The WEIRDest People in the World

(Helsinki, September 2020)

Literasi (dalam artian sempit, baca-tulis) ternyata mengubah struktur otak. Baca tulis itu sebenarnya bukan proses yang “natural.” Mengingat dia baru mulai muncul sekitar 5000 tahun yang lalu. Pendek dalam ukuran sejarah evolusi manusia. Tapi efeknya:

  • Bagian otak yang berada di antara area pemroses bahasa, objek dan pengenal wajah; ventral occipito-temporal sebelah kiri, menjadi terspesialisasi. Sering disebut sebagai area Letterbox. (Pasien yang mengalami cedera pada bagian ini tiba-tiba menjadi buta huruf tapi tetap bisa mengenali angka & berhitung.)
  • Corpus-callosum menebal, jembatan antara otak sebelah kanan & kiri.
  • Area Broca berubah (bagian dari prefrontal cortex yang terlibat dalam proses produksi bahasa). Juga bagian yang terlibat dalam proses neurologis lain, seperti berpikir mengenai apa yang ada dalam pikiran orang lain.
  • Proses mengenal wajah jadi bergeser cenderung dilakukan di area otak sebelah kanan (manusia pada dasarnya melakukan itu dengan melibatkan area kanan & kiri secara seimbang).
  • Kemampuan mengenali wajah berkurang.
  • Pada dasarnya otak manusia itu senang berpikir secara visual-holistik, tapi jadi bergeser lebih analitik. Masyarakat dengan angka literasi tinggi cenderung memecah objek jadi bagian-bagian kecil untuk memahami sesuatu, ketimbang lewat mengenali pola/hubungan.

Produk budaya seperti literasi ternyata punya kemampuan untuk mempengaruhi manusia sampai ke level anatomi-biologi (Henrich, 2020). Juga mempengaruhi aneka aspek psikologi seperti persepsi, motivasi, kepribadian dan emosi. (Ini yang dipercayai oleh mereka yang mempelajari evolusi budaya, contohnya antropolog Pak Jo Henrich ini.)

Oleh karenanya, ketika bicara soal literasi, haruslah dilihat sebagai satu paket budaya yang melingkupi aneka praktik, kepercayaan, nilai dan institusi. Termasuk bagaimana suatu masyarakat mengorganisasikan institusi pendidikan formal bernama sekolah, di mana literasi menjadi fondasinya.

Yang jadi masalah, ketika hampir semua penelitian mengenai sains kognitif dan pembelajaran literasi ini dilakukan di konteks negara-negara barat. Responden penelitian tentu datang sepaket dengan nilai, praktik dan kepercayaan dari budaya tempat mereka tumbuh.

Sebegitu dahsyatnya pengaruh literasi, sampai mempengaruhi struktur otak. Mengapa kita bisa begitu saja menggampangkan bahwa hasil riset terhadap responden di barat tersebut berlaku sama untuk populasi negara kita, yang jelas punya konteks budaya berbeda?

Bagaimana pengaruh literasi buat mereka yang menggunakan aksara Arab yang hurufnya bergerak dari kanan ke kiri? Bagaimana dengan mereka yang menggunakan aksara Cina & Jepang yang basisnya gambar? Apakah efeknya pada otak sama dengan mereka yang menggunakan aksara latin?

Bagimana pula dengan kita orang Indonesia? Yang bahasa organiknya ada ratusan bahasa daerah dengan aksara masing-masing. Kemudian diseragamkan dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia yang mengadopsi aksara latin. Bahasa relatif muda yang awalnya diramu di dapur para teknokrat, bukan dapur ibu-ibu kita. Yang sampai detik ini pun masih terus ada kosa kata baru, yang hanya Uda Ivan Lanin yang tahu.

Bagaimanakah pengaruh literasi jenis ini pada otak kita manusia-manusia Indonesia? Anak-anak Indonesia yang harus belajar baca tulis melalui bahasa Indonesia padahal sehari-hari di rumah pakai bahasa Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, Minang, Aceh, dsb? Mengapa riset di bidang sains kognitif tidak menjelaskan itu, ya?

Ini semua adalah lintasan pertanyaan yang muncul setelah membaca bab pertama dari bukunya Pak Jo Henrich, The WEIRDest People in the World. Ia membuka bukunya dengan bahasan menggelitik mengenai literasi. Menjadi dasar untuk bab-bab selanjutnya yang mengkritisi peradaban modern yang terlampau “Western-centric.”

Buku yang menarik. Sila meluncur jika tertarik. https://a.co/4GFmNPi