(Serpong, Maret 2018)
Baru tahu saya. Bagaimana Finlandia digadang-gadang sebagai bangsa yang literat, yang konon punya sistem pendidikan yang bikin iri negara-negara di dunia, sehingga semua berbondong-bondong studi banding ke utara. Asal muasalnya, adalah berkat sebuah gerakan akar rumput yang mengemuka. Yang kemudian berubah jadi institusi dan perlahan membudaya. Bukan melulu semata soal “policy”, kebijakan yang tepat dari pemerintahnya, seperti yang seringkali jadi fokus pembahasan para ahli pendidikan di linimasa.
Gerakan akar rumput yang sesungguhnya bermula dari negeri tetangga Swedia itu bernama “studiecirklar”, “study circle” alias ya sederhana saja, lingkar belajar. Gampangnya lagi, bisa dibilang ya klub baca. Karena dalam pertemuannya itu seringkali mereka mendiskusikan buku. Utamanya sih buku fiksi. Novel-novel yang dibaca sebagai hiburan yang mendidik. Lama-lama tentu yang dibahas jadi beraneka rupa. Tema ringan hingga serius.
Lingkar belajar ini karena aktivitasnya berpusat pada teks, lama-lama jadi punya banyak koleksi buku sendiri. Jadilah terbentuk perpustakaan lokal kecil-kecil di mana-mana. Kemudian mereka berkolaborasi dengan perpustakaan publik milik pemerintah. Bahkan banyak yang sengaja mengintegrasikan dirinya, menyumbangkan buku-bukunya ke perpustakaan publik di komun masing-masing. Supaya lebih efisien soal pemeliharaan dan pembiayaan.
Siapa saja anggota lingkar belajar ini? Awalnya memang para elit yang terdidik. Namun entah bagaimana akhirnya justru lingkar belajar ini besar di kalangan buruh. Feodalisme ala Eropa daratan memang tidaklah terlalu tajam di tanah Nordik. Mereka memang sedari awalnya cenderung egalitarian. Jadi ya mudah saja nampaknya kalau yang borju, buruh, petani dan lain-lain bisa asik tergabung dalam satu kelompok belajar. Mendiskusikan topik yang menarik minat bersama. Soal buku, musik, film, apapun.
Kalau dirunut-runut, menjamurnya lingkar belajar ini punya peran penting dalam menentukan kesuksesan bangsa Nordik kedepannya, termasuk soal pendidikan. Akibat masyarakat akar rumput yang tercerahkan, melek segala isu sosial politik budaya, mereka mampu melahirkan Nordic Model dengan konsep welfare-state yang menjadi jantungnya. Kesimpulannya, yang terjadi saat itu adalah merebaknya lingkar belajar, munculnya perpustakaan publik sebagai pusat aktivitas masyarakat, semakin menguatnya serikat pekerja, pun muncul aneka inisiatif lain, seperti misal model ekonomi koperasi yang tekenal itu, “coop”. (Konon Bung Hatta dulu sempat main ke Nordik ketika kuliah di Eropa, alhasil pulang dengan mengembangkan konsep koperasinya sendiri).
Menariknya pula, tahun-tahun itu negeri Nordik juga mengalami polarisasi politik yang parah macam dialami banyak negara di dunia akhir-akhir ini. Semacam kalau di Amerika ada perseteruan Republikan vs Demokrat. Atau ya macam iklim politik di Indonesia kini. Bahkan kita ini mungkin yang paling canggih ya. Polarisasi sudah menginvasi Kingdom Animalia, kodok dan kelelawar saja bisa membentuk dua kutub yang saling bermusuhan. Cebong vs Kampret? Luar biasa. Khazanah keanekaragaman hayati zamrud khatulistiwa.
Dahulu itu di Nordik, di satu sisi ada kutub yang pro Nazi Jerman, di sisi lain ada yang pro Uni Soviet. Akibat letak geografis yang memang diapit dua negara kuat, politik dalam negeri mereka jelas tarik menarik antara kedua kutub itu. Tapi apa yang terjadi di sana sangat menarik. Kalau tidak melulu harus A atau B jawabannya. Nyatanya mereka biasa muncul dengan jawaban C, Nordic Model. Kalau tidak ada pilihan yang sreg, maka lahirkan solusi baru sendiri. Menggabungkan demokrasi pasar bebas dengan jaringan pengaman sosial yang kokoh. Walau tentu solusi mereka itu bukanlah model sempurna, banyak menemukan tantangan sepanjang perjalanannya, punya kritikus setianya sendiri, masih terus bereksperimen mengembangkan bentuknya.
Pelajarannya buat kita? Tentumya bukan dengan ikut-ikutan menerapkan model negeri kutub di negeri tropis. Salah kostum namanya memaksa pakai jaket bulu-bulu angsa di panasnya udara Jakarta. Tapi bahwa kita perlu menemukan model sendiri. Polarisasi yang parah ternyata ada hikmahnya, bisa jadi katalis bagi gerakan akar rumput, menuju perubahan sosial yang berkemajuan. Kalau kita kesal dengan situasi yang serba mengkotakkan A atau B. Jangan frustasi dan menyerah dengan keadaan. Lalu jadi apatis. Dalam sejarah peradaban modern, ternyata ada bangsa yang berhasil menemukan berkah polarisasi, menelurkan solusi melalui jalan ketiga. Kuncinya ada pada masyarakat yang peduli, aktif terlibat dan berdaya merumuskan mimpi bersama.
Maka, dengan menjamurnya taman-taman bacaan tersebar di pelosok negeri, kelompok-kelompok belajar komunitas di perkampungan, gerakan literasi swadaya masyarakat yang menggeliat dari Aceh sampai Papua, saya percaya itu indikasi awal bahwa kita sedang mengembangkan “studiecirklar” versi kita sendiri. Anak-anak muda yang sibuk mendiskusikan karya-karya Pram, HAMKA, Sapardi, dan lain sebagainya. Yang ujungnya mudah-mudahan adalah masyarakat yang literat, tercerahkan, dan mampu menenciptakan model solusinya sendiri. Versi kita, Indonesia.
*) disarikan dari dua buku bagus ini :
1. Plotting the Reading Experience : Theory/Practice/Politics, Wilfred Laurier University Press
2. Teacher and Librarian Partnership in Literacy Education in the 21st Century, SensePublishers

