Mudik ke Bandung

(Bandar Seri Begawan, Maret 2016)

Si Mbak yang jilbab coklat paling kanan adalah seorang TKW asal Indramayu. Dia mau pulang for good soalnya gak tahan sama majikannya. Bukan disiksa fisik sih, tapi ya gitu lah…”Saya tahan-tahanin dua tahun ini” ujarnya. Pun pelit itu majikannya. Mau pulang ini kopernya digeledah berkali-kali, takut mencuri. Gak dikasi duit jajan. Sabun odol beli sendiri.

Ditanya oleh para mbak di sebelahnya,

“Berapa kamu gaji di sana?”

Dijawabnya, “250.”

“Aihhh, kasian benerrr…,” komentar mereka.

Kayaknya mbak-mbak yang sebelah-sebelahnya mah dapat lebih dari segitu. 250 memang batas bawah buat gaji Amah. Yang mau dikasi basic segitu ya paling TKW asal Indonesia memang. Yang Pinay bisa dapet 400an, menang di bahasa Inggris mereka.

Mbak yang jilbab biru komentar,

“Banyak yang kira semua orang Brunei kaya. Padahal nggak juga ya. Sama aja. Ada yang kaya. Ada yang susah”

“Iya, paham saya itu”, kata mbak jilbab coklat.

“Tapi ini Alhmadulillah, rejeki dari mana aja. Malah mertuanya yang kasih saya ongkos 100. Ponakan-ponakannya ada yang kasi 10, ada yang kasi 30… ”

Dan obrolan ketiga mbak-mbak TKW tersebut berlanjut menjadi obrolan penuh ungkapan syukur, soal pintu rezeki yang tak disangka-sangka ketika merantau. Dari ketemu majikan super baik hati, sampai soal nemu cincin emas di tas bekas yang dibeli di garage sale. Bikin malu sendiri lah, ternyata mereka itu pandai-pandai sekali bersyukur.

Lalu mbak-mbak yang jilbab biru wanti-wanti,

“Hati-hati nanti kalau keluar. Rame-rame kita jangan sendiri. Kamu ada yang jemput kan?”

Biasalah, jaga-jaga, takut kena oknum nakal mereka. Dia cerita pernah kena 600rb sama oknum. Wah, Leha pikir sudah gak ada praktek begitu. Ternyata ya tetap masih kudu waspada ya.

Saatnya boarding, Leha bersiap naik bari jeung rusuh menggiring Tuan & Nona kecil yang gak mau diam itu. Lalu tiba-tiba si Mbak jilbab coklat menegur,

“Mbak, yang rumahnya Bebatik Kilanas ya?”

Lah, kaget Leha. “Lho, kok tahu Mbak”.

Dijawab si mbak, “saya kerja di sebelah rumah mbak. Tapi mbak sekarang sudah pindah, ya?”

Ya Allah, ternyata tetangga sebelah rumah. Dan Leha gak tahu donk. Parah bener. Gak tahu kalau di sebelah rumah ada sodara sebangsa setanah-air yang nelangsa, yang gak betah di perantauan. Tau gitu kan bisa ngobrol-ngobrol atau apa gitu kek. Malu hati ternyata parah bener level asosial si Leha 😥😥😥.

Setelah boarding, duduk manis. Pasang seatbelt dan aneka ritual siap-siap take off. Kalau naik Royal Brunei ada sesi baca doa bersama. Versi panjang dari Bismillahi majreha wa mursaha…

Dan, lama nunggu, kok pengumuman kapten mau lepas landas gak muncul-muncul juga. Majikan kecil udah pada rusuh. Tiba-tiba muncul pengumuman, penumpang disuruh turun lagi semua. Kaptennya ngerasa gak nyaman, perlu cek ulang mesinnya. Weleh….

Jadi deg-degan donk. Soalnya belum lama kemarin memang ada insiden. Pesawat RBA jurusan London via Dubai, pulang lagi ke Bandar setelah 1 jam di jalan. Salah satu mesinnya tiba-tiba mati. Pesawat long-haul kalau gak salah sebenarnya mesinnya ada 4 kan ya? Setelah itu banyak flight yang dicancel dan reschedule. Kayaknya langsung maintenence gede-gedean si RBA. Termasuk kemarin itu. Sepertinya mereka jadi lebih ketat soal mesin. Akhirnya penerbangan delay 2 jam. Cek mesin (plus sholat jumat dulu kalik). Dan ternyata false alarm kata kaptennya, pesawat baik-baik saja. Alhamdulillah, terbang nyaman dan selamat sampai Indonesia.

Sekian serba-serbi perjalanan mudik kali ini. Sudah sampai Bandung ni. Leha mau jajan cuanki anget dulu, habis hujan kayaknya enak nih sambil malam mingguan… (karo sopo?? Pacare keri nang Brunei wkwkw…)