(Oulu, Mei 2019)
Membaca Al-Kahfi dari tempat di mana matahari tidak pernah terbenam tenyata rasanya berbeda..
Suasana sahur yang semakin hari semakin terasa canggung. Mengikuti jadwal masjid, subuh selama ramadan ini ditetapkan jatuh jam setengah 5 pagi. Semakin hari, semakin mendekati musim panas, jam segitu jadi semakin terang.

Sebagai orang tropis yang keseharian aktivitas selalu merujuk pada matahari terbit dan tenggelam di waktu yang sama, hal sedemikian sangat bikin disorientasi.
Entah mengapa di Oulu ini terasa begitu ekstrim. Dulu di Stockholm tidak terlalu merasa gimana gitu?
Pengalaman Ramadhan kali ini bertepatan dengan beresnya tahun pertama kuliah. Jadinya kombo efeknya.
Secara lingkungan fisik dibikin disorientasi waktu. Secara psikologis juga dibolak-balik sama paradigma berpikir yang sama sekali baru.
Sebagai anak teknik yang dibiasakan mikir positivistik: hitam putih, mencari formula yang bisa mengeneralisir, sukanya sama solusi dan klaim kebenaran. Stres sungguhlah itu ketemu lingkungan yang demennya konstruktivisme. Pun spiritnya negosiasi.
Tapi macam ditampar rasanya. Selama ini berkat jargon kampus nganu, selamat datang putra putri terbaik bangsa, seringkali merasa jumawa. Dipikir udah di puncak piramida 1% bibit unggul negara. Tahu segala-galanya. Padahal yah..
Memang ya, dikotomi ilmu sainstek vs ilmu sosial ini sungguh kekonyolan luar biasa. Begitu juga akal vs emosi. Mana iya elemen manusia bisa dipisah-pisah begitu.
Konon malam ini nuzulul qur’an.Tadi dibagi ayat sama seorang teman. Sesama urang Bandung yang nyasar di negeri Suomi.
Al-kahfi:90. Bagian dari rangkaian kisah perjalanannya Dzulqarnain. “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu”

Entah ini tepat atau tidak, ayat tersebut jika dibaca di suasana psikologis ramadan di tanah Arctic jadi terasa macam metafor, buat ‘the land where the sun never sets’. Midnight sun.
Entah apa kata ahli tafsir tentang ini. Tapi tadi sempat nanya sama Ustadz tetangga asal Malaysia yang lulusan Jordan (& Finland), begini jawaban beliau:
“Wsalam sis. Very interesting. But I have no capability yet to say yes or no.
The word sitra (سترا) has the ability to carry the meaning of the darkness of the night in Arabic. There is a possibility that al-Kahf verse 90 to be understood as a place where there is no darkness of the night to cover them. This makes more sense than the classical scholars’ interpretation suggesting that the people Dzulqarnain saw were naked and living in a place that has no tree or tent to cover them. At least that is what I think, so far.”
Saya tidak terlalu tertarik soal apakah benar adanya dulu Dzulqarnain itu sampai ke negeri Arctic. (Karena ternyata ada ahli astronomi asal Mesir yang bikin paper kolaborasi dengan profesor asal Helsinki dan berteori soal itu). Rasanya yang lebih penting, apa hikmah yang ingin disampaikan dari diciptakannya fenomena tersebut?
Fenomena alam yang bikin bertanya ulang. Apa itu pagi, malam, subuh, magrib.
Betapa hal yang merupakan “kebenaran mutlak” di katulistiwa: bahwa pagi adalah saat matahari sudah terbit, dan malam adalah saat matahari sudah terbenam. Tidaklah begitu adanya di tanah Arctic nan utara ini, toh?
Jadi memang kita harus berhati-hati sekali ya kalau memaksakan “kebenaran mutlak” versi kita pada orang lain… Keukeuh maksain kalau pagi itu terang, malam itu gelap. . Mungkin benar buat kita orang katulistiwa, sedangkan buat mereka yang orang kutub??
