Belajar dari Sang “Tiger Mom”

(Serpong, Mei 2017)

Dalam bukunya yang Battle Hymn of a Tiger Mother, Amy Chua bikin orang Amerika keki. Walau sifatnya memoar pribadi, kalau dibaca oleh yang keburu sensi, seakan mengirim pesan bahwa cara pengasuhan orang Asia lebih superior dari cara pengasuhan orang Barat.

Dalam bukunya yang berjudul The Triple Package. Dia malah eksplisit membahas soal (supremasi) ras. Karakter apa yang bikin beberapa kelompok ras/agama tertentu di imigran Amerika lebih sukses dari yang lainnya. “Chinese, Jews, Indian, Iranian, Lebanese, Nigerian, Cuban Exile & Mormons.” Tiga karakter yang dimaksud itu; “superiority complex (yes, you read it right!) , insecurity & impulse control.” Ngeselin banget nggak sih doi 😅

Buku lainnya, yang justru ditulis jauh sebelum dua buku di atas terbit, berjudul World on Fire. Subjudulnya berbunyi, “How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global Instability”. Yang ini cenderung serius, ditulis dalam kapasitasnya sebagai Profesor di Yale Law School. (Buat saya yang nggak pernah baca buku dengan embel-embel demokrasi di sampulnya, jelas nggak kunjung tamat bacanya.😁)

Amy Chua memang nggak malu-malu mengangkat topik yang buat kita “sulit” untuk dicerna. Bikin kerongkongan tercekat. Konsisten, membahas hal yang dianggap tabu, soal ras dan konflik-konflik yang mengelilinginya.

Dalam World on Fire Chua mengkritik bagaimana Barat gegabah mengekspor Demokrasi pasar bebas ke negara-negara berkembang. Mengabaikan bahwa di sana ada fenomena yang disebut “market dominant minority” (MDM) . Etnis minoritas yang mendominasi perekonomian suatu negara, lebih makmur secara tidak proporsional dibanding etnis mayoritas

Menurut Chua, hal tersebut adalah “a recipe for disaster.” Pasar bebas akan membuat yang memiliki modal akan semakin kaya. Sementara demokrasi menjadi alat bagi mayoritas untuk mengekspresikan ketidakpuasannyaa. Kekuatan politik pun dipegang oleh kaum mayoritas yang kesal. Mereka yang punya kekuatan besar di kotak suara, namun lemah dari sisi ekonomi. Mereka yang frustasi, sulit untuk melakukan mobilitas ekonomi karena rintangan pasar yang sudah terlalu besar. Sementara kaum MDM walau dominan secara ekonomi, menjadi tertekan secara politis. Hasilnya bisa ditebak, ketegangan etnis. Yang gampang digoreng jadi isu yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan.

Itu adalah fenomena yang lazim di negara-negara berkembang. Sebut saja negara-negara Afrika, Balkan hingga pecahnya Yugoslavia, beberapa negara di Amerika Selatan. Tak terkecuali di Asia Tenggara. Tidak hanya di Indonesia, namun juga Filipina, Malaysia, Vientam dan Thailand. Bukan rahasia, di tempat-tempat tersebut perekenomian didominasi warga ‘keturunan’. Sementara kekuasaan politik dipegang oleh kaum ‘pribumi’ (whatever that term means).

Cerita lama yang akrab di telinga orang Indonesia – kapitalisme kroni – juga dibahas oleh Chua. Elit penguasa yang menguasai aneka sumber daya, akan memberikan akses bagi pengusaha, dengan imbalan “upeti” tentunya. Pengusaha yang tidak punya pilihan pun terpaksa saja membayar. Pemerintahan yang tidak bersih dan korupsi yang merajalela, membuat pengusaha merasa tak ada yang bisa dipercaya. Usaha mereka pun dibagi ke sesama keluarga saja. Kekayaan semakin terpusat di situ-situ saja. Lingkaran setan yang mbulet.

Jika di negara-negara barat muncul konsep redistribusi kekayaan untuk “melembutkan” efek kapitalisme. Macam “welfare-state” gitu. Ada pajak progresif untuk yang semakin besar penghasilannya, ada jaringan pengaman sosial untuk yang tidak mampu, pendidikan & kesehatan yang terjamin, perlindungan tenaga kerja, peraturan upah minimum dan lain sebagainya. Semua itu tidak serius dibawa dalam paket demokrasi & pasar bebas yang diekspor ke negara-negara berkembang. Miris melihat bahwa kesenjangan justru paling parah terjadi di sana. Semisal di Indonesia, konon 1 persen penduduk terkaya mengontrol sekitar 49,3 persen kekayaan secara nasional. Pendidikan mahal. Buku mahal. Mau jadi pintar & naik status sosial amatlah susah, kalau tidak musykil.

Mengutip Chua, yang terjadi kemudian adalah reaksi balik yang berbahaya.

“.. when free market democracy is pursued in the presence of a market-dominant minority, the almost invariable result is backlash. This backlash typically takes one of three forms. The first is a backlash against markets, targeting the market-dominant minority’s wealth. The second is a backlash against democracy by forces favorable to the market-dominant minority. The third is violence, sometimes genocidal, directed against the market-dominant minority itself”

Poin yang ketiga ini yang mengerikan. Mungkin kalau di Indonesia wujudnya adalah kerusuhan Mei 98. Naudzubillah, jangan sampai terjadi lagi.

Soal kekerasan berlatar kebencian etnis ini Amy Chua punya kisah pribadi. World on Fire dibuka dengan cerita tentang adik kembar ayah Amy Chua, Aunt Leona, yang dibunuh oleh supir pribadinya di Filipina. Motifnya adalah dendam. Amy Chua berasal dari keluarga imigran kaya asal Tiongkok di Filipina. Ternyata, memang ada ketegangan rasial antara mayoritas Pinoy dan kaum minoritas yang menguasai ekonomi (Chinoy keturunan Tiongkok & Mestizo keturunan Spanyol). Kematian Aunt Leona adalah pukulan berat buat ayah Chua, sebagai saudara kembar mereka hampir tak terpisahkan. Chua menulis World on Fire sebagai salah satu upaya untuk memahami tragedi yang dialami keluarganya itu.

Dan ini yang saya salut, sebagai akademisi ia benar-benar objektif. Trauma pribadi tidak membuat keruh pandangannya. Sepanjang buku analisisnya jujur dan tajam. World on Fire justru berakhir dengan kesimpulan yang tak saya duga.

“Fortunately or unfortunately then, the best hope for global free market democracy lies with market dominant minority themselves. This is adamantly not to blame market-dominat minorities for the ethnonationalist backlash against them. But it is to suggest that market-dominant minorities may be in the best position to address the most pressing challanges threatening free market democracy today”

Sebagai bagian dari komunitas MDM di Filipina, yang dalam kasus Chua mengalami kezaliman dalam bentuk kekerasan, dia justru meletakkan tanggung jawab memperbaiki keadaan ke tangan kelompoknya sendiri? Bukannya reaksi normal yang harusnya muncul adalah ia menuntut keadilan, menuntut pihak mayoritas untuk membayar dosa dengan melakukan perubahan? Di situ saya melihat karakter Chua; mentalitas korban tidak ada dalam kamusnya, ia proaktif, positif & optimis. (tidak heran, dalam banyak hal, finansial-karir-keluarga, ia sangatlah sukses)

Chua memaparkan beberapa poin yang menurutnya bisa jadi solusi. Dari mulai aneka formulasi ekonomi sampai strategi politis. Namun poin menjadikan MDM sebagai motor solusi adalah yang ia garis bawahi.

Menurutnya diperlukan sikap proaktif dari MDM untuk terus menunjukkan mereka adalah bagian terintegrasi dari masyarakat. Semakin parahnya krisis ekonomi di Indonesia pasca ditariknya modal oleh pengusaha keturunan yang hengkang ke negeri tetangga menjadi bukti, MDM memang punya peran penting menggerakkan perekonomian. Diperlukan sikap proaktif yang menunjukkan kekayaan MDM didapat dengan jujur & bersih, tidak kompromi dengan korupsi dan kecurangan. Chua bahkan membahas soal filantropisme sebagai jalan penting yang mesti ditempuh. “It is difficult to see, in any event, how a little generosity and humility could possibly hurt,” begitu ujarnya.

Pada akhirnya, Amy Chua memaafkan si pelaku pembunuhan Aunt Leona. Bukan tindakannya, tapi pelakunya. Karena tidak akan ada hal yang bisa menjustifikasi kekerasan. Setelah memahami dinamika sosial di Filipina dan negara-negara sejenis lainnya. Ia mengatakan, semua jadi lebih bisa dicerna.

Ia teringat dengan salah satu episode ketika di masa remajanya mudik ke Filipina. Di rumah Aunt Leona yang besar dan bergaya Spanyol kolonial, banyak pekerja rumah tangga yang hidup di sana. Kesemuanya adalah orang Pinoy. Mungkin Aunt Leona bukanlah majikan yang sempurna. Chua remaja sempat nyasar ke basement pengap bau pesing yang ternyata adalah kamar tidur para pekerja. Di sebuah sajian makan malam, sementara para pembantu menyajikan makanan, Aunt Leona acuh terus berbicara seakan mereka tak punya telinga dan tak paham soal pembicaraan. Mereka, para pembantu, tidaklah signifikan.

Di buku yang terakhir ini, saya menemukan sosok Amy Chua yang berbeda. Saya melihat wajah lain dari seorang Amy Chua. Dermawan, besar hati & pemaaf. Andai saya membaca buku ini terlebih dahulu sebelum dua bukunya yang lain di atas. Tentu saya akan membaca sosok Amy Chua dengan lensa yang berbeda. Membacanya sebagai sosok yang utuh dan tak gampang melabelinya dengan aneka stigma negatif, yang dahulu otomatis muncul bila mendengar istilah, “Tiger Mom.”

Prasangka memang muncul jika kita tak berusaha memahami kisah secara utuh. Dari Amy Chua, sang Tiger Mom, saya pun belajar soal itu.