(Sebuah catatan lawas dari tahun 2017)
Saya sebenarnya tidak tahu apa artinya Latte Pappa. Satu-satunya bahasa Swedia yang sempat saya pelajari hanyalah IKEA. Yang saya tangkap,itu semacam istilah yang sering digunakan untuk menyebut kaum bapak-bapak Nordik yang sedang mengambil jatah cuti panjangnya. Tinggal di rumah untuk mengasuh anak.
Karena orang sana amat gemar minum kopi, mungkin bapak-bapak itu jadi suka nongkrong di café sambil memesan secangkir kopi latte. Jadilah “Latte Pappa” ? Pemandangan biasa di kota-kota macam Stockholm, Oslo, Copenhagen maupun Helsinki melihat bapak muda macho brewokan, duduk di café udara terbuka, ditemani anak bayinya yang terlelap di dalam stroller

Negara-negara Nordik memang terkenal dengan jatah “Parental Leave” yang murah hati. Contohnya saja di Swedia, para orang tua memiliki jatah 480 hari boleh dibagi suami-istri, boleh diambil kapanpun sampai anak berusia 8 tahun. Untuk kaum bapaknya, mereka wajib mengambil cuti minimal 3 bulan.
Semalam saya jadi teringat lagi dengan istilah itu, karena tiba-tiba saja teman saya yang sudah lama bermukim di negeri utara, yang kebetulan lagi menjadi seorang Latte Pappa, mengirim tautan di WAG. Sebuah artikel pendek yang judulnya agak provokatif. “Dahsyatnya Pengaruh Dongeng si Ayah”.
Dia memang sedang rajin kirim-kirim tautan soal parenting. Sambil mengasuh kedua putrinya, sementara istrinya sedang fokus menamatkan tesis, ia menggagas sebuah online forum bertema dunia parenting. Ia ingin mengajak kaum bapak-bapak muda Indonesia untuk terlibat dalam diskusi-diskusi pengasuhan anak, yang selama ini dimonopoli oleh kaum ibu.
Soal tautan yang dikirim teman saya. Tak perlu panjang-panjang kita bahas. Sudah banyak sekali riset yang menyatakan bahwa prosesi dongeng sebelum tidur membawa banyak manfaat bagi anak. Baik kognitif maupun afektif. Dari mulai membangun kelekatan emosi anak-orang tua, mengurangi stress, sampai pada proses ”re-wiring” pada otak anak yang mengaktivasi bagian penguasaan bahasa & logika.
Yang menarik dari tautan yang dia kirim, ada penelitian dari Harvard University. Secara sederhana bisa disimpulkan.” Lebih bagus efeknya buat anak kalau yang membacakan dongeng adalah bapaknya dibanding ibunya!“ Ehh, apaaa? Sebagai ibu saya merasa terhina dan jelas menolak hasil penelitian tersebut. Bias jender! Hahaha….
“It is remarkable that paternal bookreading, not maternal bookreading, predicted story comprehension, book knowledge and language skills among children.”
“More recent studies found that paternal vocabuarly but not maternal vocabulary was a significant predictor of child language”
“It is reported that fathers used more complex language than mothers when interacting with their children”
“Fathers used more non-immediate talk during during bookreading interactions with their children (at child ages 24, 36, and five years) than mothers. Non-immediate talk goes beyond the context of the book and is known to have an effect on children’s language development”
Bisa disimpulkan bahwa bila ayah yang membacakan dongeng perkembangan bahasa anak jadi lebih bagus. Kaum ayah menggunakan bahasa yang lebih kompleks & lebih imajinatif. Juga sering menggunakan bahasa tak langsung, yang memiliki konteks lebih luas dibanding tema buku yang didongengkan. Sila telaah sendiri hasil penelitiannya.
http://www.mensstudies.info/OJS/index.php/FATHERING/article/view/682 .
