Bagaimana Otak Kita Membaca di Era Digital?

(Helsinki, Mei 2021)

Beberapa waktu lampau khalayak tanah air ramai membahas sebuah peristiwa konyol nan miris. Desas desus babi ngepet di Depok yang ternyata terbukti kabar palsu yang direkayasa oknum. Tak tanggung mengherankannya, oknum penyebar berita bohong ini mengaku berprofesi sebagai Ustadz. Motivasinya menyebar berita palsu ini adalah supaya pengajiannya semakin ramai didatangi oleh jamaah.

Respon kebanyakan kita, antara tertawa geli hingga sungguhan prihatin tak habis pikir. Di mana akal sehat. Di mana kemampuan berpikir kritis. Di mana peran literasi, di mana peran pendidikan. Di mana etika. Entah ke mana perginya itu semua.

Kejadian semacam itu menunjukkan semakin mendesaknya pendidikan literasi kritis bagi anak-anak kita. Terlebih di era digital ini di mana informasi begitu cepat menyebar. Tentu kita tak ingin anak-anak kita menjadi korban santapan berita palsu (apalagi Ustadz palsu). Membekali mereka dengan keterampilan yang tepat pun menjadi tugas yang tak bisa ditawar lagi.

Tanggung jawab kita sebagai pendidik dan orang tua memang semakin berat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses kognitif dan afektif yang terjadi di otak manusia saat membaca media digital ini berbeda dengan ketika kita membaca media kertas. Sifat media digital yang serba cepat nan maya ini membuat kita kehilangan apa yang disebut oleh pakar neurosains Maryanne Wolf sebagai “kesabaran kognitif.”

Saat membaca media digital kita cenderung melakukan skimming, menyusur cepat bacaan. Mata cenderung membuat jalur seperti huruf F atau huruf Z di mana kita mulai dengan mengenali kata kunci pembuka, turun cepat ke bawah mencari kesimpulan, kalau perlu kembali ke bagian tengah tulisan hanya untuk pilih-pilih fakta yang mendukung (cherry picking).

Membaca di era digital juga mengundang perilaku multitasking. Statistik bicara bahwa anak remaja zaman sekarang mengalami distraksi hingga 27 kali dalam satu jamnya. Media digital memang didesain untuk mengkapitalisasi bias manusia yang gemar hal baru. Menggulir cepat linimasa sambil membuka beberapa jendela secara bersamaan sudah jadi kebiasaan kita semua. Fokus sudah jadi barang langka.

Perilaku membaca di era digital ini berpotensi membuat kita melewatkan detail fakta penting, atau bahkan salah kaprah memahami suatu konsep. Kita beresiko kehilangan kemampuan membaca secara mendalam (deep reading). Berpikir kritis, memahami lapis-lapis analogi, menyesapi kompleksitas emosi, menghikmati refleksi, semua itu semakin minim hadir dalam kegiatan membaca kita saat ini.

Kebiasaan membaca seperti ini tak hanya membuat kita rentan jadi korban berita palsu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah lenyapnya empati dari perjumpaan kita. Dunia maya menjadi ruang yang penuh kebencian, miskin welas asih. Kita kesulitan untuk menempatkan diri di posisi orang lain, memandang sesuatu dari perspektif berbeda. Alhasil, kita begitu mudah berkonflik, terpolarisasi, diadu domba, menjadi pion yang gampang disetir oleh pihak-pihak amoral di luar sana.

Lalu, dengan segala tantangan di hadapan mata, bagaimana masa depan “kemampuan membaca” anak-anak kita? Apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai orang tua? Apakah kita harus melarang anak-anak bersentuhan dengan media digital dan sepenuhnya kembali ke media kertas?

Adalah Maryanne Wolf, seorang ibu dua anak sekaligus pakar neuorosains yang mendedikasikan hidupnya untuk melakukan penelitian tentang bagaimana otak manusia memproses kegiatan membaca. Dalam bukunya yang berjudul “Reader, Come Home” ia mengulas panjang bagaimana pengaruh media digital pada aktivitas membaca anak-anak yang lahir, tumbuh besar dan belajar membaca di era modern ini.

