
(Bandar Seri Begawan, Juli 2016)
Ini pemandangan jalan di depan rumah sehari kemarin. Ketika hampir 300rb penduduk distrik Brunei-Muara memutuskan untuk keluar rumah di hari yang sama di jam-jam yang sama, melewati area yang relatif sama. Hari Raya Lebaran seluruh keluarga di Brunei ini bikin open house. Jadilah mereka saling kunjung mengunjungi. Naik mobil pribadi tentunya karena transport publik di sini mah tak pernah disentuh penduduk lokal (adanya bis yang jarang-jarang, khususon kaum buruh migran macam kita-kita ini lah wkwkw).
Macet merayap begini non-stop sekitar 12 jam lamanya. Baru sekarang saya menyaksikan kemacetan sekaliber ini di Brunei. Kota Brunei-Muara ini luasnya hampir 3.5x luas kota Bandung. Tapi penduduknya cuma 12an% penduduk Bandung. Maka sehari-hari semacet-macetnya jalan protokol di kala rush hour pun gak gitu-gitu amat. Pun lebaran tahun lalu gak lihat macet macam gini, berhubung masih tinggal di area pinggiran di mana populasi monyet lebih banyak daripada manusianya.
Lucu lah pengalaman lebaran tahun ini. Terkunci di rumah gak bisa kemana-mana seharian. Gagal mlipir ke rumah temen arisan buat minta sarapan kupat opor. Jadilah menu lebaran kali ini yang gampang-gampang aja. Spaghetti. Hiks..
Tapi gak papa, dengan menyaksikan ini saya jadi paham, seberapa besar magnitude arus mudik orang Jakarta ke daerah. Itungan bodo-bodoan mah, semacam ini tinggal dikali kosefisien penduduk aja.. 300rb vs 12jt jiwa. 40 kali lipat??! Sampai awal-awal menikah itu saya rutin mudik ke Jogja. Biasa kena macet juga. Yang saya baru sadar itu skala kepadatan yang harus saya tembus saat itu, betapa fantastis sesungguhnya 😱.
Teman-teman yang sedang mudik, semoga senantiasa dikarunia kesehatan & keselamatan. Jangan memaksakaan diri jika kondisi tidak memungkinkan ya. Fi amanillah..Selamat bersilaturahami berkumpul bersama keluarga tercinta. Mohon maaf lahir & batin.
