Anak lupa bahasa ibu, adakah harga yang harus dibayar?

(Oulu, Oktober 2019)

Ada pengalaman unik yang dimiliki Finlandia. Ketika perang dunia II, hampir 50 ribu anak kecil asal Finlandia dievakuasi sementara ke Swedia. Alasannya keselamatan dan kesehatan. Saat itu Finlandia masih negara paling miskin, gelap, lapar & dingin di area Nordik ini. Situasi zaman perang, terlebih ia berbatas langsung dengan Rusia, memperkeruh suasana.

Mayoritas anak yang dievakuasi berusia sekitar balita. Di Swedia, mereka ditampung oleh keluarga angkat. Tentu sebuah dilema memisahkan anak kecil dari ibu bapaknya demi alasan keamanan sekalipun. Pasti ada trauma. Namun juga ada pertimbangan, bahwa itu mungkin yang terbaik buat keselamatan, gizi & kesehatan mereka. Serba salah dan tidak bisa dipastikan apakah manfaat evakuasi ini sebanding dengan trauma yang harus dibayar.

Sebagian besar anak-anak itu berbahasa ibu bahasa Suomi. Ada juga yang berbahasa ibu bahasa Swedia karena memang Finlandia dahulu sekali adalah koloni Swedia, sehingga ada beberapa area yang didominasi pemapar bahasa Swedia.

Masa evakuasi sementara ini rata-rata berlangsung selama dua tahun. Sehabis itu anak-anak dikembalikan ke keluarga masing-masing karena keadaan sudah membaik.

Puluhan tahun kemudian, ketika mereka sudah dewasa, ada riset yang meneliti apa sih efek evakuasi sementara ini pada anak-anak tersebut. Apakah benar ada manfaatnya, apakah anak-anak itu trauma, gimana efeknya pada pencapaian pendidikan, juga status sosial ekonomi anak-anak tersebut.

Dari cerita mereka,disimpulkan bahwa ketika kembali ke rumah, 80% anak berbahasa asli Suomi yang dievakuasi itu lupa dengan bahasa ibunya. Jadi mereka untuk kedua kalinya harus mengalami gegar bahasa. Pertama ketika beradaptasi dengan bahasa Swedia. Kedua saat belajar ulang bahasa ibu yang terlupa. Apalagi saat kembali mereka sudah masuk usia sekolah.

Uniknya, banyak yang menggambarkan gegar bahasa kedua ini lebih traumatis ketimbang yang pertama. Mungkin ada faktor usia, dulunya mereka masih balita jadi lebih mudah beradaptasi soal bahasa.

Waktu masa evakuasi, karena alasan supaya anak cepat beradaptasi dengan lingkungan Swedia, anak berbahasa ibu Suomi ya cepat-cepat di-“Swedia” – kan. Tidak ada support memadai untuk memfasilitasi bahasa ibu mereka, bahasa Suomi.

Sementara itu, anak-anak yang dievakuasi dan berbahasa ibu Swedia tidak mengalami gegar bahasa seperti ini. Ketika kembali ke Finlandia pun mereka masuk lagi ke komunitas pemapar bahasa Swedia. Transisi pindah sekolah dsb lebih lancar buat mereka. (Swedia juga merupakan bahasa resmi nasional di Finlandia. Apa-apa di sini ditulis bilingual, Suomi & Svenska.)

Bagaimana dengan soal pencapaian pendidikan & status sosial ekonomi dari anak-anak eks evakuasi ini?

Riset tersebut membandingkan mereka yang bahasa ibunya bahasa Suomi vs yang bahasa ibunya bahasa Swedia. Semuanya juga dibandingkan dengan anak-anak non-evakuasi supaya dapat gambaran adil, apakah ada manfaatnya si proses evakuasi dulu itu.

Ternyata temuannya sangat menarik!

Pada anak-anak eks evakuasi yang berbahasa ibu bahasa Swedia, yang tidak perlu mengalami trauma gegar bahasa yang tak terfasilitasi, rata-rata memiliki capaian pendidikan yang lebih baik dibanding anak eks evakuasi penutur asli bahasa Suomi. Pencapaian mereka ini pun lebih baik bahkan ketika dibandingkan anak-anak non-evakuasi. Dan konsekuensinya, mereka mencapai status sosial ekonomi yang lebih baik pula.

Pada anak-anak eks evakuasi penutur asli Suomi, pencapaiannya lebih rendah dari sesama anak eks evakuasi yang penutur Swedia. Selain itu, bahkan lebih rendah bila dibanding anak-anak penutur Suomi yang tidak mengalami evakuasi.

Sehingga dapat disimpulkan: manfaat evakuasi yang positif, melebihi harga trauma yang harus dibayar, hanya terjadi pada anak berbahasa ibu bahasa Swedia. Buat anak-anak berbahasa ibu Suomi, ternyata evakuasi dulu itu lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya.

Apa implikasi dari penelitian ini? Rekomendasi kebijakan. Bahwa pada anak-anak pendatang (pun yang cuma bermigrasi sementara, tidak bermaksud tinggal permanen), berhak menerima support bahasa ibu! Negara Nordik cenderung peduli hak anak. Tercatat resmi soal hak menerima dukungan pelestarian bahasa ibu, walau kendala di lapangan mengakibatkan beragamnya level implementasi.

Riset ini melengkapi aneka riset lain soal pentingnya merawat bahasa ibu. Dari mulai yang fokus bahas hubungan bahasa ibu dengan kerja otak, aspek kognitif, dsb. Yang fokus pada perspektif, budaya, keterikatan emosi dkk.

Yang ini menarik karena memberi bukti implikasi sosial ekonomi juga, kentara di angka. Jadi kalau pertanyaan di judul tulisan ini tadi. Anak lupa bahasa ibu, adakah harga yang harus dibayar? Ya ternyata ada harganya.