(Stockholm, Juli 2019)

Manusia sudah berhasil pergi ke luar angkasa dengan mengalahkan gravitasi. Tapi sampai saat ini belum bisa mengalahkan yang namanya EGO.
Kiranya begitu kesimpulan buku ini. Bahwa persoalan tantangan masa depan itu bukan persoalan teknologi.
Tapi yang dibutuhkan itu inovasi sosial, changing the rules of the game (yang data bicara: banyak ngawurnya, bahkan self-destructing, toxic buat dirinya sendiri).
Dan di situ manusia butuh menghadapi egonya. Terutama mereka yang memegang ‘kunci’, harus berpikir ulang soal privilese, harus bisa empati & peduli.
Pesan Bu Ellen, tidak cukup kalau cuma membekali anak dengan STEM, ngajarin anak coding dan semacamnya.
“While education and expertise are always good things, we should pull back from our too-tight focus on ‘skills above all.’ It’s not enough to train people to try to stay one step ahead of the machines.”
Kalo soal skill teknis, cuma bakal ngos-ngosan kejar-kejaran dengan mesin. Rasanya itu benar. Sependek mengamati orang-orang di pusat teknologinya negeri utara. Mereka yang sudah duluan kena damprat disrupsi dengan jatuhnya pamor Nka & Eiso, hehe…
Anak perlu paham konteks luasnya. “The game” itself. Jangan melupakan sejarah, ekonomi, politik.
Di situ kemampuan yang sifatnya meta semacam berpikir kritis, reflektif, empati, resiliensi, dsb pun jadi kunci.
Lalu praktisnya, apa yang bisa diperbuat orang tua?
Bu Ellen bilang pentingnya konsep pendidikan “liberal arts” yang mulai terlupakan akibat kita terlalu fokus pada STEM tok.
Ilmu itu perlu multidisipliner, nggak terpisah-pisah dalam silo. Anak perlu tahu juga caranya berpikir mendalam bak filosof, nggak melulu praktikal dan teknokratik.
Di level kebijakan negara, Bu Ellen menyoroti Finlandia. (Yang pastinya beda konteks kalau sama Indonesia. Kita mungkin butuh strategi yang berbeda. Tapi ya, pasti ada yang bisa dipelajari.)
“Finland is less focused on predicting and preparing individuals for particular jobs, than on helping citizens acquire the knowledge, tools, and resources to chart their own course in a fickle and unpredictable world economy.
It’s important to stop thinking industry by industry—biotech, nanotech, IT,. If you can digitize work, which we can, it can go anywhere. So there’s no point in a country trying to specialize in any one industry.
We think it’s more effective to encourage people to become generalists with the capability and internal resources to invent work for themselves, and the work of the future.”
Sekian tentang buku Bu Ellen. Sekali lagi, ide-idenya sangat menyegarkan! Layak dibaca!
