Soal Vaksin di Brunei

Negeri kecil di ujung Borneo ini menerapkan hukum syariah. Pun merupakan negara dengan pendapatan per kapita tertinggi kedua di ASEAN setelah Singapura. Maka wajar saja, aneka bahan konsumsi yang ada di sana dimonitor dengan ketat supaya memenuhi standar halal dan thayyib oleh MORA (Ministry of Religious Affairs) & MOH (Ministry of Health).

Mereka sangat hati-hati ya. Trolley di supermarket saja tidak boleh dipakai untuk belanjaan NON HALAL. Harus memakai keranjang khusus. Tak heran, bagi warga sana, mode dasar di kepala adalah semua di sekitarnya ya halal. Kecuali yang jelas-jelas bertanda seperti ini. NON HALAL. Jika kita biasanya sibuk mencari logo halal, kalau di Brunei mata lebih otomatis tergerak untuk mencari “logo haram”.

Termasuk soal vaksin. Karena tidak ada tanda coret besar-besar bertulis “NON HALAL”, warga pun menerima bahwa vaksin di sana ya halal & thayyib. MORA & MOH yang bertanggung jawab penuh.

Saya tidak pernah memvaksin anak selama di Brunei dulu. Berhubung sering mudik, ya vaksin di Indonesia sajalah hehe..

Berikut ini catatan vaksin dari teman-teman di sana. Jikalau masih was-was soal kehalalan vaksin (karena mempertanyakan legitimiasi badan pemerintah misal? ), mungkin bisa request merek-merek vaksin yang dipakai di Brunei ini. Negeri syariah masa sih tega menyuntikkan vaksin “haram” ke tubuh warganya?

BCG : BCG, Sanofi Pasteur Canada
HEPATITIS B : Euvax B, LG Life Science Ltd Korea
MMR : Priorix, FIDIA Farmateutici Italy. MMR II, Merck USA
Varicella : Varilrix, GlaxoSmithKline Belgium
Dtap – IPV – Hib – HepB : Infanrix Hexa, GlaxoSmithKline Belgium. Hexaxim, Sanofi France.
Dtap – IPV : Infanrix IPV, GlaxoSmithKline Belgium

*) lebih lanjut soal kehalalan vaksin sila diskusi dengan ustadz & ahli vaksin yang kompeten, saya gak punya ilmunya, ini cuma berbagi sedikit pengalaman saja…