(Helsinki, September 2020)
Bagian selanjutnya dari Kitab al ‘Ilm (The Book of Knowledge), versi untuk anak-anak.
Pertanyaannya:
“What makes us human?”
Apa yang membuat manusia lebih baik dari makhluk lain, misalnya hewan?


Hal utama yang membuat saya jatuh hati dengan cara Imam Al-Ghazali mengajarkan Islam. Alur narasinya yang sangat logis, manusiawi, dan mengena di hati. Mengikuti fitrah manusia yang diciptakan memiliki aql & qalb. Tidak mempertentangkan keduanya.
Mengapa keseluruhan Ihya Ulumuddin dibuka Al Ghazali dengan Kitab al ‘Ilm, baru dilanjutkan dengan kitab-kitab selanjutnya? Hal tersebut menggelitik sanubari.
Sayang tidak lagi bertetangga dengan Ustadz @iamhasrizal. Dulu bisa langsung bertanya pada yang berilmu. Tapi ada manfaatnya juga teknologi. Beliau memberi tautan rekaman ceramahnya. Tentang hikmah ayat pertama. “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Ternyata itu jawabannya. Sesuai perintah pertama, “Iqra!” Karena kemampuan berkesadaran untuk mencari tahu, itulah yang membuat kita manusia. “Knowledge makes us human.”
Takjub. Karena itu pula yang diajarkan di sains pembelajaran ala barat. Kognisi manusia berbeda dari hewan karena dia punya kesadaran untuk mengenali bahwa dirinya dan orang lain di sekitarnya adalah “intentional agents.” Sehingga manusia secara kolektif mampu mengkonstruksi pengetahuan, lewat bahasa, simbol, teknologi.
Jawaban Ustadz Hasrizal tersebut sejalan dengan penafsiran Al Ghazali. Kemampuan untuk berproses mencari yang namanya “knowledge” yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Baik pengetahuan tentang dirinya, tentang Tuhan yang mencipta, dan tentang alam sekitarnya.
Dan mengenali diri, mencari tahu mengapa kita diciptakan sebagai manusia, adalah langkah pertama mendekat kepada-Nya.
Seri Ghazali Children ini memberi panduan bagi orang tua untuk mengenalkan itu pada anak.
Dimulai dengan dongeng bersama tokoh utama Haji Abdullah tentang perbedaan manusia dan hewan.
Dilanjutkan dengan buku aktivitas, memberi contoh pertanyaan yang bisa memantik dialog dengan anak.


Dan terakhir, terjemahan Ihya sebagai bacaan buat orang tuanya.


Kali ini si Lego jadi alat bantu untuk sesi dongeng dan diskusi dengan anak. Walau bicara soal hal abstrak, tentu anak tetap butuh stimulus taktil dan visual.

Lebih lanjut mengenai Ghazali Children’s Project asuhan Syaikh Hamza Yusuf, bisa dilihat di tautan berikut:
