(Bandung, Januari 2017)

Jadi saya tempo hari itu nyasar. Ikutan workshop yang pesertanya guru-guru SD. Pengisinya adalah Bu Sofie Dewayani. Seorang pegiat dunia literasi (yang bahkan disertasi PhD-nya pun soal literasi anak).
Bu Sofie memulai workshop dengan pertanyaan. Soal hasil tes PISA yang ramai dibicarakan kemarin, spesifik bagian literasi. Kenapa satu dari dua anak Indonesia tidak bisa memahami teks?? Ternyata jawabannya ada di slide ini.
Pendidikan literasi di Indonesia itu cuma berhenti di tiga aspek yang bawah. Tidak menyentuh bagian atas. Hasilnya? Membaca hanya seperti robot. Melafalkan kata jadi kalimat namun tak mampu menjalin makna. Cerita beliau berikut ini mungkin bisa memberi ilustrasi:
Alkisah Yayasan Litara, (yang bergerak di penerbitan buku anak berkualitas dari penulis dan ilustrator muda Indonesia berbakat), hendak menerbitkan sebuah buku cerita anak bergambar. Sebelum diluncurkan, buku prototip tentunya harus diuji coba. Buku ini bertemakan tentang panca indera, memiliki dua tokoh utama. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Diujicobakan di dua sekolah. Sekolah A dan sekolah B. Sesama murid kelas 4 SD.
Sekolah A adalah sekolah “normal.” Anak kelas 4 SD tentunya mampu membaca dengan lancar sekali. Menderas lebih tepatnya. Lala lili ina ini, lancar sekali pokoknya. Sekolah B adalah sekolah anak berkebutuhan khusus. Mereka membaca dengan terbata, perlu jeda sebelum beranjak ke kata berikutnya. Sesekali terdiam dan beralih memperhatikan gambar.
Lalu apa bedanya anak di sekolah A dan di sekolah B?
Anak di sekolah A, yang begitu lancar membaca buku, justru tak mampu mengenali bahwa tokoh anak lelaki di buku itu buta. Walau ilustrasi di buku menggambarkan si anak memakai tongkat. Ketika diminta mengungkapkan pendapat tentang isi buku, mereka tidak mampu menyentuh esensi, terjebak pada hal permukaan.
“Siapa tokoh yang paling kamu suka dalam cerita ini?”
“Anak yang perempuan”
“Oh ya, mengapa?”
“Soalnya bajunya bagus”
…..
Mereka gagal berempati.
Anak di sekolah B, anak yang notabene bukan anak “normal,” yang belum lancar membaca. Justru mampu memahami bahwa ilustrasi dan teks terjalin membentuk narasi. Mereka mampu membangun dialog.
“Bu, anak laki-laki ini buta ya? Ia tidak bisa melihat? Mengapa? Apa yang terjadi? Kenapa begitu? ..”
Anak di sekolah B, justru mampu berempati, menganalisis, menelaah lebih lanjut. Memahami bahwa teks bukanlah final. Teks ada untuk digugat, dipertanyakan, ditelaah, didekonstruksi. Anak di sekolah B ternyata mampu “membaca” lebih baik dibanding anak di sekolah A. Mereka mampu mengikat makna, (yang mungkin) tujuan utama dari kegiatan membaca.
Miris, ya?
Tidak perlu dibahas panjang-panjang, tapi kita bisa bayangkan lah ya, mengapa ketika anak-anak kita di usia 15 tahun menjalani Tes PISA, untuk bidang literasi, ya begitulah hasilnya..
Lalu ini salah siapa? Guru?
Saya teringat Pak Iwan, guru SD Muhammadiyah yand duduk di sebelah saya. Lelaki sederhana, bertutur halus khas pria Sunda. Ini kali kedua ia mengikuti workshop literasi. Bagian dari digalakannya kegiatan 15 menit membaca di sekolah oleh Diknas.
Pak Iwan berujar,
“Teh, ketika orang tua menitipkan anak di sekolah, mereka maunya tau beres. Sisanya terserah Guru. Lepas tangan, pokoknya maunya anaknya jadi bagus aja.”
“Teh, saya khawatir sekali dengan gadget. Anak-anak di SD saya semua pegang HP bagus-bagus. Paling canggih dibelikan orang tuanya. Susah membuat mereka senang membaca buku. Mendingan juga main game HP”.
Dan aneka selentingan obrolan ngalor ngidul dengan Pak Iwan. Soal kurikulum, soal beban administrasi dll. Saya membayangkan, berat sekali jadi guru di Indonesia. Berapa ya gajinya? Bagaimana ya ia menghidupi anak istrinya? Saya cuma bisa membatin, Pak Iwan, surgamu luas sekali.
Menurut statistik lain (entah sahih entah tidak), konon cuma 1 dari 1000 orang Indonesia yang “membaca.” Artinya cuma 250 ribu jumlahnya manusia-manusia literat di Indonesia ini. Dan anda pasti salah satunya. (Dijaminlah, lingkaran pertemanan FB saya ini kan ehem.. Elit lah ya? Literat, artinya nggak akan nyebar hoax kan ya? *eh)
Tapi mungkin di situ masalahnya. Ketika kita para makhluk-makhluk (yang mengaku) literat ini asik tinggal di atas menara gading kita. Membahas sastra-sastra langit, buku terbaru di daftar NYT best seller, punya akun Amazon Prime, punya perpustakaan pribadi di rumah yang koleksinya ratusan hingga ribuan buku..
Saya jadi inget, preman sekitar. Sebut saja namanya Soleh. My nemesis. Soleh vs Soleha. Isu kami adalah perebutan lahan parkir. Soalnya dia mengkomersialisasi lahan parkir di depan rumah Pakde saya. Sedang saya nebeng parkir di situ. Alhasil saya sering nggak kebagian parkir. KZL.
Dia punya anak kecil. Seumur anak saya mungkin. Lima tahun. Tiap hari ikut nongkrong di situ. Di warung rokok pojokan. Ikut memarkirkan mobil-mobil travel jurusan Depok. Hiburannya? Mungkin Om Telolet Om. Boro-boro diajak membaca cerita. Sementara anak saya? Bertabur buku di rumah. Mainan edukasi. Stimulasi kognisi, emosi. Montessori, Montessarraaa…
Jadi kalau 10 tahun lagi, anak saya dan anak si Soleh ikut tes PISA. Dan hasilnya, salah satu dari mereka tak mampu memahami teks, ada peran saya di situ. Tetangganya. Yang tak melakukan apa-apa untuk membantunya… Ah, entahlah.. Begitu banyak PR Indonesia. Tapi mungkin, ini mungkin…Membangun bangsa harus dimulai dengan mengajari anak-anak kita (dan anak-anak tetangga kita) “membaca.”
Jadi mungkin siang ini, saya perlu mampir ke warung si Soleh. Perlahan melupakan perseteruan Soleh vs Soleha. Membawa buku mewarnai & krayon buat anaknya. Siapa tahu besok-besok dia jadi anak gemar membaca. Langkah awal, tak perlu muluk besar-besar.. Asal dilakukan..
So, yes, that’s my first step, what’s yours??
