(Bandar Seri Begawan, Oktober 2015)

“… the widespread perception that migrants are a drag on the economy. The logic driving this perception is that migrant workers present additional competition for scarce jobs. This logic, however, is false… “
(Ian Goldin, Director @ Oxford Martin School, University of Oxford)
Nasib jadi fakir visa itu adalah, tiap 3 bulan sekali kudu bolak balik cross border buat dicap paspor. Besok-besok eik dapet payung cantik nih hasil ngumpulin poin frequent visitor nih dari pos imigrasi Kuala Lurah hihihi…
Tapi gapapa sih, Kuala Lurah perbatasan Malaysia-Brunei cuma berjarak 30 menit dari rumah. (Eh kemana-mana di sini memang 30 menit dink, ke pusat Bandar 30min, ke airport juga 30 menit. Buat ukuran orang sini, setengah jam itu udah jauh btw 😀 )
Di luar dugaan, dapet work permit & ijin tinggal di negeri jiran ini ternyata lebih susah dibanding Swedia. Padahal yang satu cuma selemparan telor dari Indonesia, yang satu belasan ribu kilometer di utara jauhnya.
Gosipnya sih, pemerintah sini memang lagi rada pelit ngeluarin permit buat pekerja profesional. Mereka kepingin meningkatkan mutu dan daya saing orang lokal biar mengisi pos-pos di sektor swasta gitu, jadi gak kalah skill-nya sama pekerja-pekerja profesional dari luar.
Sebenernya sih bukan karena kalah soal taraf pendidikan. Orang sini pendidikannya relatif bagus, banyak yang lulusan UK atau Australia, mau sekolah sampe S-cendol di Harpad pun bakal dibayarin negara. Tapi hampir semua orang sini bercita-cita jadi pegawai jabatan negara aka birokrat bin PNS. Jarang yang mau kerja di sektor swasta. Alhasil kalau ada freshgrad nyantol kerja di swasta, konon pada kurang motivasi, cuma buat nungguin pendaftaran CPNS. Jadi ya gitu. Kata temen orang Indonesia yang udah jadi bos di sini, anak buahnya yang orang lokal itu, skill-nya kurang berkembang. (No disrespect to temen2 PNS di Indo, ini lagi ngomongin yg di Brunei yaaa).
Alhasil ya pekerja asing ya tetap saja (kudu) didatangkan. Kalau gak nanti siapa enjinir ahli yang nambang minyak, yang bangun jalan, yang pasang telepon & internet? Dokter spesialis yang jaga di rumah sakit? Bankir piawai yang ngejalanin sektor finansial? Dsb dst dst.. Tanpa pekerja asing (baik kerah biru maupun putih), roda perekonomian negeri Brunei ini dipastikan gak jalan sih..
Jadi sebenernya, sebagai buruh migran dari negara kismin di negara kaya, gak perlu ya kita ni merasa minder, merasa sebagai warga kelas dua. Toh kontribusi ekonomi kita nyata. Jujur sih nih dasar masih mental inlander, kadang ngerasa inferior gitu sebagai pendatang dari Indonesia.
Apalagi jaman dulu di Swedia, welfare state begitu. Sebagai IRT pengangguran, makan tunjangan sosial dari pajak tetangga apartemen sebelah. Walau suami bayar pajak, tapi hampir 80% perempuan di sana juga bekerja dan bayar pajak. Suka jadi ngerasa gak enak nganggur, jangan-jangan ni bule-bule pada senep liat gue, emak-emak pengacara magabut.
Akhir-akhir ini ramai isu soal krisis pengungsi di Eropa, plus gara-gara nasib diri sebagai fakir visa, akhirnya eik penasaran soal isu-isu imigrasi ini. Pertanyaannya yaitu, “apakah eik sebagai imigran di negeri orang ini semacam sampah masyarakat? Beban ekonomi buat negara yang didatangi? Oportunis gak nasionalis penyebab brain drain di negeri sendiri?”
Ketemulah dengan si Prof Ian Goldin ini. Seru sih bukunya. Buat orang awam yang gak ngerti apa-apa soal imigrasi, dan cenderung percaya pada narasi umum bahwa imigrasi itu membawa masalah buat negara penerima (maupun pengirim), beneran membuka mata sih isinya.
Banyak data disajikan (yang sebenernya gak ngerti-ngerti amat), yang menunjukkan bawah imigrasi dalam jangka panjang adalah hal yang “win-win” buat kedua belah pihak. Dalam skala global, kalau negara-negara kaya menyerap pekerja migran dari negara-negara miskin sebanyak 3% saja dari jumlah angkatan kerja mereka, di rentang tahun 2005 – tahun 2025, maka dunia akan menjadi lebih kaya sebesar 356 miliar dollar (World Bank. 2005. Global Economic Prospects: Economic Implications of Remittances and Migration).
Banyak lah data-data macam itu. Yang bakalan mematahkan argumen orang-orang anti imigrasi. Seperti misal di UK, data ILO menunjukkan bahwa populasi mereka yang lahir di luar negara UK, mengkontribusikan 10% lebih banyak pemasukan kepada pemerintah dibanding dengan benefit yang mereka terima (gak tau sih kalo modelnya negaranya kayak Swedia mungkin beda cerita ya? ).
Atau di Kanada, imigran yang bukan pengungsi menggunakan tunjangan pengangguran, tunjangan sosial, dan tunjangan perumahan lebih sedikit dibanding penduduk asli. Bahkan di NZ, imigran dari luar membayar lebih banyak pajak kepada negara daripada penduduk yang kelahiran sana.
Dan buat Donald Trump, paling aneh kalau ada manusia anti imigran datangnya dari Amerika. Diversity boosts innovation. Data tahun 2005, 52% start-ups di Silicon Valley didirikan oleh imigran. 25% dari seluruh perusahaan teknologi & enjiniring di US yang didirikan dari tahun 1995-2005, didirikan oleh imigran. Di banyak perusahaan besar, paten yang diajukan didominasi oleh imigran; di Qualcomm sebanyak 72%, 65% di Merck, 64% di GE, dan 60% di Cisco. Bertebaran deh angka-angka cukup menakjubkan (bagi guwe) di buku tsb.
Termasuk dibahas juga pengaruh imigrasi buat negara pengirim pekerja migran, negara berkembang macam Filipina, Bangladesh, Indonesia dsb. Isunya tentu sekitaran remittance vs brain drain. Seru sih ketika membahas tentang brain drain, gimana misal negara macam India, Taiwan, Korsel bisa mengalami fenomena yang namanya reverse brain drain. Buat India butuh 30 tahun buat mengubah brain drain jadi brain gain, sampai mereka bisa “mindahin silicon valley” ke Banglore. Jadi kalau belum apa-apa kita udah mencap temen-temen diaspora sebagai oportunis nggak nasionalis, tidak sesederhana itu juga sih.
Kesimpulannya, recommended-lah ini buku Prof Goldin. Lumayan buat nambah wawasan buat eksis komen sotoy di FB kalau ada yang ngepost soal isu imigrasi wkwkw.. Yah beginilah motivasi menuntut ilmu kalau hanya hidup di dunia maya, tak punya kejelasan di dunia nyata..:D. Akhirul kata, marilah kita tutup postingan nggak jelas ini dengan sebuah quote dari Prof. Goldin:
“In our contemporary age, the net impacts of migration continue to be positive for both sending and receiving countries, and especially for the migrants themselves. Migration is not without its risks and costs, and it is important to identify these as well as the benefits.”
