(Bandar Seri Begawan, Maret 2016)
Malam itu tidak ada Pho yang terhidang di meja. Menu Si Nguyen berupa ikan hasil tangkapannya di sungai. Tumben sekali ikan goreng. Nah, kalau kita orang Indonesia menggoreng ikan itu butuh minyak 1 Liter, maka buat Nguyen cukup 1 sendok makan saja. Lebih tepat dinamakan menumis memang. Maka setelah “Sop Mujaer” , ucapkan selamat datang pada “Tumis Mujaer”. Way to go Nguyen! Semoga segera sampai ke level ultimate, “Mujaer Goreng Crispy”.

Sambil makan tiba-tiba dia cerita. Bahwa belum lama kemarin, ada insiden heboh di negaranya. Insiden yang tentu saja tidak masuk berita resmi. Tapi beredar di forum gosip bawah tanah dunia maya. Seorang petinggi pemerintahan, semacam Tax Agency gitu, melakukan tabrak lari. Tabrak lari beruntun. Nabrak satu, panik kabur, lalu nabrak lagi yang lain. Katanya ada beberapa orang korban meninggal. Dan si oknum pejabat, telah membayar sesorang untuk mengaku sebagai pelakunya. Walau saksi mata ada, sampai rekaman CCTV lampu merah pun ada, ya tidak ada yang berani berbuat apa-apa, selain bergosip di forum dunia maya. “No government officials will ever go on a trial! If they commit a crime, they’ll always get away with it”.
Hampir tiap hari ada aja cerita dia soal betapa korup dan tirannya itu pemerintah Partai Komunis di negerinya. Nguyen ini memang kurang cocok kalau direkrut sebagai PR & Marcom pemerintah Vietnam. Bisa turun nilai FDI, pun merosot angka turis mancanegara.
Dia selalu cerita. Hidup di Vietnam itu susah. Keluarganya petani desa biasa, bukan orang kaya yang dekat dengan pemerintah. Kalau mau kaya di Vietnam, menurut dia sih harus dekat dengan kekuasaan. Semacam lingkaran sebenarnya. Kalau kaya ya pasti didekati sama kekuasaan. Pejabat-pejabat korup bakal muncul depan pintu buat “menarik pajak”. Si Nguyen pernah cerita, salah satu alasan kenapa Vietnam dibanjiri sepeda motor karena itu. Kalaupun semisal mampu beli mobil, banyak yang memilih gak beli. Selain karena bensin mahal di Vietnam, ya takut ketauan kalau punya duit. Kalau kelihatan punya duit, siap-siap aja bakal ditarikkin pajak oleh polisi di jalanan. “For no reason, they will just stop you on the street and ask for money!”
Mungkin karena biasa hidup susah, Si Nguyen ini memang beneran irit. Contohnya saja, bajunya cuma sedikit. Kalau dikumpulkan, jumlah ciput jilbab Leha pasti dijamin lebih efektif menuhin koper dibanding seluruh koleksi baju Nguyen. Minimalis. Alas kaki yang keliatan cuma ada tiga. 1 sepatu kantor merek Hong Thang ( atau apa ya? sesuatu aksara Vietnam gitu) , 1 sepatu jogging butut, dan 1 sendal jepit. Kalo mejeng ke mall dia pake apa? Kaos oblong, celana pendek dan sendal jepit. Gimana gak sukses menyamar jadi tukang jala ikan profesional. Tidak ada yang akan menyangka si Penjala Ikan itu, sesungguhnya berslip gaji hampir sepuluh ribu dolar SGD per bulannya!
Nguyen hidup hemat, gak pernah party-party, karena memang dia perlu nabung di negerinya. Dia bangun rumah untuk keluarga besarnya. Beli ladang buat bertani. Menyekolahkan ponakannya. Belanja buat ibu bapaknya. Tiap dia mudik yang tak lupa dibawa dari Brunei adalah berkaleng-kaleng susu diabetes buat ibunya. Ya gimana dari 9 (atau 11 bersaudara, lupa) cuma dia yang kuliah dan sukses. Saudara-saudaranya yang lain hmm.. . Kayaknya gitu-gitu aja nasibnya.
Tapi Leha tetap penasaran. Kenapa Si Nguyen kalau cerita soal negaranya negatif melulu. Bukankah banyak berita bagus soal Vietnam akhir-akhir ini? Paling tidak dalam lingkup Asia Tenggara gitu?
“But Nguyen, I saw so many good news about your country. They seem to always talk about Myanmar, then Vietnam…??”
“Well, I agree on Myanmar . They have a new leader now. A good one. But Vietnam.. Don’t trust the news! Some people in my country even need to find jobs in Cambodia. Man, Cambodia?!”
