(Helsinki, September 2020)
Beberapa teman menjapri, menanyakan. “Tidakkah kita harus berhati-hati dengan Ihya?” Ini teman-teman terdekat. Kami biasa bicara apa saja. Tanpa perlu sungkan.
Saya paham ada sensitivitas tertentu soal Ihya di Indonesia. Tapi takperlu dibahas di sini. Bukan kapasitasnya 😁
Hampir satu dekade terakhir ini kehidupan membawa kami bolak-balik antara merantau dan pulang kampung ke Indonesia. Satu hal yang takterhindarkan, tensi antara Barat dan Timur itu terasa nyata.
Saya tahu, di dalam Islam, antara “reason” (akal, logika) dan “tradition” (tradisi keilmuan Islam yang berdasar pada Quran & Sunnah) seharusnya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Tapi kenyataannya, pergulatan itu memang ada. Hal yang menyebabkan semacam disonansi. Menjadi konflik batin tersendiri.
Mungkin itu mengapa, obatnya seperti disajikan oleh ulama yang menggunakan pendekatan Islam washatiyah. Yang tengah-tengah. Yang seimbang.
Juga ulama yang punya latar belakang dua tradisi. Pengetahuan mengenai tradisi keilmuan Barat. Tapi tentunya punya akar keilmuan Islam klasik yang kuat. Yang personifikasinya mampu mematahkan mitos Huntington soal benturan peradaban.
Hal itu bisa kita temukan pada sosok Syeikh Hamza Yusuf. Mutiara hikmah dalam keadaman kelimuan beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenal Islam. Sudah sejak lama kami menjadikan beliau salah satu ulama panutan.
Ceramah-ceramah beliaulah yang menjadi jalan mengapa kami tertarik membaca translasi kitab Ihya. Kami pun bahagia sekali ketika menemukan seri Ghazali Children asuhan beliau ini. Terlebih dilengkapi struktur kurikulum yang jelas, sebagai panduan bagi orang tua.
Kami baru saja pindah mukim. Kali ini di sebuah pulau kecil di selatan Helsinki. Di sekolah yang sekarang, murid yang muslim hanya mereka berdua. Walau pemerintah Finlandia menjamin hak tiap anak mendapat pelajaran agama sesuai agamanya, tentu ada persoalan logistik. Pelajaran agama Islam adanya di sekolah pulau sebelah. Akhirnya mereka ikut pelajaran etika.
Di Helsinki, madrasah tentu ada. Baik TPA komunitas Indonesia, atau komunitas Muslim dari negara lain. Tapi dengan situasi pandemi ini, kami memang membatasi interaksi. Alhasil kebutuhan untuk panduan mengajarkan agama Islam di rumah jadi semakin mendesak.
Saya sadar, ini hanya tinggal tunggu waktu saja. Anak-anak ini akan bertanya.
Mengapa sifat Rasulullah, siddiq, amanah, fathonah, justru lebih banyak mereka temukan di Swedia & Finlandia bukan Indonesia yang negara mayoritas Muslim?
Mengapa di Brunei dulu, di perbatasan pertemuan bangsa serumpun, Brunei-Malaysia-Indonesia, kita sesama muslim yang bersaudara, tapi mengalami perlakuan berbeda, tergantung warna paspornya?
Tentu kita semua sepakat, yang menjadi masalah bukan pada Islamnya yang sudah sempurna. Tapi pada bagaimana kita Muslim memahami Islam dan menjalankannya.
Mengapa esensi beragama tak terinternalisasi dalam diri dan akhlak sehari-hari? Tentu ini membawa kepada pertanyaan bagaimana agama Islam diajarkan.
Saya yakin, setiap kita bapak-ibu muda, sedang dalam perjalanan mencari cara yang terbaik untuk menjadikan anak-anak muslim yang ihsan.
Ghazali Children ini bagian dari perjalanan kami. Mungkin cocok untuk kondisi spesifik keluarga kami. Syukur kalau ada yang sama-sama menemukan hikmah dari seri ini. Sementara keluarga lain, bisa jadi kurang sreg.
Tak apa, berbeda itu niscaya. Indah dan bisa jadi berkah. Asalkan jadi wahana untuk diskusi dan saling menasihati. Bukan mencaci :).
Dan alhamdulillah, teman-teman di sekitar kami, semuanya baik-baik. Watawa saubil haq, watawa saubil sabr.❤️
Sumber:
Buku dari ghazalichildren.org
Syeikh Hamza soal Imam Al Ghazali:
https://youtu.be/PoRRoqVXeGw
Dari UAH tentang Imam Al Ghazali:
https://youtu.be/TrkFYy0JW00
Dari UAS tentang Imam Al Ghazali
https://youtu.be/63ET_4dxeNM