(Untuk sementara, karena kita belum membuktikan kesimpulan penelitian tersebut salah, mari anggap saja, mungkin sedikiiiiit saja ada benarnya.)
Lebih luas dari soal baca-membaca. Berkaitan dengan keterlibatan kaum ayah, saya jadi penasaran dengan satu hal.
Banyak sekali pakar pendidikan di Indonesia yang menjadikan negara Nordik sebagai referensi kisah sukses proses pendidikan. Finlandia tepatnya . Namun seringkali pembahasan hanya berkutat pada sistem pendidikan sekolah. Soal jam sekolah sekian jam per hari, soal tidak ada PR, tidak ada ujian dsb…
Mengapa tidak ada yang membahas bahwa mungkin ada keterkaitan antara keluaran sistem pendidikan dengan gaya hidup? Bahwa tugas pengasuhan anak tidak melulu tanggung jawab kaum ibu. Bahwa dengan adanya skema cuti bapak, dari seluruh negara di dunia, negara-negara Nordik mungkin memiliki kualitas tertinggi soal keterlibatan sosok ayah dalam pengasuhan. Terutama dalam periode emas tumbuh kembang anak, 7 tahun pertama kehidupan.
Sudah banyak penelitian yang menunjukkan korelasi positif keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan perkembangan anak. Mungkinkan ini menjadi kunci keberhasilan pendidikan ala negara Nordik? Ketika Finlandia yang cenderung belajar “santai” namun hasilnya bisa disetarakan dengan Korea Selatan dan Singapura yang cenderung belajar “keras”. Apa yang membuat beda?
Apakah mungkin bahwa ada sesuatu yang beda dengan otak anak-anak negara Nordik? Bagian otak yang bertanggung jawab pada “executive functioning”, hal yang sebenarnya paling menentukan kesuksesan seseorang dalam pendidikan, jadi berkembang lebih kuat? Kemampuan mengelola impuls, kemampuan untuk fokus, membuat rencana, “delay gratification, grit, growth mindset, resilience, tenacity, perseverance, etc.. ??” Karena di masa emas tumbuh kembangnya, sosok ayah benar-benar hadir secara intens? Kalau memang ada pengaruhnya, maka mari sebut saja sebagai “The Latte Pappa Effect”. 😀
Pertanyaanya pun kemudian, apakah kesuksesan itu bisa direplikasi di tempat lain?
Buat saya model Nordik adalah utopia. Karena konteks sosial, politik, budaya yang khas, hanya bisa diterapkan di negeri para Viking itu. Berapa harga yang harus dibayar negara untuk menyediakan cuti 480 hari lamanya? Relakah kita membayar pajak penghasilan yang tinggi agar negara mampu membiayai cuti panjang ? Berapa banyak pajak yang malah akan bocor dikorupsi? Angan semu kalau berharap bapak-bapak Indonesia bisa cuti kerja setahun lamanya sambil tetap menerima 80% gaji. Sampai 7 kali lagi ganti Presiden juga rasanya belum kesampaian.
Saya pikir kita harus praktis dan realistis. Cukuplah lakukan satu langkah konkret. Mulai dari satu hal saja.
Yuk, buat para bapak Indonesia, ambil alih pekerjaan mendongeng sebelum tidur jadi tugas rutin Anda. Pekerjaan sibuk? Tiap hari kena macet? Selalu sampai rumah di atas jam tidur anak? Paling tidak lakukanlah di akhir pekan, masa sih masih tidak sempat juga. Entah mengapa saya percaya, kita bisa mulai mewabahkan “The Latte Pappa Effect” ini di Indonesia, melalui satu hal sederhana: dongeng sebelum tidur yang disampaikan oleh para ayah.
Saya percaya, dimulai dengan satu langkah sederhana, “Kisah Negeri Tanpa Ayah di Khatulistiwa” yang sering kita dengar itu hanya akan jadi kisah lawas yang tak lagi sesuai zaman.
Yuk, mulai dari malam ini. Mumpung akhir pekan panjang!
