Absurd Conversation Over a Bowl of Pho

(Bandar Seri Begawan, Maret 2016)

Sebut saja namanya Nguyen. Hampir setahun belakangan ini dia jadi teman masak si Leha di dapur. Dia itu orang Vietnam yang kebetulan lagi nguli di negeri Sultan. Sama-sama penghuni Rumah Kilanas (dulu) & Rumah Lambak (sekarang). Bedanya, kalo si Leha beneran babu dapur. Kalau si Nguyen ini sebenarnya seorang Engineer radio di sebuah vendor Telco. Hanya saja dia hobi di dapur. Tiap hari masak minimal dua kali. Makan siang dia sempatkan pulang dulu buat masak. Makan malam ya masak lagi. Gak pernah jajan ni orang. Entah irit atau memang doyan.

Yang lucu, selain masak sendiri. Dia juga getol nanam sayur sendiri. Bawang daun sampai pucuk labu. Kalau dulu, Rumah Kilanas punya halaman yang lumayan lega. Labu yang dia tanam daunnya menjalar luas, pun sampai berbuah beberapa kali. Ada yang berhasil dia panen, ada juga yang sukses dicolong monyet hutan belakang rumah. Suatu kali dia datang ke dapur sambil marah-marah. “There should be 3 pumpkins you know! The monkey bit this one. And ran away with another one!” Dan itu labu yang udah kroak digigit monyet, dia potong-buang setengah, dan sisanya dia bikin sup. Gusti Si Leha begidik. Berdoa dalam hati, semoga monyetnya kagak rabies.

Si Nguyen ini memang manusia agraris. Selain bercocok tanam, dia pun punya hobi ngejela ikan di sungai dan menangkap kepiting di Laut. Kadang jam 4 sore dia sudah muncul di rumah, memboyong ember & jala dari gudang. Magrib dia sudah kembali lagi. Kali ini dengan seember ikan sungai atau beberapa ekor kepiting pantai. Kemampuan menjalanya agak fenomenal memang. Sampai-sampai suatu kali si Leha menemukan dia di sebuah acara arisan orang Indonesia. “Hah, ngapain ini ada si Nguyen di sini?” Telisik punya telisik. Dia sengaja diajak oleh para bapak-bapak Indonesia, khusus buat acara ngejala ikan di sungai belakang. Yang mana selain ngejala, dia pun ikutan bersihin ikan sampai ngebakarnya pula. “Kerja keras memang ni Vietnam,” seloroh bapak-bapak Indonesia. Sementara para bapak-bapak itu paling cuma berhasil rendeman di sungai sampai se-mata kaki, ogah basah, si Nguyen bakal all out berenang ke tengah sungai buat nebar jala. Kontras, wkwk..

Karena sering masak bareng di dapur. Si Leha jadi suka mengamati macam apa si orang Vietnam kalau masak. Juga jadi tau kalau Pho (noodle) seharusnya dilafalkan “Fe. ” Kirain dibaca “Po,” macam tokoh utama di Kung Fu Panda. Citarasa Vietnam cenderung bening ya. Bumbu andalan dia paling bawang putih, sereh jahe, jeruk nipis & kecap ikan. Gak pernah aneh-aneh macam orang Indonesia yang perlu 1001 macam rempah buat bikin bumbu rendang. Rebus-rebusan adalah makanan dia sehari-hari. Jarang banget dia bikin goreng-gorengan. Pertama kali si Leha liat ada orang bikin sup bening ikan Mujaer itu ya si Nguyen itu lah. Beda sama Gurame yang banyak dagingnya jadi enak kalo disop, Mujaer kan lebih hambar dan banyak duri . Kalo kita orang Indonesia, pasti sudah dibumbu kuning lalu digoreng kering. Plus nasi anget & sambal terasi hehe..

Kadang gak bisa ditebak memang. Percakapan absurd yang muncul dalam rentang dapur & meja makan. Bisa ngelantur ke mana-mana. Dari soal remeh macam cuaca sampai soal politik internasional. Lucu lah aneka ria obrolan dengan si Nguyen ini. Dia benci setengah mati sama pemerintah negaranya. Alias partai komunis yang berkuasa. Yang mana menurut dia adalah boneka dari Partai Komunis negeri Tiongkok. Namun si Nguyen selalu menekankan. “I don’t dislike China as a nation. Nothing against its people. You know just like in every country, you have good people and bad people. It’s the government. The communist party. They’re crazy!”

Maka suatu ketika di hari Sabtu sambil ngupas udang:

“Hei, Nguyen! Did you buy those in Jerudong fish market?”
“Ya I did, just went there this morning.”

