkorelasi dengan penurunan rata-rata kemampuan dasar anak sini di usia 15 tahun (indikatornya PISA).

Ini terjadi karena anak yang kemampuan regulasi dirinya kurang bagus jadi keteteran, apalagi anak-anak yang memang memiliki perkembangan atipikal seperti ADHD dsb. Anak yang dari awal berlabel “pintar” memang tak masalah, tetap berjaya. Kesenjangan yang tercipta inilah yang kemudian disoroti.

Penggunaan media digital untuk pembelajaran terkait erat dengan kemampuan regulasi diri. Dan riset ini menunjukkan bahwa tidak semua anak mampu mengoptimalkan manfaat media digital. Apalagi dengan metode belajar mandiri, bimbingan guru berkurang. Sedihnya, yang cenderung memiliki kemampuan regulasi diri rendah ini adalah anak-anak dari strata sosial ekonomi bawah, pun yang berlatar imigran.

Soal PAUD, ini sangat menarik. Ternyata buat konteks negeri ini, riset menunjukkan bahwa yang menerima manfaat terbesar dari PAUD justru anak-anak dari strata sosial tinggi. Efek pemerataan yang digadang jadi manfaat utama PAUD bagi anak-anak “beresiko” ternyata tidak sesuai harapan. Keikutsertaan di PAUD tidak berasosiasi dengan peningkatan performansi kemampuan literasi, matematika, sains & pemecahan masalah di usia 15 tahun.

Padahal PAUD yang terkait dengan penitipan anak adalah salah satu ruh model ekonomi negeri kesejahteraan ala negeri-negeri utara. Kebanggaan mereka.

Kontroversial memang. Kebayang kan mengapa riset ini bikin ramai publik?

https://www.hs.fi/paakirjoitukset/art-2000007422953.html

https://helda.helsinki.fi/handle/10138/320436

(2)

(Helsinki, 12 November 2020)

Masih melanjutkan soal editorial koran nasional sini yang kemarin bikin ramai publik. Hari ini muncul tanggapan balasannya. Tajuk artikel tersebut dinyana menyesatkan.

“Hasil penelitian itu tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan tidak efektifnya metode pembelajaran self-directed learning.”

Para ahli yang pro pedagogi progresif bermunculan menyuarakan kontra. Termasuk salah satunya profesor yang nama depannya kembaran sama Mbak Perdana Menteri, ahli Self-Regulated Learning dari kampus 65 derajat lintang utara.

Beberapa poin utama yang disoroti:

  • Masih menggunakan tes terstandarisasi semacam PISA untuk mengukur hasil pembelajaran di era yang serba kompleks?
  • Kesinkronan timeline data penelitian. Data yang dipakai adalah hasil PISA 2012 & 2015. Padahal reformasi kurikulum negeri ini yang mulai menempatkan banyak porsi self-directed learning baru terjadi di tahun 2016. Pun soal pengaruh penggunaan media digital pada pembelajaran. Penggunaan tablet di sekolah-sekolah baru marak mulai 2012.
  • Persoalan terminologi. Ada kritik terhadap definisi self-directed learning yang digunakan dalam penelitian tersebut.
  • Beberapa kritik lain, juga terkait detail metodologi penelitian mengenai PAUD.

Yang paling menarik sebenarnya bagaimana media di sini memberi ruang untuk diskusi soal pendidikan.

Di artikel-artikel tersebut, disediakan tautan langsung ke sumber primer, file disertasi yang jadi bahan sorotan.

Prosesi sidang disertasi tersebut yang akan berlangsung Kamis ini pun dibuka untuk umum. Ada undangan publik untuk mengikuti live streamingnya.

Artinya awam yang membaca berita, termasuk orang tua, benar-benar “dianggap.” Diharapkan untuk terlibat aktif dalam diskusi menentukan arah pendidikan negeri. Tidak semata jadi penonton para ahli-ahli berdebat di media.

https://www.hs.fi/mielipide/art-2000007610643.html
https://helsinginyliopisto.etapahtuma.fi/kalenteri/english.aspx#.X6xcfbexWDY
https://www.hs.fi/kotimaa/art-2000007612761.html

(3)

(Helsinki, 13 November 2020)

Tadi siang akhirnya nonton sidang disertasi yang dari kemarin aku ceritain. Yang ramai dibahas di media nasional karena memang kontroversial. Menyerang reformasi pendidikan di sini yang banyak bernuansa konstruktivisme & student-centered learning.