Cari kerja susah di Vietnam. Sebagain besar sektor ya dipegang pemerintah. Swasta hanya sedikit. Maka semua orang berlomba jadi PNS. Tapi menurut si Nguyen, pemerintah Vietnam pun sebenarnya sekarang tidak punya duit. Walau sumber daya alam melimpah, tanah subur industri manufaktur berkembang, dll. Tapi saking banyaknya korupsi dan aneka inefeisiensi, duitnya habis. Pemerintahnya masih bisa jalan terus karena dapat dukungan dana dari Tiongkok. Berkaitan dengan melambatnya ekonomi Cina, Si Nguyen bikin penerawangan soal efeknya ke pemerintahan komunis di negaranya. “You see, end of this year. They’re done. They’re broke!”. Segitu anti sama pemerintahnya memang dia.
Lalu teringat ada artikel yang bahas soal kebangkitan kelas menengah Vietnam. Soal industri penerbangannya yang semarak karena mulai banyak orang yang mampu beli tiket pesawat. Soal anak-anak mudanya yang seperti di belahan dunia lain, berlomba-lomba bikin start-up company.
“I heard that more people in Vietnam are flying now. The airline industry is booming. Isn’t that a sign that a lot of people are now getting richer, Nguyen? “
Dan Si Nguyen akan cerita panjang lebar. Bahwa memang banyak OKB di Vietnam. Tapi lagi-lagi isu klasik. Berapa persen sih dibanding jumlah rakyatnya? Menurut Si Nguyen, kalau ada angka-angka bagus soal Vietnam. Pertama, curigailah bahwa datanya palsu. (Hahaha, dia mah begitu orangnya). Kedua, kalaupun benar adanya, sesungguhnya itu angka bagus terjadi hanya berpusat di kelompok itu-itu saja. Mereka-mereka yang ujung-ujungnya punya kedekatan dengan Partai Komunis yang berkuasa.
Rakyat kebanyakan di Vietnam ya masih hidup susah. Dasar polos, Leha kira kalau komunis ya pasti bakal sosialis. Walau tidak sebaliknya. Sosialis dalam bayangan Leha ya macam negara-negara di Eropa gitu. Pendidikan gratis, kesehatan gratis. Kebijakan pajak progresif dipakai buat mensejahterakan rakyat. Tapi kata Si Nguyen, mana ada gratis, keluar duit semua itu di Vietnam. Teringat dia cerita bapaknya perlu pinjam uang ke Bank , waktu itu tahun 2002, perlu sebesar 300 usd buat membayar uang masuk kuliahnya.
Kalau memang pemerintah sekarang segitu korup & tiran, Leha tanya ke Nguyen. Memangnya gak ada tokoh pionir perubahan? The voice of change gitu? Ada kata Nguyen. Banyak. “But they’re all in jail!”. Dan Nguyen mulai bercerita. Soal penulis lagu yang dipenjara, dijejal 2 tahun karena menulis 6 baris syair kritik. Ada pula bocah 15 tahun, dipenjara karena iseng mengibarkan bendera Saigon. Blogger yang menulis kritik lalu jadi hidup tak tenang karena terus-terusan dikuntit intel. Sampai cerita soal lawan politik Partai Komunis, yang meninggal KGB – style. Hari ini sehat, besoknya divonis kanker, tak lama kemudian kemudian mati mengenaskan. Bahkan lucu, berkaitan dengan isu perebutan wilayah Laut Cina Selatan. Menurut Nguyen, kalau ada warga berdemo di ibukota membela Vietnam dalam konflik dengan Cina tersebut. Maka dia akan ditangkap. Karena membela negaranya sendiri. Di dalam negaranya sendiri. Oleh pemerintahnya sendiri.
Kalo sudah ngomongin pemerintah Cina, si Nguyen ini memang sengitnya luarbiasa. Kalau tulisan ini dah macam propaganda anti Beijing, salahkan nara sumber tunggalnya, Si Nguyen. Leha mah atuh apa urusannya hehe… Dia suka cerita, kalau di negara lain soal isu soal susu bermelamin, beras plastik, atau apalah bahan makanan beracun yang berasal dari Cina hanya sesekali muncul. Di negaranya bertebaran produk-produk begitu. Semacam kalau barang reject, ga diterima di negara lain, bakal dilempar ke Vietnam.
“But Nguyen, lots of things in Brunei are from China as well. Carrots, Broccoli, Tangerines, you name it! “
“It’s different. It’s strictly monitored here. In Vietnam, they bribe the officials, then dump all the bad stuffs there “
Dari perspektif Nguyen, Leha jadi berpikir. Rumit sekali hidup di Vietnam. Pantes banyak yang kabur ke luar negeri banyak yang tak kembali. Sementara serumit-rumitnya hidup di Indonesia, kebanyakan perantauan menyimpan mimpi untuk kembali, menikmati pensiun di tanah air.
Tidak adil memang kalau melihat Vietnam hanya dari kacamata seorang Nguyen. Belum tentu valid juga semua informasi yang dia ceritakan. Vietnam tampak jadi suram, ya memang dilatarbelakangi pengalaman hidupnya yang rada pahit.
Begitulah sekilas cerita dari Nguyen, seorang Engineer Telco di Brunei asal Vietnam.
