Mari Berhenti Mengglorifikasi Matematika

Kemarin habis nonton The Imitation Game. Film tentang Alan Turing. Lalu jadi kepikiran satu hal. Betapa budaya pop juga ikut berkontribusi menanamkan stigma yang sampai saat ini masih mengakar kuat di masyarakat kita. Bahwa matematika itu susah. Hanya untuk mereka yang pintar saja, atau bahkan jenius.

Aku pun akhir-akhir ini baru sadar. Masih harus bergulat ketat dengan stigma tersebut. Merasa tidak sepintar itu untuk bisa paham matematika, statistika, juga pemrograman.

Sampai saat ini kumasih juga tak kunjung beranjak dari ”denial”, bahwa ternyata Cognitive Science itu banyak sekali menggunakan pendekatan komputasional. Artinya, ketemu banyak sekali pemodelan matematika, statistika dan sangatlah perlu menggunakan bahasa pemrograman. Semua itu semacam alat mendasar saja, kebutuhan pokok bak sembako beras dan minyak goreng, bukan perkara soal jenius-jeniusan.

Padahal ya, asal muasal kenapa terjerembab di jurusan ini adalah ketertarikan terhadap bahasa. Tentang gimana manusia (terutama anak) bisa punya kemampuan berbahasa. Pola pikir yang bentukan generasi Orba ini masih sulit sekali menerima. Bahwa di zaman kiwari ini, ternyata untuk memahami bahasa perlu sekali pendekatan komputasional.

Profesor-profesor di kampus bahkan percaya bahwa bahasa adalah titik temu. Letak masa depan keilmuan yang digembar-gembor sedang hits itu, si data science. Sampai-sampai mereka bikin departemen baru, tempat jurusan Cognitive Science ini menginduk. Departemen yang namanya Digital Humanities. Di bawah Faculty of Arts. Isinya semacam peleburan beberapa bidang keilmuan. Campur sari sungguh. Linguistik, ilmu komputer, data science, filsafat, pun bahkan neurosains.

Ini semua mungkin bagian dari ’trauma’ pendidikan. Sepanjang pengalaman pendidikan di masa lalu dulu, stigma bahwa matematika hanya buat anak pintar di sekolah sungguh menghujam kuat. Dari kecil waktu SD terngiang jelas, kalau mau dibilang anak pintar itu artinya harus paripurna nilai matematikanya.

Teringat dulu waktu SMA. Mereka yang paling pintar-pintar di sekolah bakal masuk ITB. Jurusan Informatika atau Elektro. Teringat pula waktu kuliah. Kebetulan masuk jurusan Teknik Industri. Mereka yang paling pintar-pintar akan masuk di lab X dan Y. Yang satu lab pemodelan. Yang satunya lab yang banyak urusan sama pemrograman.

Aku tidak pernah mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari golongan itu. Alhasil nampaknya, jauh di alam bawah sadar sana, ada hambatan psikologis. Bahwa memang tidaklah cukup pintar buat menguasai matematika. Pun statisitika. Juga pemograman.

Tapi kemudian saat ini dihadapkan pada kenyataan. Bahwa matematika, statistika dan pemrograman itu tidak lagi peduli soal glorifikasi kejeniusan atau kepintaran. Hanyalah bagian dari alat yang memang mendasar dan perlu. Kalau di kasusku, buat memahami sesuatu yang padahal dulu di sekolah selalu diposisikan berlawanan dengan matematika. Bahasa.

Yang lebih konyol sebetulnya. Si hambatan psikologis itu bukan bikin benar-benar tidak bisa, mempelajari matematika, statistika atau pemgrograman. Tapi bikin percaya kalau kita tidak BERHAK untuk bisa.

Sedikit-sedikit, walau bingung pusing nggak karu-karuan, tapi sebetulnya bakal ada juga yang diserap sama otak mamak drakor ini. Tapi yang namanya trauma itu bikin rendah diri. Di bawah sadar sana ada suara sumbang yang bilang kamu tidak BERHAK untuk bisa. Karena kamu bukanlah golongan anak pintar ataupun jenius itu tadi.

Namanya anak Orba di Jawa, masyarakat yang sangat hierarkis. Semacam ada inferiority complex yang sukar hilang. Bahwa kita harus menempatkan diri di ’tempatnya’ masing-masing. Sekalinya masuk bagian golongan remah rempeyek. Ya mbok terima takdirnya di situ saja.

Nah ujungnya sebetulnya, kamu mungkin sedikit-sedikit mulai bisa. Barang ini itu metode apalah (percayalah, kalau belajar terus ya pasti bisa juga ujungnya). Tapi… Kamu nggak PD, nggak berani unjuk kebisaanmu.

Nah ini sungguh konyol. Tragis. Karena kamu sebetulnya bisaaaa lho! Tapi cuma karena rendah diri, ya nggak benar-benar bisa mekar merekah indah semua potensimu itu. Suara lirih akibat ketidakPDanmu itu bakal tergilas habis sama suara lantang mereka yang sebetulnya juga nggak ngerti-ngerti amat tapi PD-nya selangit :D. Sungguh, beban trauma psikologis tumbuh besar dalam rezim diktatorisme itu beragam macamnya. Banyak yang harus diurai satu persatu keruwetannya hahaha….

Habis nonton soal Alan Turing ini juga jadi teringat. Salah satu teori yang sering dibahas waktu jaman kuliah di EdGlo dulu. Soal self efficacy-nya Albert Bandura. Juga kaitannya dengan kecemasan bermatematika. Intinya, sudah banyak penelitian yang bilang. Tidak percaya diri kalau mampu menguasai matematika itu berkelindan erat dengan kecemasan bermatematika, yang pada ujungnya memang bikin performansi murid jeblok. Dan betapa stigma bahwa matematika itu sulit, hanya untuk anak pintar, anak jenius berperan besar dalam menciptakan kecemasan bermatematika di kalangan anak-anak kita.

Sudah saatnya kita tidak lagi mengglorifikasi matematika sebagai sesuatu yang butuh kemampuan dewa, yang hanya akan dikuasai mereka yang selevel Alan Turing. Glorifikasi terhadap matematika sama sekali tidak membantu membumikan matematika. Justru hanya akan membuat matematika semakin terpisah dari realita keseharian.

Berusaha bikin kesan bahwa matematika itu ’biasa’ aja, ini bukan untuk mengecilkan peran matematika ya. Bukan karena matematika tidak penting. Justru karena semendasar itu pentingnya. Sepenting beras dan minyak goreng. Harus tersedia untuk semua.

Ibu-ibu penggemar drakor ini juga kemarin akhirnya harus baca soal Universal Turing Machine. Gara-gara ikut kuliah Cognitive Modelling. Gara-gara perlu, buat memahami, kenapa si Oppa Hyun Bin bilangnya sarangaheyo tapi di kutub sini Babang Kimi bilangnya mä rakastan sinua.

Iya, sepenting dan semendasar itulah matematika. Kalau semua orang toh ujungnya bisa juga berbahasa, begitu juga dalam hal bermatematika. Kita semua juga pasti bisa. Tidak harus jadi Alan Turing buat ikut asyik bermatematika.