Salah satu yang dikritisi oleh penguji disertasi tersebut adalah kutipan mengenai self-directed learning berikut:

“The development of self-directedness is, however,
largely explained by genetic factors. For example, the development of self-
control is explained by approximately 80% or more by genetic factors…”

Apa maksud kalimat itu? Apakah artinya kalau sudah bawaan genetik, memang akan susah menumbuhkan self-directedness pada anak? Kalau anak tidak bakat belajar mandiri, yasudah memang harus diberi banyak instruksi langsung saja terus?

Penguji nampak tidak sreg dengan penampilan angka yang deterministik, X %, tanpa penjelasan panjang apa maksudnya. Saat ini bukan lagi debat soal nature versus nurture. Relatif disepakati bahwa yang lebih tepat itu nature via nurture. Bawaan genetik itu penting, namun bagaimana ia menemukan ekspresinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan & pengasuhan. Alias keduanya saling berkelindan dalam interaksi kompleks yang sulit dikuantifikasi angka. Pak Penguji nampak berargumen sedemikian.

Sayangnya, walau pertanyaan penguji disajikan dalam Bahasa Inggris, Mbak Aino menjawab dalam bahasa Suomi. Alhasil saya pun tak mengerti sama sekali apa jawaban doi 😁.

Jadi, ini pun masih menjadi misteri. Apa maksud dan implikasi dari pernyataan Mbak Aino bahwa self-directedness banyak dipengaruhi faktor genetik?

Maaf ya. Tulisan kali ini memang tidak ada kesimpulannya hahaa

(4)

(Helsinki, 14 November 2020)

Masih melanjutkan cerita “lost in translation” waktu nonton sidangnya Mbak Aino kemarin.

Pertanyaan pertama yang diajukan pak penguji sungguh menohok.

Kalau saya di posisi Mbak Aino, ini semacam lagi di Stasiun Bandung terus ditanya, “Ceu, ngapain kok naik kereta Parahyangan (ke Jakarta)? Kita semua kan mau ke Surabaya!”

Padahal ini sidangnya dibikin live streaming. Apalagi Mbak Aino kadung beken, rajin masuk koran sejak beberapa tahun kebelakang akibat risetnya yang banyak mengkritik arah reformasi pendidikan negeri ini. Entah berapa banyak orang duduk manis mantengin Mbak Aino dari layar masing-masing.

Di sini yang namanya sidang disertasi memang judulnya “public examination.” Alias pasti dibikin terbuka, siapa saja boleh hadir. Tidak ada sidang tertutup.

Pertanyaan Pak Penguji itu kurang lebih begini. “Kenapa Mbaknya masih menggunakan PISA untuk mengevaluasi sistem pendidikan kita?”

PISA hanya mengukur “domain knowledge”. Alias ya, skor pelajaran matematika, skor literasi, skor pelajaran sains. PISA tidak mengukur “transferable skills” misal kemampuan berpikir sistem, keterampilan sosial-personal dsb.

Sementara sudah jelas, seperti yang tertera dalam dokumen nasional, yang ingin dicapai oleh sistem pendidikan di sini adalah terbentuknya “transversal skills,” yang ada tujuh itu:

Kemampuan berpikir & belajar. Kemampuan personal dalam mengurus diri. Kompetensi kultural dalam berinterasi & berekspresi. Multiliterasi (yang mana literasi didefinisikan luas sebagai praktik sosial yang multimodal tak hanya teks). Kompetensi ICT. Kewirausahaan dan kompetensi tempat kerja. Partisipasi dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

Nah, kenapa Mbaknya keuekueh naik Parahyangan?? Kita mau ke Surbaya. Argo Bromo, Mbak! Ibaratnya begitu.

Tapi lagi-lagi. Saya hanya bisa bengong ketika Mbak Aino menjawab pertanyaan tersebut dalam bahasa Suomi.

Percaya atau tidak, Bahasa Suomi adalah bahasa yang menjadi inspirasi Tolkien ketika menciptakan bahasa kaum Elf untuk karya-karya fantasinya. Maka maklum saja kalau banyak yang keder duluan untuk mempelajarinya. Sadar diri kalau bukan peri tapi manusia biasa wkkwkw 😁

(5)

(Helsinki, 15 November 2020)

Lanjut ya, cerita tentang nonton sidang kemarin.

Pertanyaan lain dari Pak Penguji. Tak kalah menohok dari pertanyaan pertama.

Ini ibarat ada seseorang yang lagi meneliti tentang seblak. Nampak dia tidak membedakan dengan jelas mana seblak, mana cuanki, batagor, cilok, cireng. Asalkan mengandung aci, cabai, juga micin diatas ambang batas kewajaran disebutnya sebagai seblak. Kebetulan dia memang bukan orang Bandung.

