Setelah Setahun Kembali ke Kampus

(Budapest, Juni 2019)

Setelah lewat tahun pertama ini, sebenarnya kuingin sih bisa berbagai cerita. Macam di rubrik inspirasi gitu, mendayu-dayu tentang serba-serbi sekolah sambil urus anak dua. Tapi tiap orang pengalamannya memang pasti beda. Kebetulan ini nggak ada yang istimewa, hamdalah simpel aja:

  1. Nordic Daycare memang juara. Tiap Senin-Jumat, 8-5 anak diurus negara, jadi orang tuanya bisa kerja.
  2. Suami lebih sering pegang anak pas malam. Apalagi kalau ada tugas. Jujur kalau seharian penuh kuliah, ya sampe rumah capek. Nggak ada itu nyiapin bahan prakarya. Biar main sama bapaknya aja. #ibuteladan
  3. Babysitter digital. Yah realistis aja, ibu & bapak butuh waktu nggak dirusuhin bocah. Anak suka buku ya wajib, tapi nggak berarti steril dari media digital. Wong emaknya aja demen Netflix, bapaknya suka main game, menurut ngana, anaknya gimana? πŸ˜‚
    *mengamati beberapa sekolah di Oulu, sekolah yang bebas media digital rasanya cuma sekolah Waldorf-Steiner. Sekolah umum malah kebanyakan lagi eksperimen sama EdTech, gamification yang gitu-gitu. Tapi tetap, mereka fokus outdoor play, hobi ke perpustakaan dan cinta buku. Moderasi adalah kunci.
  4. Nitip teman atau tetangga. Sempat emak & bapak ada urusan di luar jam daycare/sekolah. Alhasil ya nitip tetangga. Hamdalah ada tetangga dari nusantara.
  5. When everything fails.. Harus internship keluar Finlandia, bawa anak dua. Daycare di sini nggak buka, suami harus kerja, tetangga nggak ada..maka.. kita impor ibu dari Indonesia. Hamdalah, dapet bonus Gudeg Wijilan dan keripik tempe Qtela.
    πŸ˜‚πŸ˜‚

Harap maklum jika penggalan kisah ini tidak ada heroik-heroiknya. Memang hanya beginilah adanya.. .