(Oulu, Agustus 2018)

Tersebutlah seorang peneliti bernama Ann Masten, yang berusaha mencari tahu soal hal-hal apa yang membuat seorang anak tumbuh hingga memiliki “resilience: the ability to bounce back better.” Jikalau jatuh terjerembab mampu berdiri kembali, bahkan mencapai posisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Ia berharap menemukan resep-resep rahasia, sesuatu yang spesial dan ajaib dalam diri anak-anak itu. Hanya untuk mendapati kesimpulan di akhir penelitiannya: faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuhnya seorang anak menjadi anak yang resilient itu bukanlah sesuatu yang mencengangkan. Melainkan hal-hal ‘biasa’ yang memang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang seorang anak manusia.
Bangkit setelah jatuh itu ternyata kemampuan adaptif manusia yang sangat alami, sudah kita lakukan sejak ribuan tahun lalu untuk bertahan hidup. Anak asalkan tidak dimiskinkan dari kebutuhan alami tumbuh kembangnya akan mampu menjadi manusia dewasa yang resilient.
Pengasuh dan keluarga yang perhatian. Otak manusia yang sehat, yang telah belajar lewat interaksi dengan orang di sekitar. Orang tua, guru, yang mengajarkan anak untuk mandiri berpikir memecahkan masalah, mengatur emosi dan perilaku. Hal-hal mendasar seperti itu saja. Ann menyebut faktor-faktor itu sebagai “ordinary magic”. Hal-hal bermakna di sekitar kita, namun seringkali dianggap sambil lalu, kurang kita apresiasi nilai pentingnya.
Hanya memang sayangnya tak setiap anak beruntung untuk mendapatkan bahkan hal-hal mendasar tersebut. Banyak anak yang tumbuh besar dalam kondisi tak ideal dan penuh faktor resiko.
Anak-anak demikian, bagaimana mereka bisa tumbuh jadi anak mandiri yang resilient?
Contoh klasik saja, Harry Potter. Masa kecilnya begitu sulit. Ia yatim piatu. Paman Bibi yang mengasuhnya, sepupunya, semua tukang bully.
Ann mengatakan, bahwa anak-anak itu dalam salah satu episode hidupnya pasti bertemu sosok mentor, guru, sahabat yang inspiratif. Dalam cerita Harry Potter ada Dumbledore, Sirius Black, Prof. McGonagall dan yang terutama, keluarga besar Weasly. “I’d like to say that resilience of a child is distributed. It’s not just in the child. It’s distributed in their relationships with the many other people who make up their world.”
“Resilience” itu tak berdiri sendiri. Ia membentuk jaringan yang terkoneksi, ada interaksi. Terjatuh dan terjerembab itu manusiawi. Begitu juga mengulurkan tangan, membantu seseorang untuk kembali berdiri.
Kuncinya: orang-orang baik dalam suatu komunitas. Carilah orang-orang baik, jadilah orang yang baik. Sederhana kan ya sebetulnya?
*) Disarikan dari buku Ordinary Magic: Resilience in Development, Ann Masten