Tentu ini hal yang wajar dipertanyakan. Ketika mau riset tentang seblak. Tapi ternyata kok bicaranya kecampur-campur antara seblak, cuanki, batagor dsb.?

Mbaknya ditanya, yang dimaksud sebagai self-directed learning dalam risetnya ini apa?

Menurut Pak Penguji, Mbaknya nampak mencampurkan definisi self-directed learning dengan konsep “avoimen opetuksen” (kata google translate sih artinya semacam didaktika “open teaching.”)

Asal muasalnya, konsep self-directed learning memang mengacu pada konteks adult education (Knowles, 1975).

Sementara kalau bicara self-directed learning untuk konteks pendidikan dasar, para ahli di sini biasanya mengacu pada kerangka “avoimen opetuksen” itu tadi.

Runyam kalau mencampur konsep beda konteks begini, konteks pendidikan dewasa dengan pendidikan dasar anak-anak. Praktik pedagogi yang mau dievaluasi jadi tidak jelas apa saja contohnya.

Karena ketidakjelasan terminologi ini, Pak Penguji jadi sempat bingung baca laporan riset Mbaknya.

Sebagai latar belakang. Riset kali ini adalah disertasi ketiga Mbaknya.

Disertasi pertamanya ada di bidang psikologi. Disertasi keduanya di bidang neuroscience. Tentang hubungan struktur otak dengan resiko psikosis. Baru Juni lalu juga sidangnya (iya, dalam periode dua tahun post-doctoralnya dia menulis dua disertasi 😂).

Disertasi ketiga di bidang pendidikan ini adalah upaya Mbaknya untuk lintas disiplin. Mbaknya nampak pingin menemukan irisan antara neurosains (brain), psikologi (mind) dan pendidikan (education).

Tapi ternyata memang tidak mudah ya. Mbaknya memang tidak banyak pengalaman terjun ke ruang kelas. Alhasil nampak ada gap-gap pengetahuan dalam risetnya. Mbaknya banyak mendapat kritik dari para profesor bidang pedagogi. Walau tentu keberaniannya ini sangat diapresiasi.

Ini mungkin termasuk hal yang bikin kaget awam seperti saya. Dulu saya pikir kalau ada ahli pendidikan, itu pasti paket lengkap ngelotok semuanya: mind-brain-pedagogy. Ternyata nggak gitu.

Orang cenderung punya spesialisasi masing-masing. Ada yang berat di psikologi, ada yang berat di pedagogi.
Ada juga ahli neurosains yang nampak paling jauh jaraknya dari pedagogi. Ternyata nggak gampang menerjemahkan hasil riset tentang otak ke dalam praktik ruang kelas. Bahkan di negara yang budaya riset di bidang pendidikan sudah matang seperti negeri kutub ini.

Mbaknya banyak menekankan soal besarnya pengaruh genetik pada self-directedness. Soal kaitan self-directedness dengan kematangan prefrontal cortex yang baru terjadi di usia dewasa muda. Soal anak-anak yang masuk risk-group yang akan keteteran bila harus menjalani self-directed learning. Intinya bahwa mayoritas anak tidak akan cocok dengan pendekatan self-directed learning.

Tapi ternyata yang dimaksud self-directed learning oleh Mbaknya berbeda dengan yang sejauh ini dipraktekan guru-guru di ruang kelas. Self-directed learning dalam konteks adult education tidak sama dengan self-directed learning dalam pendidikan dasar yang dijalankan selama ini.

Ada ahli pedagogi yang berkomentar, kalau konsep self-directed learning pada pendidikan orang dewasa diterapkan di pendidikan dasar, itu mah namanya pengabaian.

Pak Penguji melanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, kalau merujuk pada detail laporan Mbaknya, lebih dari 50% anak-anak di negeri kutub ini dikategorikan masuk risk-group yang akan keteteran bila mendapatkan pendekatan self-directed learning.

Tapi lagi-lagi, seblak, cuanki, batagor, yang mana nih yang dimaksud?

Kita yang membaca riset Mbaknya memang perlu berhati-hati menyimpulkan. Apalagi dengan ulasan media yang cenderung bombastis. Bilang bahwa self-directed learning berkorelasi dengan turunnya skor PISA = self-directed learning tidak efektif.

Ternyata, memang tak sesederhana itu duduk perkaranya.

(6)

(Helsinki, 16 November 2020)

Benarkah penggunaan teknologi digital di sekolah berefek negatif pada pembelajaran?

Poin yang ini yang mungkin paling menarik. Terasa relevan karena kebanyakan kita sedang bergumul dengan keruwetan PJJ.

