(Stockholm, Juli 2019)
Habis nikah itu dulu sempat setahun ngekos di gang Tiong di area Karbela. Tempat sejuta kenangan.
Habis itu pindah ke Serpong Cahaya Asia. Masih untungnya tahun segitu ya, belum segila sekarang harga properti, berdua kerja ngap-ngapan itu kekumpul juga DP. Walau sampai ulang tahun satu dekade pernikahan ini, itu si cicilan kok ndilalahnya belum lunas juga 😂
Kalau menerawang ke satu dekade yang lampau, ada satu hal yang luput, asli tidak terbayangkan sebelumnya. Bahwa tidak lama setelah itu, kita berdua bakal memasuki era di mana kalau bisa punya pekerjaan menetap itu adalah suatu kemewahan.
Dulu tahun 2010 baru pertama kenal smartphone, HP Android. Jaman rame BB ga kebeli soalnya haha. Kata orang-orang-orang ini bakalan revolusioner si telepon pintar ini mengubah perilaku manusia.
Maka saat itu, punya bayangan. Nanti namanya jamannya yang online – online itu, kalau dia kerjanya tukang “narik kabel” internet (network engineer maksudnya wkwk), semua bakalan aman. Di mana-mana kan orang butuh terkoneksi jaringan to? Tenang aja.
Ohhh, tapi ternyata tak sesederhana itu ya Esmeralda. Gak tahunya hanya beberapa tahun setelah itu, kita dihadapi kenyataan bahwa para korporasi besar di bidang ICT itu kena ombak perubahan. Entah apakah namanya. Disrupsi. Transformasi. Embuh.
Sialnya dasar korporasi, kalau sudah begitu ya pekerja aja yang jadi korban. Terbentuklah ini generasi para “precarious workers”. Yang hanya bisa ngap-ngapan ngejar satu kontrak kerja ke kontrak lainnya. Bahkan untuk mereka pekerja kerah putih di sektor teknologi pun.
Karena perusahaan sekarang mah ogah investasi di pekerja permanen. Persaingan kan sengit, demi siklus inovasi yang katanya cuma 18 bulanan itu. Jadi kalau mau potong pengeluaran, paling gampang ya di bagian beban karyawan.
Kadang aku menganggap bahwa dipopulerkannya gaya hidup nomaden, doyan travelling dan bekerja fleksibel adalah sebuah konspirasi. Supaya anak milenial terhibur, merasa bahwa jadi pekerja kontrakan itu memberi lebih banyak kebebasan. Sesuai dengan gaya hidupnya yang anti kemapanan. Padahal, mwihiihihi …
Adik-adik, harap dipikirkan lebih lanjut kalau ikut-ikutan tren gaya hidup masa kini yhaa… Asuransi kesehatan, pendidikan anak, dana pensiun, itu semua perlu. Kecuali tinggal di negara welfare/kesejahteraan umum, maka semua itu harus dipikirkan sendiri.
Ini foto adalah apartemen waktu di Ynglingagatan, Norrmalm Stockholm tahun 2012. Nggak tahunya itu barulah si nomor 3, dari 13 tempat tinggal yang harus dihinggapi hingga satu dekade pernikahan saat ini. Semua gara-gara situasi.

Bisa ada 13, soalnya begini. Sebenarnya masih di satu kota aja misal, tidak ke mana-mana. Tapi demi penghematan harus pindah-pindah kontrakan. Tiga bulan pertama masih bisa senyum karena dibayarin kantor. Sebulan kemudian nempatin punya teman yang berbaik hati menggratiskan apartemennya karena dianya mudik. Sebulannya lagi cari kontrakan di pinggiran biar murah 😁.
Pas kembali ke Indonesia pun ada edisi nebeng di rumah orang tua di Bandung. Episode ngontrak di Curug sengsereng (sangareng?) Rumah di Serpong pun sekarang dikontrakin orang biar jadi penghasilan (walau ternyata tak seberapa).
Paling tiada kepastian itu pas mukim di negeri utara Borneo. Saking tiada jelasnya kontrak kerja, visa tinggal buat keluarga pun hanya per 3 bulan. Maka tiap 3 bulan harus menggiring dua bocah menyebrangi perbatasan. (Hal ini karena kompleksitas izin kerja di negara tsb. Banyak detail yang mungkin tidak banyak diketahui publik, dilakukan oleh perusahaan multinasional buat ‘mengakali’ regulasi yang terlampau ketat. Tapi seringkali yang jadi ‘korban’ adalah pekerjanya.)
Tinggal pun di housing karyawan, berbagi rumah dengan rekan asal Vietnam. Itu pun ada episode dipindah ke rumah yang lebih kecil begitu ada pengetatan. (Walau to be fair, rumah ‘kecil’ buat ukuran Brunei tuh tetep gede bgt bagi kita kelas menengah Jabotabek yang dikejar KPR). Begitulah kehidupan selama dua tahun. Makanya jadi akrab dengan pekerja migran dan bersimpati dengan suka duka mereka.
Sekarang, sudah enak-enak jatuh cinta dengan kota kecil Oulu, tapi ya akhirnya persediaan duid menifisss juga. Akyu kan mahasiswa tiada berpenghasilan. Terpaksalah suami yang bekerja bagai quda 😂.
Walau Oulu termasuk salah satu pusat teknologi di Finlandia, dia tetap kota kecil berpenduduk 200rb saja. Tetap saja, di ibukota macam Stockholm ini kalau buat kerja “serabutan” lebih banyak kesempatannya.
Makanya berlanjut petualangan menempati kontrakan nomor 13. Karena sang suami harus mengais Krona bekerja “serabutan” lagi demi membiayai ego istrinya yang ngoyo kepingin sekolah di Finlandia (tapi sebenarnya kurang pintar buat bisa dapat full beasiswa sampai biaya hidup hahaha 😂)
Sesungguhnya di dalam lubuk hati terdalam, sudah kadung jatuh hati dengan kota kecil di tengah hutan pinus, di tepi danau itu. Semoga ada jalannya buat bisa kembali berkumpul sekeluarga di kontrakan nomor 12.
Entah berapa lama ini. Harus menghidupkan dua asap dapur, antara kontrakan nomor 12 dan nomor 13. Semoga diberi jalan yang terbaik. Amin
