Kalau melihat pernyataan berikut: “angka heritabilitas dari tinggi badan adalah 80%.”
Apakah kita secara intuitif akan berpikir bahwa faktor genetik berperan sebesar 80% dalam menentukan tinggi badan seseorang? Sisanya yang 20% ya peran faktor nongenetik, lingkungan, nutrisi, olahraga, dan lainnya?
Ternyata iya, banyak orang akan cenderung berpikir begitu. Semua itu gara-gara melihat kata “heritabilitas.” Kita yang awam, bukan berkutat di bidang genetika, cenderung akan berasumsi bahwa pernyataan tersebut bermakna sedemikian.
Saya juga selama ini berpikir seperti itu. Sampai saya baru tahu kemarin. Bahwa ternyata selama puluhan tahun itu saya salah paham! Terjebak dalam sesat pikir yang namanya “the heritability fallacy.”
Pernyataan tadi ternyata tidak bisa diartikan bahwa faktor genetik berperan sebesar 80% dalam menentukan tinggi badan seseorang, 20%-nya kontribusi faktor nongenetik .
Sekarang, ganti frasa “tinggi badan” tadi dengan kata “kecerdasan.”
Misal, ada pernyataan bahwa heritabilitas kecerdasan itu sebesar 80%. Dengan cara berpikir yang salah tadi, saya akan beranggapan bahwa kecerdasan itu 80% ditentukan genetik bawaan orok yang sudah tetap. Hanya tersisa ruang sebesar 20% untuk berbuat sesuatu mempengaruhi kecerdasan lewat nutrisi, pengasuhan, pendidikan dan lainnya.
Konsep heritabilitas ternyata tidak untuk menjelaskan seberapa besar proporsi faktor genetik dibanding proporsi faktor lainnya dalam mempengaruhi munculnya sifat tertentu.

Heritabilitas bicara soal variansi. Angka tadi menunjukkan bahwa 80% variansi perbedaan tinggi badan di suatu populasi bisa dijelaskan oleh perbedaan genetik. Kalau misal di dalam populasi tersebut semua orang punya komposisi genetik identik macam hasil kloningan, maka besar variansi tinggi badan yang muncul di populasi tersebut akan tinggal 20% dari angka sekarang (Mitchell, 2018, p. 25).
Namun, ternyata heritabilitas itu tidak bisa diartikan begini: tinggi badan seseorang 80%-nya dipengaruhi oleh faktor genetik, sisanya yang 20% pengaruh faktor lingkungan. Pun karena angka variansi, heritabilitas ini relevan ketika bicara soal populasi, tapi tidak memberi banyak informasi buat kita di level individu.
Bingung? Sama! Heritabilitas memang konsep kompleks yang perlu pengetahuan statistika dan genetika untuk benar-benar memahaminya. Saya juga sampai sekarang tidak paham apa maksudnya. Biar yang kompeten di bidangnya saja yang menjelaskan lebih lanjut. Yang jelas buat saya ya cuma tadi, pengertian saya sebelumnya itu salah total.
Banyak ahli sendiri yang mengingatkan bahwa konsep heritabilitas ini beresiko besar disalahpahami ketika masuk ke ranah populer (Moore & Shenk, 2017). Media seringkali mengutip jurnal ilmiah dengan serampangan dan membuat publik salah paham.
Masih ingat dengan berita yang sempat viral, kecerdasan anak diwariskan dari pihak ibu? Tanyakan pada ahli genetika yang kompeten, apa benar mekanismenya sesederhana judul berita click-bait begitu. Entah ada hubungannya tidak dengan konsep heritabilitas, tapi itu salah satu contoh saja, bahwa banyak hasil riset genetika yang dikomunikasikan ke publik dengan serampangan hingga kemudian jadi mitos yang lestari.
Saya jadi teringat sidang disertasi di kampus yang pernah saya ceritakan tempo hari. Sebetulnya dia adalah doktor bidang psikologi dan neurosains. Mungkin karena hobi riset ia menulis disertasi ketiganya di bidang pendidikan dengan topik seputar self-directed learning.
Pak penguji sempat mengkritisi pernyataan di dalam disertasinya yang mengutip angka heritabilitas sifat self-control adalah sebesar 80%. Apa maksud dari pernyataan tersebut, mengapa tidak ada penjabaran lebih lanjut?
Menggunakan angka heritabilitas di komunitas ilmuwan neurosains mungkin tidak jadi masalah. Namun, mengutip angka sedemikian untuk karya ilmiah yang kemungkinan besar akan dibaca para mahasiswa pendidikan, tanpa penjelasan panjang dan aneka disclaimer yang menyertai, ini bisa memicu salah paham.
Kita sebagai pendidik bisa-bisa putus harapan duluan, bahwa peluang menumbuhkan sifat self-control pada anak lewat pengasuhan pendidikan hanya tinggal sisa 20% saja, karena 80%-nya sudah ditakdirkan oleh gen bawaan lahir. Implikasinya bisa panjang kalau pendidik sudah punya pola pikir mandeg, plus ekspektasi rendah terhadap anak didik semacam ini.
Pak penguji ingin mengingatkan bahwa kurang berhati-hati dalam mengkomunikasikan konsep heritabilitas ini bisa mencipta masalah. Berpotensi membuat makin rancu perdebatan publik soal “nature versus nurture.” Pun melestarikan “fixed mindset” di kalangan pendidik, guru dan orang tua.
Aneka konsep dalam ilmu genetika ini memang sangat kompleks. Sebagai awam, kita perlu sangat berhati-hati dan jeli ketika membaca berbagai informasi sains populer di media. Tidak semua peneliti, komunikator sains, jurnalis, teliti menjelaskan suatu konsep dengan benar pada publik. Salah paham soal terminologi dasar seperti ini, bisa-bisa bikin kita punya pola pikir yang tak tepat, pun salah kaprah dalam praktik keseharian.
“Innate: How the Wiring of Our Brains Shapes Who We Are” by Kevin J. Mitchell. https://a.co/eLdQnYV
The Heritability Fallacy. doi: 10.1002/wcs.1400
