Ellen Ruppel Shell

(Stockholm, Juli 2019)
Kenapa ya dongeng soal teknologi yang makin canggih, siapa yang nggak bisa terus belajar bakal kelibas, nggak bakal bisa bertahan, ala-ala para Prof Kasali itu, lama-lama kulelah sungguh dengarnya.
Soalnya seringkali berhenti di situ. Di bagian jadi tanggung jawab pribadi masing-masing buat belajar terus dan mencipta ulang diri. Fokusnya ke tanggung jawab individual.
Ujungnya pun kompetisi, guguk mangano guguk. Ada individu yang selamat, ada yang kegulung ombak. “Ya salah lu sob, kalau nggak bisa mengejar perubahan zaman!” Pesannya begitu.
Saya merasa ada yang nggak klik dengan narasi itu. Berdasar pengalaman pribadi tapi (orang lain mungkin beda pengalamannya). Pengalaman yang sampai bikin aik nekat kembali ke sekolah, soalnya penasaran sama misteri dunia pendidikan.
Seperti waktu cerita soal kontrakan #13. Dalam 10 tahun terakhir ini menyaksikan sendiri. Gimana kerjaan suami itu ‘habis’ sama yang namanya perubahan teknologi.
Padahal dalam pikiran orang awam macam gw, kirain bakal aman-aman sepanjang masa. Wong judulnya kerjaan IP. Kata mbah Google, IP artinya “Internet Protocol”. Bukannya selama orang sedunia pakai internet dia bakal aman nyantai donk?
Ternyata ya nggak gitu juga. Namanya perangkat IP itu cepet bgt udah berubah gara-gara teknologi yang makin canggih. Otomasi apalah. Entah ku takpaham.
Pokoknya selain semakin butuh sedikit orang, juga butuh skill set baru juga untuk mengoperasikannya. Skill set yang dulu mah nggak wajib dimiliki network engineer, tapi lebih spesifik ke para software developer dan semacamnya.
Transformasi digital itu ternyata yang namanya kerja di bidang ICT, lebur sudah batas antara teknologi informasi dan komunikasi. Walau orang Telco, ya kamu wajib jago programming.
Nggak tahu deh makin canggih besok. Mungkin itu perangkat bakal jalan sendiri semua. Cuma butuh 1 enjinir buat nyolokin kabel listrik ke stop kontak doank.
Akhirnya, setahun kemarin itu, dia pun ikutan kelas di Oulu. Program re-edukasinya pemerintah kota. Belajar yang namanya Python, Java, embuh ojo takon.
Nah kalau dia aja yang di bidang teknologi, ngurusin internet pulak, mengakui bahwa berat itu yang namanya ‘reinventing yourself’. Sampai sekarang aja masih ngos-ngosan belajarnya dia. Padahal nyebrangnya cuma ke tetangga sebelah doank. Gimana dengan kita yang harus jauh lompatnya?
Glorifikasi skill coding ini, apa ini nggak bakal makin parah kesenjangan? Bikin ada segelintir kaum manusia yang berjaya, sementara mayoritas kita yang tahunya Python adalah sejenis ular ganas bakal jadi buih-buih di lautan?
Apalagi buat yang seumur kita gini. Namanya orang udah punya tanggung jawab keluarga itu kan banyak yang harus diurus sehari-hari. Dapur harus tetap ngebul. Anak-anak butuh perhatian. Banyak banget yang harus dipikir.
Dia masih beruntung dibantu Nordic safety net. Ikutan segala training bisa gratis. Anak bisa dititip di daycare gratis. Sekolah anak gratis. Kesehatan anak gratis.
Di situ saya baru ngeh, betapa hanya menekankan pada tanggung jawab pribadi individu untuk terus belajar mencipta ulang diri itu mengabaikan gambaran besar keseluruhannya.
Kita jadi lupa fokus ke bahasan selanjutnya. Soal di mana tanggung jawab negara? Tanggung jawab dunia korporasi? Tanggung jawab bersama masyarakat?
Orang yang mau mencipta diri ulang itu kan sehari-hari keluarganya tetap butuh makan, rutinitas kehidupan harus berjalan, kan?
Bapak-bapak, ibu-ibu 40an tahun di Oulu, belajar dari nol jadi software developer. Tetap bisa hidup aman karena ada jaring pengaman sosial yang bagus di negaranya.
Dengan iklim keadilan sosial macam begitu, korporasi di sini pun menyediakan skema yang namanya study leave. Tetap menerima tunjangan hidup kalau misal pingin sekolah lagi, belajar bidang baru.
Macam kenalan di kampus mahasiswa doktoral di EdGlo, yang mana sebenarnya karyawan Nka. Tapi kepingin mereka ulang diri jadi praktisi pendidikan. Entah sudah berapa tahun dia study leave. Anak sulungnya aja udah kuliah. Dan nggak, nggak pakai ikatan dinas yaa.. Karena yang bayar tunjangan kan duit welfare. Korporasi ya bayar pajak aja ke negara.
Lha kalau kita di Indonesia?? Korban PHK masal misal, mau belajar ulang jadi programmer. Pagi sore harus banting-bantingan ngeGojek ngeGrab. Menembus kemacetan. Malamnya harus belajar di Udemy sampai subuh (itu juga ingat ya, kudu keluar duit ya beli paketnya). Anak, duh untung ada mertua. Kapan tidurnya? Kapan istirahatnya? Manusia apa quda?
Kita pun pasrah menerima itu sebagai takdir. Tanpa sadar narasi nafsi-nafsi tadi bikin kita menyalahkan diri sendiri kalau tidak bisa mengikuti zaman. Kita lupa bahwa ada persoalan sistemik yang mendasar:
“Technology made these changes possible, but politics is what makes them happen.”
Teknologi itu bukan kekuatan tak terhindarkan yang nggak bisa diapa-apain mau tidak mau menentukan nasib kita semua. Kebijakan soal itulah yang menentukan.
Buku Bu Ellen ini perspektifnya berangkat dari situ. Menurut saya ini sangat menyegarkan.
Ada satu bab besar bahas soal dunia pendidikan. Bagian favorit saya.
Menarik banget di situ, dengan bahasa populer mematahkan mitos soal nilai ekonomi dari pendidikan, ala-ala quote terkenal dari Ha Joon Chang itulah, “Education is valuable, but its main value is not in raising productivity. It lies in its ability to help us develop our potentials and live a more fulfilling and independent life…”
Dia juga menyajikan data yang mematahkan argumen korporasi yang seringkali mengeluh bahwa lulusan sistem pendidikan itu tidak memiliki skill yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Mitos soal skill-gaps. Konteksnya memang Amerika, nggak tahu kalau negara lain. Tapi kan kita suka berkiblat ke Amerika, ya mungkin relevan juga dibaca.
Ada bab yang bahas Finlandia. Bagaimana perspektif mereka menghadapi tantangan masa depan soal lapangan kerja dan kaitannya dengan dunia pendidikan.
Ada bab yang bahas koperasi pekerja ala Mondragon. Ada soal polemik Basic Income, redistribusi dan sejenisnya.
Menyegarkan. Patut dibaca oleh ibu-ibu sekalian yang tertarik soal pendidikan anak dan tantangan dunia kerja di masa depan.