Ia berujar bahwa sebetulnya kita bukanlah dihadapkan pada pilihan biner, antara media digital versus media cetak. Menurutnya, mencoba kembali ke masa pradigital bukanlah solusi. Membiarkan diri hanyut dalam arus teknologi tanpa kesadaran kritis juga tak ubahnya menjerumuskan diri.

Maryanne menekankan, selama kita hidup di tengah masyarakat, kognisi individual kita senantiasa terkait dalam jejaring kognisi sosial. Walau misal kita secara pribadi memilih abstain dari media digital, kita tetap hidup di dalam lingkungan dengan gurita teknologi digital di mana-mana. Cara kita merasa, berpikir dan bertindak mau tidak mau akan terkena dampak juga.

Alhasil menurut Maryanne, alih-alih mengharamkan media digital, alternatif terbaik bagi orang tua adalah mendidik anak untuk menjadi biliterat. Dengan memperhatikan tahapan kematangan tumbuh kembangnya, anak perlu diberi bekal untuk mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing media, baik kertas maupun digital. Tujuan kita adalah menyiapkan anak yang kritis, mampu mandiri menentukan, kapan sebaiknya fokus pada media kertas, kapan media digital bisa dioptimalkan.

Membangun literasi kritis digital pada anak perlu dimulai dari perubahan paradigma kita sebagai orang tua. Sikap kritis akan lebih mudah dibangun apabila kita memahami bahwa teknologi bukanlah hal yang netral. Ia diciptakan oleh sosok manusia. Setiap manusia punya konteks sejarah, budaya, tatanan norma dan nilai yang melatarbelakanginya. Ketika teknologi terapan dibangun, selalu ada tujuan sosial yang ingin diakomodasi oleh sang perekayasa.

Ambillah contoh di awal revolusi industri ketika desain mesin-mesin pabrik banyak berukuran sepantaran tinggi anak-anak. Saat itu memang mempekerjakan anak dibawah umur masih bagian dari norma. Betapa mengerikannya jalan sejarah, apabila masyarakat tak memiliki kesadaran kritis, dan menerima begitu saja bahwa mempekerjakan anak di pabrik adalah mandat dari mesin. Cacat desain malah jadi argumen, bahwa memang hanya anaklah yang cocok untuk mengoperasikan mesin-mesin pabrik.

Begitu juga dengan teknologi digital. Kita harus mengurai satu persatu beban historis di baliknya. Tristan Harris, seorang desainer sekaligus kritikus teknologi menyatakan, desain media digital memang mengikuti mekanisme layaknya kerja mesin judi yang membajak sistem imbalan di otak. Menggulir layar, klik, like, semua itu membuat otak banjir dopamin. Muncullah rasa ketagihan yang membuat kita tak berhenti berjam‐jam menatap layar.

Teknologi digital berkembang di dalam iklim akumulasi ala korporasi. Mencipta profit lewat konsumerisme adalah tujuan. Perlu kita telisik, ketika seolah layanan tersedia gratis, kitalah yang sebenarnya jadi produk. Perhatian kitalah yang jadi mata uang dalam model bisnis attention economy seperti ini. Kualitas dan kredibilitas konten pun menempati prioritas kesekian saat klik dan like yang dijadikan raja. Rumus dasar di dunia maya: yang penting menjual. Sensasional, bombastis, menghipnotis.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua? Maryanne Wolf membagikan sarannya. Tips ini sebetulnya bukan berpatokan pada usia, tapi kesiapan masing-masing anak yang bisa berbeda-beda. Namun, untuk memudahkan khalayak ramai, ia membaginya jadi tiga jenjang usia.

Ia sepakat dengan anjuran ikatan dokter anak bahwa sampai usia dua tahun, idealnya, sebisa mungkin, memang tidak ada paparan media digital. Terlalu banyak mudharatnya.

