(Helsinki, 20 April 2021)
Mimpi setiap perempuan mungkin tak sama. Ada perempuan yang salah satu mimpinya adalah melanjutkan pendidikannya.

Ini adalah cerita tentang perempuan-perempuan yang bermimpi menuntut ilmu. Kebetulan saja di sini, lewat jalur persekolahan.
Memang….
Pendidikan tak bisa diartikan sempit, tak terbatas pada sekolah formal semata.
Pencapaian pendidikan formal juga bukan parameter seberapa bijak seseorang. Tak menentukan seberapa baik perilakunya.
Perempuan berdaya tidak mesti mereka yang mengenyam sekolah sampai tinggi.
Tak terhitung jumlahnya, perempuan pejuang yang kontribusinya nyata bagi keluarga, bagi sesama, namun tak mencicip bangku sekolahan.
Mencari ilmu itu wajib sepanjang hayat. Tapi tidak harus dalam bentuk bersekolah.
Namun juga…
Ada yang memang menemukan apa yang dicarinya lewat jalur persekolahan formal.
Pun bidang-bidang tertentu, banyak yang masih perlu struktur pembelajaran kokoh dan iklim akademik kondusif.
Ada seorang perempuan dari Lebanon. Saat ini sedang menempuh studi doktoral mengenai sains pembelajaran. Sembari kuliah, juga harus mengurus ketiga anaknya, dengan kondisi suami harus bekerja jauh di negara lain.
Ada perempuan dari Nigeria, sembari S3 bidang kesehatan publik, juga masih sempat kerja paruh waktu. Demi membantu situasi pekerjaan suaminya, yang terpuruk sejak virus korona.
Seorang perempuan dari Yordania, sudah selesai mengambil master bidang pendidikan. Saat ini sedang melanjutkan sekolah-praktik supaya bisa mendapat sertifikasi mengajar kejuruan di sini. Qadarullah suaminya mengalami cedera yang mempengaruhi fisiknya. Demi keluarga, sang ibu ini bertekad baja untuk segera bekerja.
Ada perempuan muda yang terlahir di Aljazair. Namun bingung menjawab asalnya dari mana karena seumur hidupnya berpindah sebagai diaspora. Ia baru selesai menempuh master di bidang Arsitektur. Diterima bekerja di salah satu divisi dewan kota sebuah kota yang terletak di utara negeri kutub ini. Ia perempuan mandiri, kebetulan memang masih sendiri.
Ada juga perempuan dari Indonesia. Ibu rumah tangga. Sudah tak muda lagi umurnya. Kembali ingin melanjutkan sekolah setelah lebih dari satu dekade tak menyentuh dunia akademia.
Bukan, bukan untuk mengisi “curriculum vitae,” pun bukan persiapan untuk menempuh jalur profesi tertentu.
Tapi semata karena ternyata ia menemukan kebahagian dari upaya mencari ilmu.
Karena proses ini membantunya semakin tersadar akan kecilnya pengetahuan manusia di hadapan semesta Sang Pencipta.
Supaya bisa jadi manusia yang mudah bersyukur akan hal-hal kecil sehari-hari.
Supaya tak tergoda kenyinyiran, suportif atas jalan dan pencapaian perempuan lain.
Supaya jadi perempuan yang lebih baik, ibu yang lebih baik, istri yang lebih baik.
Ini hanya salah satu versi, dari sekian banyak variasi mimpi yang menghiasi jiwa manusia.
Tidak ada yang bilang ini pilihan buat semua. Tidak ada yang bilang ini lebih utama, dari yang mimpinya berbeda.
Yang pasti, setiap perempuan berhak untuk berani memiliki mimpinya sendiri.
Kepada semua perempuan di Indonesia, juga di seluruh dunia, selamat hari Kartini!
Menuju esok. #21April2021.