Tapi sebenarnya disertasi Mbaknya sama sekali tidak menyentuh soal penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran jarah jauh dari rumah, seperti masa pandemi ini.

Lebih ke penggunaan media digital untuk pembelajaran di sekolah. Dulu jauh sebelum masa pandemi. Timeframe riset dia kan memang data PISA 2012 & 2015.

Poin ini juga mendapat kritikan dari Pak Penguji. Soal metodologi pengukurannya.

Untuk mengidentifikasi penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran di sekolah, Mbaknya menggunakan data kuesioner siswa dalam tes PISA 2012 & 2015. Di situ ada pertanyaan yang berkaitan dengan teknologi digital, dimana siswa diminta memberi skala jawaban, dari tidak pernah sampai sering banget.

Lalu dari jawaban siswa itu Mbaknya bikin semacam indeks. Sebut saja indeks digital. Yang dianggap mencerminkan seberapa besarnya paparan teknologi digital yang dialami anak selama pembelajaran di sekolah.

Indeks ini yang nanti dia hubungkan dengan raihan skor tes PISA anak: Literasi, matematika, sains & problem-solving.

Menurut pengukuran dia, ada korelasi antara tingginya “indeks digital” dengan rendahnya skor PISA.

Media pun kemudian dengan sensasional bikin tajuk: “Maraknya penggunaan teknologi digital di sekolah bikin turun skor PISA negeri kutub ini, bikin turun raihan pembelajaran anak-anak.”

Yang dikritisi penguji adalah soal si indeks digital ini.

Kuesioner PISA itu dianggap tak memadai. Karena menurut para ahli yang akrab dengan praktik di ruang kelas, tidak adil mencerminkan soal bagaimana sajakah teknologi digital digunakan selama ini di sekolah.

Yang dimaksud penggunaan teknologi digital itu kan luas.

Dari pemakaian komputer sekolah buat buka email, pakai HP pribadi buat buka Instagram, chatting WA sama teman, hal-hal nirfaedah yang bikin distraksi di kelas.

Sampai yang memang faedah seperti penggunaan tablet untuk game edukatif, komputer untuk simulasi/pemodelan masalah dsb.

Tablet dengan gamifikasi pembelajaran memang digunakan di ruang kelas anak SD di sini. Misal untuk literasi ada game legendaris yang namanya Ekapeli. Riset soal Ekapeli sendiri merupakan bagian studi longitudinal anak disleksia di sini yang sudah puluhan tahun berjalan. Riset tersebut menyimpulkan Ekapeli efektif membantu anak sini belajar literasi.

Indeks yang dipakai Mbaknya ini nggak membedakan mana paparan teknologi digital faedah macam Ekapeli, dengan mana yang jelas-jelas nirfaedah seperti malah bikin instastory.

Dari studi literatur yang disajikan Mbaknya sendiri: 45 studi internasional peer reviewed yang doi telaah, tidaklah konklusif soal efek penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran.

14 studi saja yang jelas bilang efeknya negatif. Misal, penggunaan laptop untuk mencatat tidak bagus, lebih baik mencatat tulisan tangan. Mengeluarkan HP saat belajar di dalam kelas nggak bagus, bikin distraksi.

Malah kalau soal penggunaan gamifikasi digital di sekolah, salah satu studi yang ditelaah bilang efektif membantu pembelajaran. Meningkatkan engagement & atensi siswa.

Makanya Mbaknya pun sebenarnya “modest” pas bikin kesimpulan di akhir.

“Kita harus hati-hati untuk tidak menjadikan teknologi digital sebagai tujuan. Ia hanyalah alat untuk mencapai tujuan.”

Mbaknya yang sebenarnya ahli psikologi & neurosains ini khawatir dengan pengaruh negatif “digital drugs” ini pada kesehatan mental anak-anak. Apalagi buat mereka yang masuk kategori grup beresiko. Seperti anak-anak dengan kebutuhan khusus & dari strata sosial ekonomi bawah.

Tapi yaitu. Menurut penguji, pengukuran doi tadi nggak bisa dipakai menyimpulkan secara sapu jagat tentang pengaruh penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Perlu riset lebih jauh. Media saja yang menyimpulkan terlalu serampangan.

Bagaimana soal PJJ di sini?

Ada riset lain dari Uni Helsinki yang baru terbit membahas soal itu. Walau memang PJJ anak sekolah dasar kemarin singkat, cuma dari Maret sampai akhir Mei saja.

Di lain waktu mungkin kita gosipkan lebih lanjut. Ghibahin riset orang, semoga masuk golongan ghibah hasanah ya 🤭