Usia dua sampai lima tahun, baru mulai perlahan mengenalkan paparan media digital secara bertahap.

Usia sekitar lima sampai sepuluh tahun, orang tua bisa mulai serius berusaha menumbuhkan anak biliterat. Punya literasi “tradisional” yang kokoh, namun juga tak canggung, kritis berinteraksi dengan media digital.

Sayangnya memang, penelitian soal bagaimana otak anak memproses membaca di era digital ini kebanyakan masih prematur. Soal tumbuh kembang anak, butuh puluhan tahun untuk studi longitudinal yang kokoh. Efek suatu intervensi pada masa kanak-kanak harus juga diukur jangka panjang, apa yang terjadi ketika anak sudah dewasa. Sedang era gawai telepon pintar tablet dan semacamnya barulah marak dekade belakangan ini. Alhasil, banyak pakar berujar, sejauh ini memang tidak banyak resep buat orang tua yang sahih berbasis riset, yang bisa mereka bagikan.

Untungnya, ada satu resep sederhana yang disepakati manjur oleh para ahli. Pun sebetulnya bukanlah rahasia lagi. Kita semua sudah mafhum soal khasiatnya. Hanya memang, di tengah era distraksi ini, kadang jadi terlupa. Apa ya kira-kira resep yang dimaksud itu?

Ramuan manjur itu bernama membaca nyaring bersama anak. Membaca nyaring ini salah satu antidot terampuh bagi dampak negatif era distraksi. Ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa kesabaran kognitif bisa ditumbuhkan melalui rutinitas sesederhana membacakan buku buat anak.

Anak yang dibacakan buku akan terbiasa untuk sabar mendengarkan. Otaknya pun terbiasa untuk paham bahwa meretensi perhatian itu mendatangkan imbalan berupa hadirnya oksitosin. Rasa nyaman, kehangatan dari kebersamaan. Aspek afektif yang terlibat dalam interaksi orang tua-anak ini memiliki peran krusial.

Mendengarkan buku dibacakan nyaring itu sama sekali bukan aktivitas pasif. Cerita yang dibacakan tidaklah terjadi di halaman-halaman buku, bukan pula di lantunan suara sang ibu, namun dalam pengalaman esoterik di benak anak yang tercipta dari kombinasi semua elemen.

Mendengarkan orang tua membaca nyaring itu berarti anak berpartisipasi dalam menghidupkan cerita. Jauh dari kesan permukaan, membaca nyaring adalah cara mendalam penuh makna untuk berinteraksi aktif dengan teks.

Membaca nyaring adalah pintu gerbang awal untuk menuju deep reading. Tak hanya buat anak-anak, orang dewasa yang dibacakan nyaring pun tetap bisa merasakan khasiat serupa.

Membaca nyaring bisa jadi ritual sebelum tidur, bisa saat santai di siang hari. Bisa 15 menit, setengah jam, satu jam. Tak mengapa. Asalkan selalu diusahakan rutin, menjadi kebiasaan dan bagian dari budaya keluarga.

Buku yang dibaca bersama anak tentu bisa kisah apa saja. Tergantung minat, tergantung suasana hati. Asal layak untuk dikonsumsi. Namun, ada baiknya mulai memasukkan juga buku-buku anak yang menyelipkan kritik kritis terhadap dunia digital dalam katalog. Buku-buku yang bisa membantu menumbuhkan literasi kritis digital pada anak.

Apa saja contoh judul buku cerita anak yang bertema literasi kritis digital? Yang menggunakan kekuatan narasi ya, bukan hanya menyajikan daftar A sampai Z hal-hal yang boleh dan tak boleh dilakukan anak.

Dalam tulisan selanjutnya, saya berencana mengulas 12 judul buku anak berkualitas yang bisa jadi alternatif. Mudah‐mudahan kesampaian, ya. Nantikan! 😄