Tiger Mom Returns

(Serpong, Mei 2018)

Bukunya Amy Chua itu nggak ada yang “nyaman” dibaca. Soalnya dari ke-5 bukunya sejauh ini, benang merahnya satu. Sensitif sekali. SARA melulu. Termasuk buku terbarunya ini. Banyak pesan menarik sebetulnya, kepingin direview dari kemarin tapi nggak yakin. Sebagai awam takut salah baca, salah omong.

Bukunya yang Tiger Mom itu, bikin geger Amerika. Salah momen sebetulnya. Karena pas banget bukunya keluar, mulai pula keluar hasil tes PISA itu lho. Dan orang Amerika pada resah. Yang top jadi juara itu Shangai, Korsel. Posisi negara mereka mah jauh banget, jeblok. Jadilah ada semacam group-insecurity di kalangan mamak-bapak seantero negeri Paman Sam. Bercampur baur dengan aneka isu politik luar negeri, buku itu dibaca dengan kerangka psikologis kolektif: terancamnya dominasi Amerika oleh Asia. Ribut lah jadinya.

Padahal kalau mau jujur, dibaca dengan kepala dingin, diawali dengan taawudz dan basmalah, itu buku cuma memoar sifatnya. Bukan buku panduan parenting yang mempromosikan pola pengasuhan tertentu lebih superior dari lainnya. Cuma curhat aja kalau dia juga punya kegelisahan, keraguan, bener nggak ini caranya ngedidik anak. Tapi pada akhirnya, tetap dia bangga sama kerja kerasnya, bangga sama karakter warisan budayanya. Biarlah gaya pengasuhan memang beda-beda tiap rumah. Toh kesimpulannya, walau dia ‘mamak singa’, anaknya ada yang sampai memberontak, ujungnya ibu anak-anak saling sayang semua. Nah itu dosanya Amy Chua, bangga sama heritage-nya. Itu bikin dia dicap sebagai “the other”, “not American enough”. Habislah dia, konon sampe menerima email death threat segala. Gara-gara mamak-mamak curhat soal urus anak.. Segitunya 😅

Nah bukunya yang terbaru ini ide utamanya persis membahas tentang itu. Salah satu musabab kenapa Tiger Mom jadi dibaca dengan bias begitu dan menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Tribalisme. Isu yang juga jadi akar masalah banyak konflik lainnya di dunia. Yang jauh lebih serius dari ketimbang silah pendapat soal buku parenting semata.

Konon manusia tu defaultnya lebih agresif kalau “tribe”-nya yang terancam. Bisa lebih siap senggol bacok ketimbang kalau dirinya sendiri yang terusik. Katanya sih memang tercatat di DNA kita, bawaan evolusi. Definisi tribe ini ya macam-macam. Di jaman modern sekarang tribe itu bisa dari mulai klub sepakbola idola sampai rumah fesyen favorit. Suku, agama, ras, negara-bangsa, jelas termasuk. Rupa-rupa. Intinya sih kelompok di mana kita merasa menjadi bagian daripadanya.

Dalam buku berjudul Political Tribes kali ini dia cerita tentang apa yang lagi terjadi di negaranya. Tribalisme yang mewajah dalam bentuk polarisasi politik yang parah. Antara dua tribes. Coastal elite & Midwest America. Daerah biru vs daerah merah. Demokrat vs Republikan. Nah saya sih gak tertarik bahas politik Amerika. Trump dan sebagainya. Ngerti juga kagak. Kurang lebih yang dibahas Chua ya salah satu versi dari debat yang bertebaran diluar sana.

Singkat kata, posisi kritik dia sih kurang lebih polarisasi politik di negaranya itu udah nggak sehat. Zero sum game. Bisa kebakar dan hangus bareng-bareng. Bubar ambyar semua. Dan kedua belah pihak punya salahnya masing-masing. Terbutakan oleh echo chamber & gelembung masing-masing. Solusinya ya harus ketemu konsensus. Merumuskan kembali versi terkini mimpi bersama yang ingin dicapai.