Si Nguyen ini juga hobi ke pasar ikan. Kalau Leha loba gaya memang, males kena becek, jadi lebih sering belanja ke supermarket sebelah.

“I couldn’t find fresh fish in the spm. Did you see many fish in Jerudong, Nguyen?”
“uhmm.. Prawn a lot… But fish, I guess not so many.. “

Percakapan pun berlanjut ke soal mengapa ikan lagi langka. Kalau menurut Leha itu sepertinya karena cuaca, ombak lagi tinggi. Nelayan sulit melaut jauh-jauh.Teori yang biasa berlaku di pasar Indonesia kalau ikan mendadak sepi. Tapi beda menurut si Nguyen. Kalau kata dia itu adalah gara-gara isu rebutan wilayah Laut Cina Selatan yang memanas. Nelayan Brunei menurut dia jadi takut melaut ke arah sana. Soalnya sekarang banyak Patroli tentara Cina yang (masih menurut dia), sekarang mulai gak segan nembakin kapal asing. Ibarat kalau di kita Bu Susi nenggelamin kapal illegal fishing ya gak mungkin sama nelayannya ditenggelamin juga. Ini kalau tentara Cina (menurut Nguyen) gak nunggu nelayannya turun dulu, masi pada di dalam bisa sudah ditembakin kapalnya. Lucu banget lah si Nguyen ini, gak ada ikan di pasar Brunei juga gara-gara salah Partai Komunis di Cina.

Dipikir-pikir kalau dia benci sama partai komunis ya wajar juga sih. Pengalaman hidup pribadinya sama pemerintahan komunis Vietnam rada tragis. Dia pernah cerita, jaman dia kecil. Tentara datang ke rumah menodongkan senjata ke bapaknya. Lalu ada cerita pamannya yang ditembak di kepala karena menolak bergabung jadi tentara, tapi ajaibnya selamat

Juga soal betapa susahnya hidup saat dia kecil dulu. Si Nguyen ini seumuran sama Leha. Ya lahiran tahun 80an gitu lah. Jaman dia kecil, konon saking miskinnya, dia suka gak pakai baju kalau di rumah. Baju disimpan diawet-awet soalnya buat pergi sekolah. Di rumah baju diprioritaskan buat dipakai sodara-sodaranya yg perempuan. Nah kalau sudah kekecilan baru deh ada yang dilungsur ke dia. Maka jaman kecil kalau dia pake rok perempuan, ya memang terpaksa.

Lalu soal dia kelaparan karena gak ada makanan di rumah. Seharian bapak ibunya pergi kerja ke ladang. Barulah dia makan pas bapak ibunya pulang bawa pisang. Dia ingat, saking lemasnya, dia gemetaran pas ngupas itu kulit pisang. Takjub juga kadang gimana roda kehidupan berputar. Bahwa 20 sekian tahun yang lalu si Nguyen ini anak desa miskin yang bajunya rok lungsuran. Sedang kini dia bisa jadi pekerja profesional bertaraf internasional, gak kalah dengan engineer India, Amerika, maupun Eropa. Rate pun skill-nya bersaing.

Kalau orang dari dua bangsa berbeda berkumpul di meja makan pasti tidak luput dari cerita soal negara masing-masing. Lalu banding-bandingin. Indonesia dengan aneka rupa warna-warninya. Dan si Nguyen bakal cerita macam-macam pula soal negaranya. Entah mengapa, kalau dengar cerita dia impresi yang timbul agak beda dengan kalau baca berita. Di media ada berita soal pertumbuhan ekonomi Vietnam yang konon tertinggi kedua di ASEAN dan betapa bakal ketinggalannya Indonesia, kalah bersaingnya kita di pentas regional bahkan bila dibanding Vietnam. Kalau baca berita, (apalagi berita analisis aneka pakar dadakan di timeline sosmed), kadang jadi hopeless dengan masa depan bangsa. Namun kalau dengar cerita langsung si Nguyen ngomel aneka perihal serba-serbi kehidupan di negaranya, Leha masih bersyukur banget lahir sebagai orang Indonesia 😂.

Soal mengapa bisa begitu? Cerita apa saja si Nguyen. Tar lanjut lagi ya… Si Leha mau bikin pancake dulu buat sarapan para majikan. Cuma kali ini di dapur gak ditemani si Nguyen. Lagi mudik dia, kangen mau ngejala di Ha Long Bay mungkin. Makanya berani gosipin, soalnya lagi gak ada orangnya hehe…