(Stockholm, Juli 2019)
Pendidikan bernuansa kolaborasi macam Finlandia itu nggak cocok buat Indonesia! Penduduknya berapa? Keragaman etnisnya? Terlalu beda!
Tapi ini mari bandingkan dengan Swedia. Yang profilnya mirip banget sama Finlandia.
Swedia sejak era 90an itu bereksperimen dengan kebijakan pendidikan yang lebih neoliberal, lebih pro pasar, bernuansa kompetisi dan semacamnya. (Walau tetap, masih ada citarasa Nordic-nya.)
Dia nengikuti tren Global Education Reform Movement (GERM). Alasannya untuk efisiensi, kepingin output pendidikan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi, juga bersaing di ranah global.
Sedangkan Finlandia, secara umum berusaha keras untuk tidak terkena wabah GERM. Alasannya: komitmen politis dan ideologis soal pendidikan.
Dua negara bertetangga yang mirip banget karakteristiknya ini ternyata bisa milih arah kebijakan yang berlawanan.
Jadi bertanya…Berarti, tidak semua aspek kebijakan itu bergantung skala (jumlah penduduk) donk ya? Banyak yang iya, tapi mustinya ada juga yang tidak? Lebih pada pilihan politis…
================================
Melanjutkan tulisan soal wabah GERM tempo hari. Perihal adanya fenomena bebas memilih sekolah di Swedia.
Adanya sekolah swasta (gratis) ini, yang awalnya diniatkan untuk saling melengkapi dengan sekolah negeri, malah tercipta kompetisi sengit. Sekolah negeri maupun sekolah swasta harus sama-sama berjibaku memasarkan diri untuk berebut murid.
Bebas memilih sekolah ini, ternyata anak-anak pintar jadi berkumpul di sekolah tertentu, dan itu isinya cenderung warga lokal.
Ada fenomena “native flight”, orang lokal memindahkan anaknya dari sekolah yang mulai banyak anak imigrannya. Alasannya, kualitas sekolah seringkali menurun kalau banyak anak pendatang.
Misal anak imigran yang pintar, kenapa nggak dipindahkan aja ke sekolah yang lebih unggulan? Toh gratis kalaupun mau ke sekolah swasta?
Nah para imigran ini, terutama yang dari kelas sosial pekerja kerah biru, cenderung milih nggak pindah. Biasanya karena sudah nyaman dengan lingkungan rumah situ yang banyak pendatang juga. Takut harus adaptasi lagi, misal dibully, kalau sekolah di tempat yang jarang anak pendatangnya.
Jadilah sekolah makin tersegregasi. Baik secara etnis, sosial ekonomi, maupun soal kualitas.
Akibat lain iklim kompetisi. Sekolah pun jadi berlomba menghasilkan nilai yang tinggi sebagai parameter keberhasilan. Terjadilah inflasi nilai. Katanya guru-guru jadi royal kasih nilai karena nggak mau pamor sekolahnya jelek.
Lama-lama mengejar nilai jadi lebih penting dari pembelajaran itu sendiri. Memarjinalkan aspek kurikulum yang tidak bisa diukur angka.
Beriringan dengan tren school choice ini, juga berpengaruh pada adanya pendekatan “individualisasi” dalam praktek pengajaran.
Anak diberi kebebasan mau belajar silabus mana, bagaimana metodenya, targetnya dsb. Penekanannya, bahwa belajar itu ya tanggung jawab pribadi. Loh, bagus donk ya? Bukannya memang harusnya begitu?
Iya bagus. Tapi ternyata ada dampak negatifnya juga. Model begitu cenderung menguntungkan anak-anak yang pintar, motivasi tinggi, yang kebanyakan berasal dari keluarga berada. Anak-anak imigran dan dari keluarga kurang mampu, diminta bikin target belajar sendiri, malah ‘hilang arah’.
Dan seringkali guru juga jadi menetapkan target yang rendah terhadap mereka. Bias ekspektasi. Ujungnya, ya memang rendah betulan.
Kebebasan mengatur pembelajaran secara individual itu ternyata malah memperkuat efek faktor ekonomi dan pendidikan orang tua pada mobilitas sosial anak di masa depan.
Iya, bahkan buat guru-guru selevel guru di Swedia, mengusahakan pendekatan pengajaran individual yang minim bias itu nggak mudah.
Penelitian terbaru pun menenunjukkan. Ironisnya, di sekolah yang cenderung kurikulumnya “individualized” ini, pendekatan pedagogi semacam learning by doing, problem solving, maupun kerja kelompok untuk memupuk kolaborasi malah jadi lebih jarang diterapkan.
Bagaimana dengan anak-anak pintar yang berkumpul di sekolah bagus tadi, aman donk ya?
Ternyata tidak juga. Adanya ketimpangan kualitas sekolah ini menurunkan kualitas sistem pendidikan Swedia secara keseluruhan. Dan bocah-bocah pintar ini pun sedikit banyak malah jadi ‘ketarik’ kebawah.
Sementara di Finlandia kualitas sekolah cenderung merata. Anak pintar gabung sama anak ‘kurang’ di satu sekolah. Apa yang kita takutkan ternyata tidak terjadi. Mereka yang pintar-pintar itu ternyata tidak ‘ketarik’ kebawah. Output sistem pendidikan Finlandia pun secara keseluruhan lebih baik.
Kesimpulan hasil eksperimen Swedia ini, apa saja?
Meningkatnya ketimpangan antarsekolah, segregasi, bahkan turunnya kualitas sistem pendidikan. Pembelajaran jadi lebih terindividualisasi, kompetitif, dan berorientasi pencapaian. Ruang kreativitas dan inisiatif murid jadi menyempit, begitu juga kolaborasi. Bahkan terjadi deprofesionalisasi guru, tapi itu topik panjang lagi.
Ternyata memang harus hati-hati sekali kalau mau mengadopsi logika pasar dalam dunia pendidikan.
Swedia sekarang lagi bekerja keras mengembalikan kejayaan kualitas sistem pendidikannya. Pro kontra soal privatisasi pendidikan dan school choice ini panas sekali di sini. Macam soal zonasi di kita.
Semoga topik ini tidak terlalu ofensif buat teman-teman Swedia. Hanya menyambungkan bahasan kelas Nordic Education dengan hasil kurilingan sekolah di area Husby sini. Yang konon adalah salah satu kecamatan paling misqueen dan padat imigran di kota ini.
Apapun, Stockholm tetap di hati. My first Nordic crush ever 💕. Sampai jumpa di lain hari, saatnya kukembali ke Oulu nan jauh di ujung sana.