Bagian buku lain dia banyak bahas manifestasi tribalisme di beberapa negara lain. Ngeri-ngeri sih yang dibahas. Iraq, Afghan, Vietnam, Venezuela. Bahas ISIS segala. Termasuk keculasan politik luar negeri pemerintahnya yang memainkan isu tribalisme di mana-mana. Kutaksanggup jiwa raga merangkumnya.

Paling menarik sebetulnya bahasan tentang Vietnam & Venezuela. Macam nyambung dengan buku pertamanya yang World on Fire. Tentang Market Dominant Minority (MDM). Pernah eik review bukunya di sini:

https://livalearning.fi/2021/04/10/belajar-dari-sang-tiger-mom/

Sedih ya Venezuela. Miris. Awalnya nampak negara yang cukup menjanjikan dan mulai maju. Lalu jadi negara gagal kayak sekarang. Gara-gara konflik antara mayoritas dengan MDM. (Secara karakter ras, MDM itu tipe-tipe Venezuela turunan putih, kayak miss universe dan bintang telenovela. Rakyat mayoritas tipe-tipe lebih gelap kulitnya. Ternyata, tak semua orang Venezuela berwujud seperti Maria Marcedes)

Yaudah. Kepanjangan. Jadi, apa pesan dari Amy Chua?

Overall, yang paling saya suka dari dia adalah introspektif dan proaktif. Waktu di World in Fire, kesimpulan dia sebagai MDM dia perlu jadi warga negara aktif dan menggalakan filantropi. Alih-alih mikirin balas dendam karena Tantenya dibunuh dengan kejam, bermotif ekonomi-rasial di negeri asal keluarganya, Filipina. Dia lebih mending proaktif. Dengan melihat akar masalah soal kesenjangan ekonomi. Dia berpikir tindakan nyata dan langsung apa yang bisa dia lakukan untuk mempersempit jurang kesenjangan.

Di Political Tribes, sebagai bagian dari Coastal Elite, dia mengajak untuk keluar dari gelembung dan “reach out” ke kubu seberang. Ketimbang melulu mengeluarkan kritik pedas soal betapa rasisnya Trump dan pendukung-pendukungnya. Konkrit yang dia lakukan: Dia membimbing salah satu mahasiswanya di Yale. Yang berasal dari daerah Appalachian, salah satu basis pendukung Trump, untuk menuliskan memoarnya. Jadilah buku Hilbilly Elegy yang fenomenal itu. Tulisan personal, yang membuat pembacanya sadar ada permasalahan besar, perbedaan ekstrim yang perlu dijembatani.

Ya gitulah. Tribalisme itu emang bakal bikin kita berkompetisi mengklaim siapa yang paling jadi korban. Jadi susah buat introspeksi soal kesalahan diri. Soalnya bawaannya nuntut pihak lawan yang musti memperbaiki diri. Dua-dua bersikap demikian. Alhasil bakal mbulet dan tiada solusi. Konflik pecah, semua pun ambyar.

Di buku ini kita diajak berpikir. Ia memaparkan bukti bahwa fenomena tribalisme itu memang bagian dari ‘fitrah’ manusia. Melawan tribalisme itu ya sulit, macam melawan hawa nafsu. Udah bawaan lahir manusia itu bakal tribal. Tapi ya seperti hawa nafsu, tribalisme yang kelewat batas itu hasilnya mengerikan. Harus dikendalikan, kalau nggak yaa kebakaran. Chua memberi contoh-contoh konflik berdarah akibat tribalisme ini supaya kita belajar dari sejarah dan nggak berjalan ke arah kehancuran.

Nanti malam sudah Taraweh. Bulan puasa. Latihan mengelola hawa nafsu. Termasuk juga nafsu tribal? Semoga kita dimampukan.

Mohon maaf lahir dan batin ya buibu. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung yang menuai hikmah Ramadhan. Amiiin.